24, 2026
Teknologi

Bayi Surili Baru Lahir Terjebak di Pohon Saat Karhutla Gunung Ciremai

Petani selamatkan bayi surili terjebak kebakaran hutan di Gunung Ciremai. Petani berjuang memadamkan api untuk menyelamatkan primata endemik Jawa ini.]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bayi Surili Baru Lahir Terjebak di Pohon Saat Karhutla Gunung Ciremai

Bayi Surili Baru Lahir Terjebak di Pohon saat Karhutla Melanda Gunung Ciremai

Seorang bayi surili (Presbytis comata) yang baru lahir dilaporkan terjebak di atas pohon ketika kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Taman Nasional Gunung Ciremai. Peristiwa itu menjadi sorotan karena surili merupakan primata endemik Jawa Barat yang berstatus dilindungi dan populasinya terus menurun.

Informasi yang dihimpun menyebutkan, bayi surili tersebut berada dalam kelompok kecil yang hidup di salah satu blok hutan di lereng Gunung Ciremai. Ketika api menjalar ke tutupan vegetasi di bawahnya, induk surili bersama beberapa individu lain berupaya menyelamatkan diri ke pohon yang lebih tinggi. Bayi yang masih sangat muda itu tetap bergantung pada tubuh induknya, sementara asap tebal menyelimuti kanopi hutan dan membatasi ruang gerak kelompok tersebut.

Kondisi itu membuat tim gabungan pengendalian kebakaran harus bekerja hati-hati. Upaya pemadaman tidak hanya diarahkan untuk menghentikan perluasan api, tetapi juga mempertimbangkan keberadaan satwa liar di sekitar titik panas. Petugas di lapangan memilih metode pemadaman yang tidak menimbulkan guncangan besar di sekitar pohon tempat kelompok surili berlindung.

Kronologi dan Kondisi di Lokasi

Karhutla di kawasan Gunung Ciremai umumnya terjadi pada musim kemarau, ketika serasah dan dedaunan kering mudah terbakar. Api yang membakar lapisan bahan organik di permukaan tanah dapat merambat cepat, terutama bila didorong angin dan berada di medan yang miring.

Pada kejadian ini, titik api pertama kali terdeteksi di bagian lereng dengan akses yang cukup sulit. Tim pemadam harus menempuh jalur setapak dengan kemiringan tajam sebelum mencapai lokasi. Jarak dari permukiman terdekat cukup jauh, sehingga pasokan air dan peralatan pemadaman harus diangkut secara manual.

Asap yang mengepul dari bawah kanopi menjadi tantangan tersendiri. Selain mengganggu pernapasan petugas, asap membuat satwa di sekitar lokasi mengalami tekanan. Beberapa ekor surili terlihat bergerak ke arah pohon yang lebih tinggi dan menjauh dari sumber api, sementara bayi yang belum mampu berpindah sendiri tetap melekat pada induknya.

Upaya Penyelamatan Satwa

Tim gabungan yang terdiri atas petugas taman nasional, unsur penanggulangan bencana, aparat keamanan, dan relawan memprioritaskan dua hal sekaligus: memadamkan api dan memastikan satwa tidak mengalami cedera. Pendekatan yang dipakai adalah membuat sekat dan memadamkan bara di bagian bawah agar api tidak merambat ke pohon-pohon besar yang menjadi tempat berlindung satwa.

Pemantauan dilakukan setelah api berhasil dikendalikan. Petugas mengamati pergerakan kelompok surili untuk memastikan induk dan bayinya tidak mengalami luka bakar atau gangguan pernapasan. Pengamatan dilakukan dari jarak tertentu agar tidak menambah stres pada satwa.

Surili termasuk primata yang sensitif terhadap perubahan lingkungan. Suara bising, kepulan asap, dan hilangnya tutupan pohon dapat memicu perpindahan kelompok ke wilayah lain. Karena itu, tim lapangan membatasi aktivitas yang tidak perlu di sekitar lokasi dan mengutamakan pemantauan pasif.

Surili, Primata Endemik yang Terus Terancam

Surili atau yang juga dikenal sebagai lutung Jawa merupakan satwa endemik Pulau Jawa. Primata ini hidup di hutan dataran tinggi dan sangat bergantung pada ketersediaan tajuk pohon yang rapat. Keberadaannya sering dijadikan indikator kesehatan ekosistem hutan karena kelompok surili membutuhkan wilayah jelajah yang cukup luas dan pakan alami yang beragam.

Statusnya sebagai satwa dilindungi membuat segala bentuk perburuan, penangkapan, dan perdagangan menjadi pelanggaran hukum. Meski demikian, ancaman terhadap surili tidak hanya datang dari perburuan. Fragmentasi habitat, alih fungsi lahan, dan kebakaran hutan menjadi tekanan utama yang mempersempit ruang hidup satwa ini.

Kelahiran anak dalam sebuah kelompok merupakan tanda yang positif bagi upaya konservasi. Namun, kelahiran yang berlangsung di tengah kebakaran menunjukkan betapa rentannya satwa liar ketika habitatnya terganggu. Bayi yang baru lahir membutuhkan perlindungan penuh dari induk dan lingkungan yang stabil untuk bertahan hidup.

Faktor Penyebab Karhutla

Kebakaran di kawasan gunung umumnya berawal dari aktivitas manusia, seperti pembukaan lahan, pembakaran sampah, atau puntung rokok yang dibuang sembarangan. Kondisi vegetasi yang kering pada musim kemarau membuat percikan kecil dapat berkembang menjadi kebakaran luas dalam waktu singkat.

Selain faktor manusia, akumulasi bahan bakar alami berupa serasah dan ranting kering turut memperbesar risiko. Di medan berbukit, api dapat merambat melalui lapisan organik di bawah permukaan tanah dan bertahan lama meski permukaan sudah tampak padam.

Karena itu, proses pemadaman tidak berhenti setelah api di permukaan hilang. Petugas melakukan pendinginan dan penyisiran untuk memastikan tidak ada bara yang berpotensi menyala kembali. Operasi dilanjutkan dengan pemantauan beberapa hari setelahnya.

Harapan bagi Kelangsungan Populasi

Hingga laporan ini disusun, kondisi bayi surili dan induknya masih dalam pengamatan. Tim lapangan belum melaporkan adanya tanda-tanda cedera serius, namun pemantauan akan terus dilakukan untuk memastikan kelompok tersebut dapat kembali beraktivitas normal di tajuk hutan.

Peristiwa ini menambah daftar panjang persoalan konservasi di kawasan Gunung Ciremai. Penegakan aturan, pengawasan kawasan, dan keterlibatan masyarakat sekitar dinilai menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran pada musim kemarau berikutnya. Edukasi mengenai larangan membuka lahan dengan cara membakar juga disebut perlu terus digencarkan, terutama di desa-desa yang berbatasan langsung dengan hutan.

Bagi satwa seperti surili, kelestarian hutan bukan sekadar soal luas wilayah, melainkan juga kestabilan ekosistem di dalamnya. Kelahiran satu individu baru di tengah ancaman kebakaran menjadi pengingat bahwa perlindungan habitat harus berjalan beriringan dengan upaya pencegahan bencana.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter