30, 2026
Teknologi

Bima Arya Wanti-Wanti soal e-Voting: Jangan Sampai Tukar Risiko Lama dengan Baru

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bima Arya Wanti-Wanti soal e-Voting: Jangan Sampai Tukar Risiko Lama dengan Baru

Gubernur Jawa Barat Bima Arya Sugiarto menegaskan bahwa implementasi sistem e-Voting dalam pemilihan umum tidak boleh dilakukan dengan terburu-buru. Menurutnya, setiap perubahan sistem yang fundamental dalam proses demokrasi seperti pemilu harus dipertimbangkan secara matang untuk menghindari potensi risiko yang lebih besar.

Dalam sebuah konferensi pers yang digunakan di Gedung Sate, Bandung, Kamis (15/6), Bima Arya menekankan bahwa meskipun teknologi terus berkembang, kepercayaan publik terhadap integritas proses pemilihan adalah prioritas utama. "Kita tidak boleh terburu-buru mengganti sistem yang sudah teruji dengan sistem baru yang belum pasti keandalannya," ujarnya.

Gubernur yang juga menjabat sebagai Ketua Umum Partai Garuda ini menjelaskan bahwa sistem pemilu saat ini menggunakan sistem manual yang sudah teruji selama bertahun-tahun. Meskipun memiliki tantangan tersendiri, sistem ini memiliki transparansi dan audit trail yang jelas yang dapat dipahami oleh semua pihak.

Keamanan dan Integritas Sistem

Bima Arya menyoroti isu keamanan sebagai salah satu pertimbangan utama dalam implementasi e-Voting. Menurutnya, sistem elektronik rentan terhadap berbagai ancaman siber seperti hacking, manipulasi data, dan serangan lainnya yang dapat merusak integritas pemilu.

"Sistem manual memiliki kelemahan, tetapi juga memiliki kekuatan dalam hal transparansi dan kemudahan audit. Di sisi lain, sistem elektronik mungkin menawarkan efisiensi, tetapi membawa risiko keamanan yang kompleks yang belum tentu dapat kita atasi dengan baik," jelasnya.

Ia menambahkan bahwa implementasi e-Voting membutuhkan infrastruktur teknologi yang canggih, sumber daya manusia yang terampil, dan regulasi yang komprehensif. Tanpa ketiga elemen ini, risiko kegagalan atau manipulasi menjadi sangat besar.

Tantangan Implementasi

Bima Arya menyebutkan bahwa tantangan utama dalam implementasi e-Voting tidak hanya terletak pada teknologi itu sendiri, tetapi juga pada persiapan manusia dan regulasi. Menurutnya, masyarakat perlu dididik dan dibekali pemahaman yang memadai tentang bagaimana sistem e-Voting bekerja.

"Kita tidak bisa menganggap semua masyarakat memiliki literasi digital yang sama. Ada bagian masyarakat yang masih kesulitan dengan teknologi sederhana. Bagaimana mereka akan percaya pada sistem yang kompleks seperti e-Voting?" tanyanya.

Selain itu, ia juga menyoroti isu aksesibilitas. Di daerah pedesaan atau terpencil yang belum memiliki infrastruktur internet yang memadai, implementasi e-Voting menjadi tidak praktis dan tidak adil.

Rekomendasi dan Langkah Selanjutnya

Bima Arya menyarankan untuk melakukan uji coba sistem e-Voting secara bertahap sebelum implementasi massal. Uji coba ini dapat dilakukan pada level pemilihan yang lebih kecil seperti pemilihan kepala desa atau pemilihan ketua RT/RW untuk mengidentifikasi potensi masalah.

"Implementasi perlu dilakukan secara bertahap dengan evaluasi yang ketat setiap tahapnya. Jika pada tahap uji coba sudah ditemukan kegagalan atau masalah serius, kita perlu berani menunda atau bahkan membatalkan implementasi," jelasnya.

Ia juga menekankan pentingnya melibatkan berbagai pihak dalam proses perencanaan, termasuk ahli keamanan siber, akademisi, dan masyarakat sipil. Dengan pendekatan partisipatif, diharapkan sistem yang dihasilkan akan lebih matang dan dapat diterima oleh semua pihak.

Ditanya tentang apakah ia menentang e-Voting secara keseluruhan, Bima Arya menegaskan bahwa ia tidak menolak kemajuan teknologi dalam proses demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa kecepatan tidak boleh mengorbankan keandalan dan integritas sistem.

"Saya bukanlah lawan teknologi. Saya adalah pendukung teknologi yang baik dan tepat sasar. Jika e-Voting terbukti aman, andal, dan dapat diterima oleh masyarakat, saya siap mendukungnya. Tapi saat ini, saya melihat terlalu banyak risiko yang belum teratasi," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter