04, 2026
Olahraga

3 Gelar Piala AFF Belum Puaskan Chanathip, Kini Incar Trofi FIFA ASEAN Cup!

Chanathip Songkrasin sudah mengoleksi tiga gelar Piala AFF bersama Thailand. Ia kini memburu trofi FIFA ASEAN Cup 2026 bersama Thailand.]]>

Taufik Syahputra
Taufik Syahputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

3 Gelar Piala AFF Belum Puaskan Chanathip, Kini Incar Trofi FIFA ASEAN Cup!

Bangkok - Gelandang tim nasional Thailand, Chanathip Songkrasin, mengaku belum merasa puas meski telah mengoleksi tiga gelar Piala AFF bersama Tim Gajah Perang. Ambisi baru kini membara di benaknya: membawa Thailand menjuarai turnamen yang baru saja berganti nama menjadi FIFA ASEAN Cup.

Pemain yang akrab disapa Jay itu menjadi salah satu aktor utama dominasi Thailand di pentas sepak bola Asia Tenggara selama satu dekade terakhir. Tiga trofi Piala AFF yang diraihnya menjadi bukti nyata kualitas seorang Chanathip di level regional. Namun, bagi pemain berusia 31 tahun tersebut, pencapaian itu justru menjadi pemicu untuk mengejar sesuatu yang lebih besar, terutama setelah turnamen bergengsi antarnegara ASEAN tersebut resmi berada di bawah naungan Federasi Sepak Bola Internasional (FIFA).

Dominasi Thailand dan Peran Sentral Chanathip

Chanathip pertama kali merasakan gelar Piala AFF pada edisi 2014. Saat itu, Thailand menundukkan Malaysia dengan agregat 4-1 pada partai final. Kesuksesan tersebut kemudian diulang pada edisi 2016, ketika Thailand kembali mengalahkan Indonesia di laga puncak. Gelar ketiga diraih pada edisi 2020, yang digelar pada 2021 akibat pandemi COVID-19, saat Thailand mengalahkan Indonesia dengan agregat telak 6-2.

Dalam ketiga kesuksesan itu, Chanathip bukan sekadar pelengkap. Ia kerap tampil sebagai motor serangan, pencetak gol penting, sekaligus pemimpin di ruang ganti. Kemampuan dribel, visi permainan, dan ketenangan dalam mengambil keputusan membuatnya lama dianggap sebagai salah satu pemain terbaik Asia Tenggara. Bahkan, kiprahnya di Liga Jepang bersama Consadole Sapporo dan Kawasaki Frontale semakin mengukuhkan reputasinya di kancah Asia.

Meski demikian, pemain kelahiran Samut Songkhram itu menegaskan bahwa gelar-gelar yang sudah diraih tidak boleh membuatnya berpuas diri. Sebaliknya, ia melihat perubahan status turnamen menjadi FIFA ASEAN Cup sebagai momentum untuk membuktikan bahwa Thailand mampu bersaing di level yang lebih tinggi.

Revolusi FIFA ASEAN Cup

Perubahan nama turnamen dari Piala AFF menjadi FIFA ASEAN Cup menandai babak baru sepak bola Asia Tenggara. FIFA resmi mengambil alih pengelolaan turnamen ini, sebuah langkah yang disambut positif oleh banyak pihak karena diyakini akan meningkatkan standar kompetisi, kualitas penyelenggaraan, hingga nilai komersial dan jangkauan siaran global.

Dengan keterlibatan FIFA, turnamen ini diprediksi akan mendapat perhatian lebih besar dari pencinta sepak bola dunia. Standar wasit, fasilitas, hingga protokol pertandingan diharapkan mengikuti regulasi internasional yang lebih ketat. Bagi para pemain, kesempatan tampil di turnamen berlabel FIFA menjadi nilai tambah tersendiri, karena dapat meningkatkan visibilitas mereka di mata klub-klub dan pencari bakat internasional.

Chanathip menyadari betul implikasi perubahan tersebut. Menjuarai FIFA ASEAN Cup bukan hanya soal mengangkat trofi, tetapi juga menorehkan sejarah sebagai juara pertama di era baru turnamen ini. Gelar itu akan memiliki bobot prestise yang berbeda dibandingkan gelar-gelar sebelumnya.

Tantangan yang Semakin Berat

Ambisi Chanathip tentu tidak akan berjalan mulus. Persaingan di Asia Tenggara dalam beberapa tahun terakhir semakin ketat. Vietnam di bawah pelatih Kim Sang-sik terus menunjukkan perkembangan pesat dan berhasil menjuarai Piala AFF 2024. Indonesia juga semakin solid dengan program pembinaan usia muda yang berjalan agresif. Sementara itu, Malaysia, Filipina, dan Singapura terus berbenah demi menantang dominasi Thailand.

Selain itu, faktor usia dan kebugaran menjadi tantangan tersendiri bagi Chanathip. Sejumlah cedera sempat mengganggu konsistensinya bersama tim nasional dalam beberapa tahun terakhir. Ia dituntut untuk menjaga kondisi fisik agar tetap menjadi andalan di lini tengah Thailand, terutama ketika turnamen digelar dengan jadwal padat dan intensitas tinggi.

Namun, mentalitas juara yang sudah tertanam kuat membuat Chanathip tetap optimistis. Ia menegaskan bahwa targetnya jelas: membawa Thailand kembali berdiri di podium tertinggi, kali ini di panggung yang dikelola langsung oleh FIFA. Bagi seorang pemain yang telah merasakan pahit-manisnya kompetisi regional, hasrat untuk menambah koleksi trofi tidak pernah pudar.

Warisan bagi Generasi Berikutnya

Lebih dari sekadar ambisi pribadi, misi Chanathip juga menyangkut warisan bagi generasi pemain Thailand berikutnya. Sepak bola Thailand tengah berada dalam fase transisi, dengan sejumlah pemain muda mulai menembus skuad utama. Kehadiran figur senior seperti Chanathip dianggap penting untuk menjaga standar kompetitif dan mental juara di dalam tim.

Jika Thailand berhasil menjuarai FIFA ASEAN Cup, pencapaian itu akan menjadi tonggak sejarah baru sekaligus pesan kuat bahwa dominasi Thailand belum berakhir. Sebaliknya, kegagalan akan menjadi pengingat bahwa kejayaan masa lalu tidak menjamin kesuksesan di masa depan.

Satu hal yang pasti, Chanathip tidak ingin berhenti di angka tiga gelar. Baginya, trofi FIFA ASEAN Cup adalah pembuktian pamungkas atas dedikasinya terhadap sepak bola Thailand. Publik Asia Tenggara pun menantikan apakah ambisi sang gelandang veteran mampu diterjemahkan menjadi kenyataan di lapangan hijau.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Taufik Syahputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter