Siklon Tropis Champi yang tumbuh di Samudra Pasifik bagian barat pada Oktober 2019 sempat menjadi perbincangan hangat di ruang publik Indonesia. Bukan karena dampak anginnya, melainkan karena beredar anggapan bahwa badai tropis tersebut "menyedot" asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang ketika itu menyelimuti sebagian Sumatra dan Kalimantan. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memberikan penjelasan ilmiah mengenai hal ini, dan menegaskan bahwa hubungan antara siklon tropis dan perpindahan asap tidak sesederhana yang dibayangkan banyak orang.
Klaim yang Beredar
Anggapan bahwa Champi menyedot asap karhutla muncul terutama di media sosial. Sejumlah unggahan menampilkan citra satelit yang memperlihatkan gumpalan asap di sekitar Sumatra dan Kalimantan seolah bergerak ke arah utara, menuju pusat pusaran siklon di Pasifik. Narasi yang berkembang kemudian menyimpulkan bahwa siklon tropis tersebut berperan sebagai "penyedot" asap raksasa yang membersihkan langit Indonesia. Kesimpulan itu diperkuat oleh kenyataan bahwa pada periode yang sama, kualitas udara di beberapa daerah memang sempat membaik.
Posisi Champi Jauh dari Indonesia
BMKG menjelaskan bahwa Siklon Tropis Champi terbentuk dan bergerak di Samudra Pasifik bagian barat, jauh dari wilayah Indonesia. Pusat siklon berada ribuan kilometer dari pusat-pusat karhutla di Sumatra dan Kalimantan. Jarak sejauh itu membuat pengaruh langsung siklon terhadap cuaca Indonesia sangat terbatas. Siklon tropis memang merupakan sistem tekanan rendah berukuran besar dengan angin yang berputar, tetapi jangkauan pengaruhnya tetap terbatas pada radius tertentu dan menurun seiring bertambahnya jarak.
Yang perlu dipahami, siklon tropis tidak bekerja seperti mesin penyedot debu yang menarik segala materi di sekitarnya, termasuk partikel asap, dari jarak ribuan kilometer. Siklon menggerakkan massa udara melalui pola tekanan dan angin, bukan menarik benda atau partikel secara langsung melintasi benua dan samudra.
Perubahan Pola Angin, Bukan Penyedotan
Penjelasan BMKG menekankan bahwa pengaruh siklon tropis terhadap wilayah Indonesia lebih bersifat tidak langsung. Keberadaan sistem tekanan rendah yang kuat di Pasifik dapat mengubah pola tekanan dan arah angin di kawasan sekitarnya, termasuk di bagian barat Indonesia. Perubahan itulah yang kemudian memengaruhi arah pergerakan massa udara, termasuk massa udara yang membawa asap.
Dengan kata lain, yang terjadi adalah pergeseran arah angin, bukan penyedotan asap oleh siklon. Ketika pola angin berubah, asap karhutla bisa terbawa ke arah yang berbeda dari sebelumnya, sehingga di suatu wilayah langit tampak lebih cerah. Namun, perubahan itu merupakan akibat dari dinamika angin regional, bukan bukti bahwa siklon menarik asap dari jarak jauh.
Bagaimana Asap Karhutla Bergerak di Atmosfer
Asap karhutla terdiri atas partikel halus dan gas yang sangat ringan. Partikel ini bergerak mengikuti aliran udara di lapisan atmosfer bawah, umumnya hingga ketinggian beberapa kilometer. Arah dan kecepatan pergerakannya ditentukan oleh angin pada lapisan tersebut, bukan oleh tarikan pusat siklon yang letaknya sangat jauh.
Karena itu, asap dapat menyebar ke wilayah lain, bahkan melintasi batas negara, ketika angin bertiup ke arah tertentu. Sebaliknya, asap juga bisa bertahan lebih lama di suatu daerah ketika angin lemah atau terjadi kondisi atmosfer yang stabil. Dalam kondisi demikian, polutan terperangkap di lapisan bawah dan tidak tersebar, sehingga konsentrasi asap di permukaan meningkat.
Faktor Cuaca yang Membuat Karhutla Meluas
BMKG juga mengingatkan bahwa kemunculan dan meluasnya karhutla lebih ditentukan oleh kondisi cuaca dan iklim lokal maupun regional. Musim kemarau yang lebih kering dari biasanya, curah hujan yang rendah, serta adanya gangguan iklim skala besar menjadi faktor utama yang membuat lahan mudah terbakar dan api cepat menyebar. Faktor-faktor inilah yang menjadi perhatian utama dalam analisis kebakaran lahan, bukan posisi siklon tropis yang jauh di Samudra Pasifik.
Selain itu, pembukaan lahan dengan cara membakar menjadi pemicu yang tidak bisa diabaikan. Tanpa sumber api, tidak akan ada asap, sekalipun kondisi atmosfer mendukung penyebarannya. Karena itu, penanganan karhutla menuntut upaya di hulu, yaitu pencegahan pembakaran lahan, disamping pemantauan cuaca dan operasi pemadaman.
Apa yang Bisa Disimpulkan
Berdasarkan penjelasan tersebut, klaim bahwa Siklon Champi menyedot asap karhutla tidak tepat secara meteorologis. Yang terjadi adalah perubahan pola angin akibat keberadaan sistem tekanan rendah berjarak jauh, yang kemudian memengaruhi arah pergerakan massa udara di sekitar Indonesia. Perubahan arah angin itu bisa membuat asap berpindah atau berkurang di suatu wilayah, tetapi bukan karena disedot oleh siklon.
BMKG mengimbau masyarakat untuk merujuk pada informasi resmi dan data pemantauan satelit ketika membahas persoalan cuaca dan kualitas udara. Pemahaman yang keliru tentang mekanisme atmosfer berpotensi menyesatkan, terutama ketika informasi itu beredar cepat di media sosial tanpa penjelasan yang memadai.
Komentar (0)