30, 2026
Nasional

Kisah Bang Udin, Kena PHK hingga Sukses Punya Bakso Viral

Udin, yang di-PHK, membangun usaha bakso keliling di Jakarta. Dari viral di TikTok hingga omzet Rp5 juta, ia berbagi tips untuk pelaku UMKM.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Kisah Bang Udin, Kena PHK hingga Sukses Punya Bakso Viral

Nama Udin Suherman mungkin belum setenar pengusaha kuliner nasional lainnya. Namun di kawasan Cibubur, Jakarta Timur, pria 42 tahun ini dikenal sebagai pemilik Bakso Udin yang selalu ramai pembeli. Di balik sepiring bakso yang disajikan, tersimpan kisah panjang tentang kehilangan pekerjaan, jatuh bangun modal usaha, hingga akhirnya mampu bangkit dan mempekerjakan belasan karyawan.

Kehilangan Pekerjaan di Usia Kepala Empat

Udin bekerja sebagai operator produksi di sebuah pabrik garmen di kawasan Pulogadung selama hampir 12 tahun. Hidupnya terbilang mapan dengan penghasilan tetap setiap bulan. Semua berubah pada awal 2020 ketika pandemi Covid-19 melanda dan permintaan ekspor pakaian anjlok drastis. Perusahaan tempatnya bekerja melakukan efisiensi besar-besaran, dan Udin termasuk salah satu dari ratusan karyawan yang terkena pemutusan hubungan kerja atau PHK.

"Saat itu saya benar-benar tidak tahu harus berbuat apa. Anak masih sekolah, cicilan rumah masih jalan," ujar Udin mengenang masa sulit tersebut. Ia mengaku sempat menganggur selama hampir lima bulan. Tabungan yang tersisa digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Berbagai lamaran pekerjaan ia kirim, tetapi situasi pandemi membuat hampir semua perusahaan melakukan pembekuan rekrutmen.

Memulai Usaha Bakso dari Gerobak Kecil

Dorongan untuk bertahan hidup membuat Udin mencoba peruntungan di sektor kuliner. Ia memilih berjualan bakso karena modalnya relatif terjangkau dan permintaan pasar dianggap stabil. Dengan sisa tabungan sekitar Rp7 juta, ia membeli gerobak bekas, peralatan masak sederhana, serta bahan baku daging sapi dan mie.

Pada awalnya, Udin berkeliling menggunakan gerobak di kompleks perumahan tempat tinggalnya. Penjualan hari-hari pertama tidak mudah. Ia kerap pulang dengan dagangan yang masih tersisa banyak. Namun, Udin menolak menyerah. Ia mulai mempelajari selera pelanggan, memperbaiki resep kuah, dan menambah variasi seperti bakso urat, bakso telur, serta pangsit goreng.

"Saya catat setiap masukan dari pembeli. Kalau kuahnya kurang gurih, saya perbaiki. Kalau pentolnya kurang kenyal, saya ubah komposisi dagingnya," katanya.

Memanfaatkan Media Sosial hingga Viral

Titik balik usaha Udin terjadi pada pertengahan 2021. Seorang pelanggan merekam video saat ia sedang melayani pembeli dengan ramah dan mengunggahnya ke media sosial. Video itu menyebar cepat. Warganet penasaran dengan sosok penjual bakso yang dinilai tulus melayani. Dalam hitungan hari, gerobak Udin selalu dikerumuni pembeli, bahkan dari luar daerah.

Melihat peluang tersebut, Udin mulai serius membangun merek dagang. Ia memberi nama usahanya Bakso Udin, membuat akun media sosial resmi, serta menyediakan layanan pesan antar. Pada 2022, ia berhasil menyewa sebuah ruko kecil di Jalan Raya Cibubur sebagai tempat usaha tetap. Kini Bakso Udin memiliki 12 karyawan yang sebagian besar merupakan mantan rekan kerja yang juga terkena PHK.

Strategi Bertahan di Tengah Persaingan

Udin menyadari bahwa popularitas di media sosial tidak cukup untuk menjaga keberlangsungan usaha. Ia menerapkan sejumlah strategi, antara lain menjaga kualitas bahan baku, menetapkan harga yang terjangkau, dan memastikan pelayanan cepat. Ia juga rutin melakukan evaluasi mingguan bersama karyawan untuk membahas keluhan pelanggan.

"Viral itu hanya pintu masuk. Kalau rasanya tidak enak, pelanggan tidak akan kembali," ujarnya.

Selain itu, Udin mulai mengembangkan usaha dengan menyediakan paket frozen food agar pelanggan dapat menikmati baksonya di rumah. Ia juga menjalin kerja sama dengan beberapa aplikasi layanan pesan antar makanan untuk memperluas jangkauan pasar.

Dampak Sosial dan Rencana ke Depan

Keberhasilan Udin tidak hanya dirasakan keluarganya. Ia mempekerjakan warga sekitar dan mantan karyawan pabrik yang senasib dengannya. Beberapa di antaranya bahkan telah dipercaya mengelola cabang baru. Udin berencana membuka dua cabang tambahan di kawasan Depok dan Bekasi pada tahun ini.

Kisah Udin menjadi contoh nyata bahwa PHK bukan akhir dari segalanya. Dengan tekad, kemauan belajar, dan kepekaan terhadap kebutuhan pasar, seseorang dapat bangkit membangun usaha baru. Ia berpesan kepada mereka yang sedang menghadapi masa sulit agar tidak takut memulai usaha kecil-kecilan.

"Jangan malu mulai dari gerobak. Yang penting halal, jujur, dan terus belajar dari pelanggan," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter