Kolong Flyover Kampung Melayu di Jatinegara, Jakarta Timur, tidak lagi hanya menjadi ruang kosong yang lekat dengan kesan kumuh dan rawan aktivitas negatif. Area di bawah jembatan layang yang membentang di atas Jalan Otto Iskandardinata itu kini difungsikan sebagai sasana tinju terbuka. Perubahan fungsi tersebut menjadi salah satu upaya mencegah tawuran antarremaja yang selama bertahun-tahun menjadi persoalan di kawasan padat tersebut.
Pantauan di lokasi menunjukkan sejumlah peralatan latihan ditempatkan di bawah kolong flyover. Terdapat ring tinju berukuran kecil, beberapa samsak gantung, matras, serta peralatan pendukung kebugaran lain. Area latihan dibatasi dengan susunan pagar dan diberi penerangan agar dapat digunakan pada sore hingga malam hari. Sebagian dinding dan tiang penyangga flyover dicat ulang sehingga memberi kesan lebih tertata dibandingkan kondisi sebelumnya.
Dari Ruang Kumuh Menjadi Ruang Latihan
Kawasan Kampung Melayu sejak lama dikenal sebagai salah satu titik yang kerap diwarnai bentrokan kelompok remaja. Selain itu, kolong flyover sebelumnya sering digunakan untuk aktivitas yang tidak tertib, mulai dari berjualan tanpa izin, parkir liar, hingga tempat berkumpul tanpa tujuan. Kondisi itu membuat warga merasa tidak aman, terutama pada malam hari.
Penataan kolong flyover menjadi sasana tinju dinilai menjadi langkah alternatif yang menyasar akar persoalan. Alih-alih hanya melakukan penertiban dan penggusuran, pendekatan yang dipilih adalah menyediakan ruang kegiatan yang positif bagi anak-anak dan remaja setempat. Dengan demikian, energi dan waktu mereka diarahkan pada latihan fisik yang terukur, disiplin, dan memiliki aturan jelas.
Pemilihan cabang tinju bukan tanpa alasan. Olahraga ini dinilai relatif mudah diakses, tidak membutuhkan lahan luas, dan dapat dilakukan secara berkelompok. Selain melatih kebugaran, tinju menekankan kedisiplinan, pengendalian diri, serta penghormatan terhadap lawan dan pelatih. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menekan budaya kekerasan yang selama ini muncul dalam bentuk tawuran.
Program Latihan dan Peserta
Sasana tinju di kolong flyover tersebut terbuka bagi warga, khususnya anak-anak dan remaja di lingkungan sekitar. Latihan umumnya digelar pada sore hari hingga menjelang malam, menyesuaikan waktu luang peserta yang sebagian masih bersekolah. Materi latihan dimulai dari pengenalan teknik dasar, seperti sikap kuda-kuda, pukulan jab dan straight, hingga latihan fisik berupa lari, lompat tali, dan latihan kekuatan.
Pendampingan dan Pengawasan
Kegiatan latihan dijalankan dengan pendampingan sejumlah pelatih dan pengurus. Selain mengajarkan teknik bertanding, pendampingan juga mencakup pengawasan agar latihan berjalan aman dan tidak berubah menjadi ajang perkelahian bebas. Peserta yang masih berusia anak diarahkan pada latihan dasar tanpa kontak fisik penuh, sementara remaja yang lebih matang dapat mengikuti sparring dengan pengawasan ketat.
Selain latihan rutin, sasana tersebut diarahkan menjadi pusat kegiatan sosial. Beberapa waktu tertentu dimanfaatkan untuk penyuluhan mengenai bahaya tawuran, narkoba, dan kenakalan remaja. Pendekatan ini melibatkan tokoh masyarakat, pengurus lingkungan, serta aparat setempat yang berperan menjaga keberlangsungan program.
Pencegahan Tawuran yang Berkelanjutan
Keberadaan sasana tinju di kolong flyover tidak serta-merta menghilangkan persoalan tawuran. Namun, kehadirannya memberi alternatif ruang bagi remaja untuk menyalurkan energi secara terkendali. Pengurus lingkungan menilai perubahan suasana mulai terasa, terutama pada jam-jam yang sebelumnya rawan menjadi titik berkumpul kelompok remaja.
Keberlanjutan program menjadi tantangan tersendiri. Perawatan peralatan, penyediaan penerangan, kebersihan area, serta ketersediaan pelatih membutuhkan dukungan berbagai pihak. Tanpa pengelolaan yang konsisten, ruang publik tersebut berisiko kembali terbengkalai dan dimanfaatkan untuk aktivitas yang tidak diinginkan.
Warga berharap penataan kolong flyover tidak berhenti pada satu titik. Kawasan lain yang memiliki persoalan serupa dinilai perlu mendapat perlakuan yang sama, dengan pendekatan yang menyesuaikan kebutuhan masyarakat setempat. Penyediaan ruang kegiatan, penerangan, serta pendampingan berkelanjutan dianggap lebih efektif dibandingkan tindakan represif semata.
Bagi peserta, sasana tinju di bawah flyover kini menjadi tempat yang akrab. Selain belajar teknik bertanding, mereka mendapatkan ruang untuk bertemu, berlatih bersama, dan menetapkan target, seperti mengikuti kejuaraan tingkat kecamatan maupun kota. Perubahan fungsi ruang publik itu menunjukkan bahwa penataan kawasan perkotaan dapat dirancang bukan hanya untuk memperbaiki tampilan, tetapi juga untuk menjawab persoalan sosial yang nyata di tengah masyarakat.
Komentar (0)