Basarnas: 93 Korban KM Virgo Diduga Masih Terperangkap di Dalam Bangkai Kapal
Badan SAR Nasional (Basarnas) menduga sebanyak 93 korban kecelakaan KM Virgo masih berada di dalam bangkai kapal yang kini tenggelam di perairan Kepulauan Seribu, DKI Jakarta. Dugaan itu muncul setelah tim penyelam Basarnas melakukan penyisiran terhadap bagian lambung kapal yang berada di dasar laut, meskipun hingga kini jumlah korban yang berhasil ditemukan dan dievakuasi belum seluruhnya teridentifikasi.
Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Jakarta, Desiana Kartika Bahari, menyatakan bahwa pihaknya menerima informasi dari sejumlah penyintas yang menyebutkan banyak penumpang tidak sempat keluar dari dek kapal saat peristiwa terjadi. "Informasi dari para korban selamat menyebutkan bahwa mereka masih berada di dalam kapal saat kapal mulai dipenuhi air," kata Desiana dalam keterangan persnya di Jakarta, Rabu.
Menurut data sementara, KM Virgo mengangkut lebih dari 200 penumpang dan sejumlah awak ketika berlayar dari Pelabuhan Muara Angke menuju Pulau Tidung. Kapal dilaporkan mengalami kebocoran lalu terbalik dan tenggelam pada Minggu dini hari. Sejumlah 93 orang dilaporkan hilang dan diduga kuat masih berada di dalam badan kapal yang kini berada di kedalaman sekitar 30 hingga 40 meter.
Operasi Penyelaman dan Kendala di Lokasi
Basarnas mengerahkan puluhan penyelam dari berbagai unit, termasuk dari TNI Angkatan Laut dan Polri, untuk melakukan pencarian di dalam bangkai kapal. Namun, operasi penyelaman menghadapi kendala berupa arus bawah laut yang cukup kuat, visibilitas rendah, serta konstruksi kapal yang telah miring sehingga menyulitkan akses masuk ke ruang penumpang.
Koordinator Lapangan Basarnas, Hendra Sudirman, menjelaskan bahwa tim penyelam harus menggunakan peralatan khusus untuk membuka jalur masuk ke dalam dek kapal. "Kami telah memasang tali pandu dan melakukan pemotongan pada beberapa bagian lambung untuk mempermudah evakuasi. Namun, kondisi bangkai kapal yang labil membuat kami harus bekerja ekstra hati-hati," ujarnya.
Ia menambahkan bahwa pihaknya juga mengerahkan alat pendeteksi logam dan kamera bawah air untuk memetakan posisi korban di dalam kapal. Dari hasil pemindaian awal, tim mendeteksi sejumlah objek yang diduga merupakan tubuh manusia di ruang penumpang kelas ekonomi dan dek bawah.
Hingga berita ini diturunkan, Basarnas telah mengevakuasi 24 jenazah dari permukaan laut dan sekitar bangkai kapal. Sebanyak 89 penumpang berhasil diselamatkan, sementara 93 lainnya masih dalam pencarian. Angka tersebut masih dapat berubah seiring proses identifikasi dan pencocokan data manifest kapal.
Identifikasi Korban dan Pendampingan Keluarga
Tim Disaster Victim Identification (DVI) Polri melakukan proses identifikasi terhadap jenazah yang telah dievakuasi. Proses identifikasi dilakukan melalui pemeriksaan sidik jari, gigi, DNA, serta ciri-ciri fisik lainnya. Sejumlah jenazah telah diserahkan kepada keluarga setelah dinyatakan teridentifikasi secara ilmiah.
Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendirikan posko krisis di Pelabuhan Muara Angke dan Kantor Kelurahan Pulau Tidung untuk memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Dinas Sosial dan tim psikolog turut diterjunkan guna memberikan layanan konseling bagi keluarga yang menunggu kabar sanak saudara mereka.
"Kami memastikan seluruh keluarga korban mendapatkan informasi yang transparan dan pendampingan yang layak. Posko ini juga menyediakan layanan kesehatan dan kebutuhan dasar bagi para pengungsi," kata seorang petugas posko.
Penyelidikan Penyebab Kecelakaan
Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) telah mengirimkan tim untuk menyelidiki penyebab tenggelamnya KM Virgo. Investigasi difokuskan pada aspek kelaikan kapal, prosedur keselamatan, jumlah penumpang yang melebihi kapasitas, serta kondisi cuaca saat peristiwa terjadi.
Menteri Perhubungan menegaskan bahwa pihaknya akan menindak tegas operator kapal apabila terbukti melanggar aturan keselamatan pelayaran. "Kami akan melakukan evaluasi menyeluruh terhadap izin operasi dan standar keselamatan kapal penumpang di jalur wisata Kepulauan Seribu," ujarnya.
Sementara itu, sejumlah ahli keselamatan pelayaran menyoroti minimnya jumlah jaket pelampung dan alat pemadam kebakaran di dalam kapal. Mereka mendesak adanya audit rutin terhadap armada penumpang, terutama yang beroperasi di jalur padat wisata seperti Muara Angke–Kepulauan Seribu.
Basarnas memastikan operasi pencarian akan terus dilakukan hingga seluruh korban ditemukan. "Kami tidak akan menghentikan operasi sampai tidak ada lagi korban yang tersisa di dalam kapal. Ini komitmen kami," tegas Hendra Sudirman.
Komentar (0)