Bakom RI Disebut Jadi Sasaran Serangan Kekuatan Asing Melalui Media Sosial
Kepala Badan Komunikasi Strategis (Bakom) RI, Muhammad Qodari, mengungkapkan bahwa institusi yang dipimpinnya menjadi target serangan dari kekuatan asing melalui media sosial. Ia membeberkan sejumlah bukti yang menunjukkan adanya upaya sistematis untuk menggempur kredibilitas lembaga tersebut di ruang digital.
Dalam paparannya, Qodari menjelaskan bahwa serangan tersebut tidak datang secara organik dari masyarakat, melainkan memperlihatkan pola dan koordinasi yang mengindikasikan keterlibatan aktor tertentu. Menurutnya, akun-akun yang melancarkan serangan kerap muncul bersamaan dengan narasi yang seragam, sebuah indikasi yang lazim ditemukan dalam operasi informasi terkoordinasi.
Ia menyebut bahwa Bakom RI memang memiliki mandat strategis dalam mengelola komunikasi publik, sehingga wajar bila menjadi incaran pihak-pihak yang berkepentingan melemahkan narasi pemerintah. Namun, ia menegaskan bahwa serangan tersebut justru memperkuat komitmen lembaganya untuk bekerja lebih transparan dan akuntabel.
Pola Serangan Terkoordinasi dan Bukti yang Dipaparkan
Qodari memaparkan sejumlah temuan yang menurutnya menguatkan dugaan adanya keterlibatan kekuatan asing. Pertama, lonjakan percakapan yang tidak wajar dalam waktu singkat di sejumlah platform media sosial. Kedua, penggunaan tagar dan narasi yang identik di banyak akun berbeda, termasuk akun-akun yang baru dibuat.
Ketiga, adanya pola penyebaran konten yang menyasar isu-isu sensitif, seperti dugaan penyalahgunaan anggaran, intervensi kebijakan, hingga tuduhan tanpa dasar yang diarahkan langsung kepada pimpinan Bakom RI. Qodari menilai pola semacam ini bukan kebetulan, melainkan bagian dari strategi untuk membangun persepsi negatif secara masif.
Ia juga menyoroti adanya indikasi keterkaitan antara akun-akun tersebut dengan jaringan di luar negeri. Meski demikian, ia tidak merinci identitas aktor asing yang dimaksud, dengan alasan bahwa pendalaman masih dilakukan bersama pihak-pihak berwenang.
Dampak terhadap Kepercayaan Publik
Menurut Qodari, tujuan utama dari serangan semacam ini adalah menggerus kepercayaan publik terhadap institusi negara. Jika narasi negatif dibiarkan menyebar tanpa penjelasan, masyarakat bisa terjebak pada asumsi yang tidak berdasar dan kehilangan rujukan informasi yang kredibel.
Ia mengingatkan bahwa media sosial memiliki karakteristik cepat, masif, tetapi sering kali minim verifikasi. Kondisi ini membuat ruang digital rentan dijadikan medan pertempuran informasi oleh pihak-pihak yang ingin memecah belah atau melemahkan institusi.
Karena itu, Bakom RI mengedepankan pendekatan komunikasi yang lebih terbuka, termasuk menyediakan data dan klarifikasi berbasis fakta. Qodari menekankan bahwa melawan disinformasi tidak cukup dengan membantah, tetapi juga dengan membangun literasi digital di tengah masyarakat.
Langkah Antisipasi dan Respons Institusi
Menghadapi situasi ini, Bakom RI menyiapkan sejumlah langkah antisipasi. Pertama, memperkuat pemantauan ruang digital untuk mendeteksi pola serangan sejak dini. Kedua, menjalin koordinasi dengan kementerian dan lembaga terkait, termasuk aparat penegak hukum, untuk menangani konten yang berpotensi melanggar aturan.
Ketiga, mendorong percepatan respons melalui kanal resmi agar informasi yang benar dapat menjangkau publik lebih cepat dibandingkan penyebaran hoaks. Qodari menilai kecepatan menjadi kunci dalam kontestasi narasi di media sosial.
Ia juga mengajak masyarakat untuk lebih kritis dalam menerima informasi, terutama yang menyasar institusi negara. Menurutnya, partisipasi publik dalam menyaring dan melaporkan konten mencurigakan akan sangat membantu upaya menjaga ruang digital yang sehat.
Serangan Informasi sebagai Tantangan Global
Qodari menempatkan fenomena ini sebagai bagian dari tantangan global yang dihadapi banyak negara. Operasi informasi bukan lagi sekadar persoalan domestik, melainkan bagian dari dinamika geopolitik yang memanfaatkan teknologi digital sebagai alat untuk mempengaruhi opini publik lintas batas.
Dalam konteks itu, ia menilai penting bagi Indonesia untuk memiliki ketahanan informasi yang kuat, mulai dari kesiapan institusi, kapasitas sumber daya manusia, hingga payung regulasi yang memadai. Tanpa itu, ruang digital berpotensi menjadi celah yang dapat dieksploitasi pihak lain.
Ia menegaskan bahwa Bakom RI tidak akan mundur menghadapi tekanan, dan akan terus menjalankan tugas komunikasi strategis sesuai koridor hukum. Menurutnya, transparansi dan keterbukaan adalah senjata utama untuk membantah narasi yang menyesatkan.
Sementara itu, publik diharapkan menunggu hasil pendalaman yang dilakukan pihak berwenang sebelum menarik kesimpulan. Qodari memastikan bahwa setiap temuan akan disampaikan secara bertahap dengan mengedepankan prinsip akuntabilitas dan kepentingan nasional.
Komentar (0)