04, 2026
Nasional

BlackBerry Passport Reinkarnasi Jadi HP Android, Tertarik Beli?

Zinwa Technologies menghidupkan kembali BlackBerry Passport. Ponsel itu disebut Zinwa P26 dan kini menjalankan Android 14.]]>

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BlackBerry Passport Reinkarnasi Jadi HP Android, Tertarik Beli?

BlackBerry Passport, ponsel ikonik yang pertama kali diperkenalkan pada 2014, kembali mencuri perhatian publik. Kali ini bukan karena BlackBerry sebagai produsen merilis ulang perangkat tersebut, melainkan karena sejumlah pihak mengembangkan konsep dan perangkat yang disebut-sebut sebagai "reinkarnasi" BlackBerry Passport dengan sistem operasi Android. Fenomena ini memunculkan pertanyaan menarik: apakah ini sekadar nostalgia, atau memang ada pasar nyata bagi ponsel dengan desain unik dan keyboard fisik di era yang didominasi layar sentuh penuh?

Mengenang Kejayaan BlackBerry Passport

BlackBerry Passport hadir dengan desain yang sangat tidak konvensional. Bentuknya persegi dengan sudut tajam, mengusung layar persegi berukuran 4,5 inci dengan resolusi 1440 x 1440 piksel. Rasio layar yang lebih lebar dari biasanya membuat perangkat ini terlihat seperti paspor—itulah asal nama yang melekat padanya. Di bagian bawah terdapat keyboard fisik QWERTY tiga baris yang legendaris, lengkap dengan fitur trackpad sentuh yang memungkinkan pengguna menggulir halaman tanpa harus menyentuh layar.

Dari sisi dapur pacu, BlackBerry Passport saat itu ditenagai prosesor Qualcomm Snapdragon 801, dipadukan dengan RAM 3 GB dan penyimpanan internal 32 GB yang bisa diperluas melalui microSD. Baterainya berkapasitas 3.450 mAh, yang pada masanya tergolong besar dan mampu bertahan hingga lebih dari sehari pemakaian normal. Perangkat ini menjalankan BlackBerry 10 OS, sistem operasi yang dikenal efisien untuk produktivitas, multitasking, dan keamanan data.

Meski secara teknis mumpuni, BlackBerry Passport tidak mampu menyelamatkan pangsa pasar BlackBerry yang terus tergerus oleh Android dan iOS. Perusahaan akhirnya beralih ke Android pada 2015 melalui BlackBerry Priv, lalu sepenuhnya meninggalkan bisnis perangkat keras pada 2016 dan melisensikan mereknya ke pihak lain. Sejak itu, nama BlackBerry di dunia ponsel hanya tinggal kenangan—sampai munculnya kembali wacana "reinkarnasi" ini.

Wujud Reinkarnasi Versi Android

Beberapa proyek dan konsep yang beredar di komunitas teknologi menggambarkan BlackBerry Passport dengan Android sebagai sistem operasinya. Ada yang berupa render desain konseptual, ada pula yang berupa perangkat fisik hasil modifikasi atau produksi terbatas dari pihak ketiga. Umumnya, perangkat ini mempertahankan elemen paling khas dari Passport: bodi persegi, layar hampir persegi, dan keyboard fisik QWERTY di bagian bawah.

Yang berubah adalah perangkat lunaknya. Android membuka akses ke jutaan aplikasi melalui Google Play Store, sesuatu yang tidak dimiliki BlackBerry 10 OS pada masa jayanya. Keterbatasan ekosistem aplikasi adalah salah satu alasan utama mengapa BlackBerry 10 gagal bersaing. Dengan Android, sebuah Passport "baru" secara teoretis bisa menawarkan pengalaman terbaik dari dua dunia: desain ikonik dan keyboard fisik yang dicintai pengguna setia BlackBerry, plus ekosistem aplikasi modern yang lengkap.

Secara spesifikasi, konsep-konsep yang beredar biasanya membayangkan peningkatan pada chipset, kamera, dan kapasitas baterai agar relevan dengan standar 2020-an. Namun perlu ditegaskan, hingga kini tidak ada konfirmasi resmi dari pemegang lisensi merek BlackBerry mengenai peluncuran massal perangkat semacam ini. Sebagian besar yang beredar adalah proyek komunitas, konsep desain, atau perangkat niche yang dijual dalam jumlah terbatas.

Mengapa Keyboard Fisik Masih Punya Penggemar?

Di tengah dominasi ponsel layar sentuh, keyboard fisik tetap memiliki penggemar fanatik. Alasannya beragam. Pertama, banyak pengguna merasa mengetik di keyboard fisik lebih akurat dan cepat, terutama untuk email panjang dan dokumen kerja. Kedua, keyboard fisik memberikan umpan balik taktil yang tidak bisa ditiru oleh keyboard virtual. Ketiga, ada faktor nostalgia dan identitas—bagi sebagian orang, BlackBerry adalah simbol era keemasan komunikasi mobile yang efisien dan profesional.

Sejumlah produsen niche masih mencoba menghidupkan segmen ini, misalnya lewat perangkat dengan keyboard fisik yang menjalankan Android. Namun, semuanya menghadapi tantangan yang sama: harga produksi lebih tinggi, ruang internal yang terbatas, dan pasar yang relatif kecil. Tidak heran jika perangkat semacam ini biasanya dijual dengan harga premium dan volume produksi terbatas.

Peluang dan Tantangan di Pasar Modern

Jika BlackBerry Passport versi Android benar-benar dirilis secara resmi dan massal, ada beberapa peluang yang bisa dimanfaatkan. Pasar profesional dan eksekutif yang merindukan perangkat produktif dengan keyboard fisik masih ada, meski tidak besar. Selain itu, gelombang nostalgia terhadap merek-merek teknologi lawas terbukti mampu mendorong penjualan, seperti yang terjadi pada beberapa ponsel "jadul" yang dirilis ulang dengan bentuk modern.

Namun tantangannya tidak ringan. Pasar ponsel global saat ini didominasi oleh perangkat layar besar tanpa bezel dengan rasio layar panjang. Aplikasi modern dirancang untuk layar persegi panjang, bukan layar persegi. Pengguna yang terbiasa dengan keyboard virtual mungkin enggan beradaptasi kembali ke keyboard fisik. Ditambah lagi, harga jual perangkat niche biasanya tinggi, sehingga hanya menyasar kalangan tertentu.

Apakah Layak Dibeli?

Bagi penggemar berat BlackBerry dan pengguna yang mengutamakan produktivitas mengetik, perangkat reinkarnasi ini jelas menggoda. Kombinasi desain ikonik, keyboard fisik, dan ekosistem Android menawarkan sesuatu yang tidak dimiliki ponsel mainstream mana pun saat ini. Namun bagi pengguna umum yang mencari ponsel serba bisa dengan harga bersaing, daya tariknya mungkin terbatas.

Keputusan untuk membeli pada akhirnya bergantung pada kebutuhan dan preferensi masing-masing. Yang jelas, munculnya kembali wacana BlackBerry Passport versi Android menunjukkan bahwa warisan desain dan filosofi BlackBerry masih hidup di hati sebagian pengguna. Apakah ini akan menjadi produk massal atau sekadar proyek nostalgia, waktu yang akan menjawab. Yang pasti, nama BlackBerry Passport masih cukup kuat untuk membuat publik teknologi menoleh dan bertanya: apakah Anda tertarik membelinya?

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter