Pemerintah Provinsi DKI Jakarta terus mendorong pengembangan kawasan berorientasi transit atau Transit Oriented Development (TOD) sebagai salah satu solusi utama mengatasi kemacetan dan mendorong pergeseran mobilitas warga ke transportasi publik. Sejumlah proyek TOD baru dijadwalkan muncul di berbagai titik strategis Ibu Kota dalam beberapa tahun ke depan, menyusul meningkatnya kebutuhan hunian vertikal dan ruang komersial yang terintegrasi dengan jaringan angkutan umum.
Jakarta Dorong Kawasan Terintegrasi Transportasi Publik
Konsep TOD menempatkan kawasan hunian, perkantoran, dan pusat perbelanjaan dalam radius berjalan kaki dari simpul transportasi publik seperti stasiun MRT, LRT, dan TransJakarta. Pendekatan ini dinilai mampu menekan ketergantungan warga terhadap kendaraan pribadi sekaligus meningkatkan jumlah penumpang angkutan massal.
Pengembangan TOD di Jakarta tidak hanya dilakukan pemerintah daerah, tetapi juga melibatkan badan usaha milik negara, pengembang swasta, serta operator transportasi. Kolaborasi lintas sektor ini menjadi kunci percepatan pembangunan kawasan yang selama ini terkendala persoalan pembebasan lahan dan pembiayaan.
Lokasi Proyek TOD Baru di Jakarta
1. Kawasan Dukuh Atas
Dukuh Atas di Jakarta Pusat menjadi salah satu kawasan TOD paling matang. Kawasan ini menghubungkan Stasiun MRT Dukuh Atas BNI, Stasiun LRT Dukuh Atas, Halte TransJakarta, serta kereta bandara. Pengembangan tahap lanjutan mencakup penambahan ruang terbuka hijau, jalur pejalan kaki terpadu, dan bangunan campuran yang menempatkan kantor serta hunian dalam satu kawasan.
2. Blok M dan Lebak Bulus
Di Jakarta Selatan, kawasan Blok M dikembangkan sebagai simpul TOD yang terhubung dengan Stasiun MRT Blok M BCA dan terminal bus. Sementara itu, Lebak Bulus mengandalkan keberadaan Stasiun MRT Lebak Bulus Grab dan Terminal Lebak Bulus sebagai magnet aktivitas. Kedua kawasan ini diarahkan menjadi pusat pertumbuhan ekonomi baru di selatan Jakarta.
3. Fatmawati dan Cipete
Stasiun MRT Fatmawati dan Cipete Raya juga masuk dalam peta pengembangan TOD. Kawasan sekitar stasiun diproyeksikan menampung hunian vertikal dengan harga terjangkau bagi pekerja yang setiap hari menggunakan MRT. Penataan trotoar, halte, serta fasilitas parkir terpadu menjadi bagian dari rencana tersebut.
4. Kawasan Mangga Besar dan Sawah Besar
Di Jakarta Pusat bagian utara, Mangga Besar dan Sawah Besar disiapkan menjadi kawasan TOD yang terintegrasi dengan jaringan TransJakarta dan rencana pengembangan angkutan massal berbasis rel. Revitalisasi kawasan bersejarah ini diharapkan mampu mendorong pertumbuhan properti tanpa menghilangkan identitas lokal.
5. Pulo Gebang dan Jakarta Timur
Jakarta Timur memiliki potensi besar melalui kawasan Pulo Gebang yang memiliki terminal terpadu. Pengembangan TOD di sana diarahkan untuk melayani penumpang antarkota sekaligus mendorong tumbuhnya pusat aktivitas ekonomi baru di kawasan pinggiran.
6. Ancol dan Jakarta Utara
Kawasan Ancol dikembangkan sebagai TOD yang memadukan transportasi publik, wisata, dan hunian. Keberadaan jalur TransJakarta serta rencana perluasan jaringan angkutan massal menjadi dasar pengembangan kawasan ini sebagai pintu gerbang Jakarta bagian utara.
Tantangan dan Dampak Sosial
Meski menjanjikan, pengembangan TOD menghadapi sejumlah tantangan. Pembebasan lahan di kawasan padat penduduk kerap memicu persoalan sosial, termasuk relokasi warga dan pedagang kaki lima. Pemerintah daerah dituntut memastikan proses pembangunan berjalan transparan dan melibatkan masyarakat sekitar.
Selain itu, harga properti di kawasan TOD berpotensi naik tajam dan memicu gentrifikasi. Untuk mengantisipasi hal ini, sejumlah pengembang diminta menyediakan hunian dengan skema sewa serta unit terjangkau bagi kelompok berpenghasilan rendah.
Dari sisi infrastruktur, integrasi antarmoda menjadi pekerjaan rumah besar. Jalur pejalan kaki yang nyaman, jalur sepeda, serta fasilitas penyeberangan yang aman menjadi syarat agar konsep TOD benar-benar berfungsi, bukan sekadar membangun gedung tinggi di dekat stasiun.
Prospek ke Depan
Sejumlah pengamat transportasi menilai keberhasilan TOD di Jakarta akan sangat bergantung pada konsistensi kebijakan dan kepastian regulasi. Insentif bagi pengembang, kemudahan perizinan, serta koordinasi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi faktor penentu.
Jika berjalan sesuai rencana, kawasan-kawasan TOD baru di Jakarta berpotensi mengubah wajah Ibu Kota menjadi kota yang lebih terhubung, efisien, dan ramah bagi pengguna transportasi publik. Pemerintah Provinsi DKI Jakarta menargetkan pembangunan sejumlah simpul tersebut berjalan bertahap dalam beberapa tahun mendatang, seiring dengan perluasan jaringan MRT, LRT, dan TransJakarta.
Komentar (0)