Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat Republik Indonesia Bambang Soesatyo menegaskan posisi strategis Indonesia dalam peta persaingan global yang semakin dinamis. Menurutnya, Indonesia tidak boleh hanya menjadi penonton di tengah ketegangan geopolitik antara kekuatan-kekuatan besar dunia, melainkan harus tampil sebagai kekuatan penyeimbang yang mampu meredam ketegangan sekaligus memaksimalkan kepentingan nasional.
Posisi Strategis Indonesia dalam Pusaran Geopolitik
Dalam berbagai forum kenegaraan, Bambang Soesatyo yang akrab disapa Bamsoet ini berulang kali menekankan bahwa Indonesia memiliki modal historis dan diplomatik untuk memainkan peran tersebut. Politik luar negeri bebas aktif yang menjadi doktrin sejak era kemerdekaan dinilainya masih sangat relevan menghadapi lanskap internasional saat ini. Prinsip itu, kata dia, memungkinkan Indonesia menjalin hubungan dengan semua pihak tanpa harus terikat pada satu blok tertentu.
Modal tersebut, lanjutnya, diperkuat oleh posisi Indonesia sebagai negara dengan populasi terbesar keempat di dunia, anggota G20, serta kekuatan ekonomi terbesar di Asia Tenggara. Kombinasi faktor demografis, ekonomi, dan diplomatik ini menempatkan Indonesia pada posisi yang jarang dimiliki negara lain, yakni diperhitungkan oleh Washington, Beijing, dan Moskow sekaligus.
Bamsoet menilai persaingan antara Amerika Serikat dan Tiongkok telah menciptakan ketidakpastian di kawasan Indo-Pasifik. Ketegangan di Laut China Selatan, perlombaan teknologi, hingga perang tarif menjadi tantangan nyata bagi negara-negara ASEAN. Dalam situasi semacam itu, Indonesia dinilainya berpeluang besar menjadi penengah yang mampu menjaga stabilitas kawasan tanpa terjebak dalam permainan kekuatan besar.
Diplomasi Ekonomi dan Kepentingan Nasional
Lebih jauh, Bamsoet mengaitkan peran penyeimbang dengan upaya mempercepat pembangunan ekonomi domestik. Menurutnya, posisi netral yang aktif memungkinkan Indonesia menarik investasi dari berbagai negara, memperluas pasar ekspor, serta mengamankan pasokan energi dan teknologi. Ia mengingatkan bahwa ketergantungan pada satu sumber ekonomi atau teknologi tertentu dapat mempersempit ruang gerak Indonesia di masa depan.
Dalam konteks hilirisasi sumber daya alam, politikus senior Partai Golkar itu menilai Indonesia harus memanfaatkan posisinya untuk menegosiasikan kerja sama yang menguntungkan. Hilirisasi nikel, bauksit, dan komoditas lain dinilainya sebagai instrumen strategis untuk mendorong industrialisasi sekaligus meningkatkan nilai tambah di dalam negeri. Ia menekankan bahwa kebijakan itu memerlukan dukungan diplomatik agar tidak menghadapi hambatan dagang dari mitra-mitra utama.
Bamsoet juga menyoroti pentingnya penguatan kedaulatan maritim. Sebagai negara kepulauan, Indonesia memiliki jalur pelayaran strategis yang menjadi bagian dari kepentingan global. Pengelolaan Selat Malaka, Sunda, dan Lombok disebutnya membutuhkan kerja sama regional yang solid agar tidak menjadi ajang perebutan pengaruh negara-negara besar.
Peringatan tentang Fragmentasi Global
Dalam pandangannya, dunia saat ini sedang mengalami fragmentasi yang mendalam. Persaingan kekuatan besar tidak lagi sekadar militer, tetapi merambah teknologi, rantai pasok, energi, hingga ruang angkasa. Fragmentasi itu, kata Bamsoet, berpotensi memecah dunia menjadi blok-blok yang saling mencurigai dan menghambat kerja sama multilateral.
Ia mengingatkan bahwa ASEAN sebagai kawasan yang menjadi rumah bagi lebih dari 680 juta jiwa harus tetap bersatu menghadapi tekanan tersebut. Perpecahan di tubuh ASEAN hanya akan memperbesar peluang intervensi pihak luar dan memperlemah posisi tawar kawasan. Karena itu, Indonesia sebagai salah satu pendiri ASEAN dinilainya memiliki tanggung jawab untuk menjaga sentralitas organisasi tersebut.
Bamsoet juga menyoroti peran MPR dalam memberikan arah kebijakan strategis negara. Menurutnya, lembaga-lembaga negara perlu memiliki pemahaman yang sama tentang arah politik luar negeri agar tidak terjadi tumpang tindih kebijakan. Konsistensi antara eksekutif dan legislatif dinilainya penting agar pesan yang disampaikan Indonesia ke dunia internasional tetap utuh.
Tantangan Internal yang Harus Dibenahi
Namun demikian, Bamsoet tidak menutup mata pada berbagai persoalan domestik yang dapat menggerus kredibilitas Indonesia di mata dunia. Ia menyebut pentingnya stabilitas politik, kepastian hukum, serta pemberantasan korupsi sebagai prasyarat agar Indonesia dipercaya sebagai mitra strategis. Tanpa pembenahan internal, menurutnya, ambisi menjadi kekuatan penyeimbang hanya akan menjadi retorika tanpa makna.
Ia juga menekankan pentingnya peningkatan kapasitas pertahanan. Kekuatan diplomasi, katanya, harus diimbangi dengan kemampuan pertahanan yang memadai untuk menjaga kedaulatan wilayah, terutama di wilayah perbatasan dan perairan yang rawan sengketa. Modernisasi alat utama sistem persenjataan dinilainya sebagai kebutuhan yang tidak bisa ditunda, meski tetap harus memperhatikan kemampuan fiskal negara.
Dari sisi sumber daya manusia, Bamsoet mendorong penguatan pendidikan dan riset teknologi. Penguasaan teknologi, khususnya di bidang kecerdasan buatan, energi terbarukan, dan semikonduktor, dinilainya menjadi penentu apakah Indonesia benar-benar mampu menjadi kekuatan penyeimbang atau hanya menjadi pasar bagi produk negara lain.
Langkah Menuju Kekuatan Penyeimbang
Untuk mewujudkan visi tersebut, Bamsoet mendorong tiga langkah utama. Pertama, penguatan diplomasi ekonomi yang berpihak pada kepentingan nasional tanpa mengorbankan prinsip bebas aktif. Kedua, konsolidasi ASEAN dan kerja sama di kawasan Indo-Pasifik yang inklusif. Ketiga, percepatan transformasi domestik melalui reformasi birokrasi, penguatan industri, dan peningkatan kualitas SDM.
Ia menegaskan bahwa peran penyeimbang tidak berarti Indonesia bersikap pasif atau tidak memiliki pendirian. Sebaliknya, posisi itu menuntut keberanian untuk bersuara ketika prinsip kemanusiaan dan hukum internasional dilanggar, sekaligus kebijaksanaan untuk menjaga hubungan baik dengan semua pihak.
Dengan fondasi historis, posisi geografis, dan potensi ekonomi yang dimiliki, Indonesia dinilai Bamsoet memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pilar stabilitas dunia. Namun, semua itu bergantung pada kemampuan bangsa dalam menjaga persatuan, meningkatkan daya saing, dan mengelola kepentingan nasional di tengah arus persaingan global yang terus berubah.
Komentar (0)