30, 2026
Nasional

BNPP Evaluasi 29 Program Pemanfaatan Ruang di Wini, Baru 7 yang Terwujud

BNPP RI mengevaluasi 29 program pemanfaatan ruang di WP Wini, NTT, dengan capaian 33,6%. Perlu percepatan infrastruktur dan konektivitas untuk optimalisasi.]]>

Budi Gunawan
Budi Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BNPP Evaluasi 29 Program Pemanfaatan Ruang di Wini, Baru 7 yang Terwujud

Badan Nasional Pengelola Perbatasan (BNPP) menggelar evaluasi terhadap 29 program pemanfaatan ruang di kawasan Wini, Kabupaten Timor Tengah Utara, Nusa Tenggara Timur. Dari puluhan program yang direncanakan tersebut, baru tujuh program yang benar-benar terwujud di lapangan. Evaluasi ini menjadi sorotan karena menyangkut pengelolaan kawasan perbatasan yang selama ini menjadi prioritas pembangunan nasional.

Latar Belakang Evaluasi

Kawasan Wini merupakan salah satu wilayah perbatasan darat yang berbatasan langsung dengan Timor-Leste. Sebagai pintu gerbang lintas batas negara, Wini memiliki posisi strategis dalam kerangka pengelolaan kawasan perbatasan, baik dari sisi pertahanan, ekonomi, maupun pelayanan publik. Berbagai program pemanfaatan ruang telah dirancang untuk mempercepat pembangunan di kawasan tersebut, mencakup pembangunan infrastruktur, penataan kawasan, hingga pengembangan fasilitas pendukung aktivitas lintas batas.

Namun, pelaksanaan program-program tersebut tidak berjalan sesuai harapan. Dari 29 program yang masuk dalam daftar perencanaan, hanya tujuh program yang dapat direalisasikan. Angka ini menunjukkan bahwa sebagian besar rencana masih tertahan pada tahap perencanaan, pembahasan, atau menghadapi kendala teknis dan administratif di lapangan.

Temuan dalam Evaluasi

Evaluasi yang dilakukan BNPP menyoroti sejumlah persoalan mendasar dalam pelaksanaan program pemanfaatan ruang di Wini. Persoalan tersebut antara lain terkait dengan kesiapan lahan, status kepemilikan tanah, koordinasi antarinstansi, serta kesesuaian antara rencana tata ruang dan kondisi riil di lapangan.

Kendala Lahan dan Status Aset

Salah satu hambatan utama adalah status lahan yang belum sepenuhnya jelas. Sejumlah program tidak dapat dilanjutkan karena lahan yang direncanakan belum dibebaskan atau masih dalam sengketa kepemilikan. Kondisi ini menghambat proses pembangunan fisik dan memaksa sejumlah kegiatan tertunda dalam waktu yang tidak singkat.

Koordinasi Antarinstansi

Persoalan koordinasi juga menjadi catatan penting. Program pemanfaatan ruang di kawasan perbatasan melibatkan banyak pihak, mulai dari pemerintah pusat, pemerintah daerah, hingga instansi teknis terkait. Ketidaksinkronan jadwal, perbedaan prioritas, serta tumpang tindih kewenangan membuat pelaksanaan program menjadi lambat.

Kesesuaian Tata Ruang

Beberapa rencana kegiatan dinilai tidak sepenuhnya selaras dengan dokumen tata ruang yang berlaku. Akibatnya, program yang telah disusun harus melalui penyesuaian ulang, bahkan ada yang harus dihentikan karena tidak memenuhi ketentuan perencanaan wilayah.

Implikasi bagi Kawasan Perbatasan

Terhambatnya realisasi program di Wini berdampak langsung pada upaya pengembangan kawasan perbatasan sebagai wilayah yang maju, aman, dan berdaya saing. Kawasan perbatasan memiliki fungsi strategis, tidak hanya sebagai garis pemisah wilayah negara, tetapi juga sebagai wajah negara di mata negara tetangga. Keterbatasan fasilitas dan belum tuntasnya penataan ruang berpotensi mengurangi optimalisasi fungsi kawasan tersebut.

Dari sisi pelayanan publik, sejumlah fasilitas yang direncanakan semestinya dapat meningkatkan kualitas hidup masyarakat di sekitar Wini. Tertundanya pembangunan membuat masyarakat belum merasakan manfaat yang diharapkan, terutama dalam hal akses infrastruktur, layanan lintas batas, dan pengembangan aktivitas ekonomi lokal.

Selain itu, kawasan Wini memiliki peran penting dalam mendukung pos lintas batas negara. Kelancaran aktivitas di pos tersebut sangat bergantung pada kesiapan sarana dan prasarana pendukung. Jika program pemanfaatan ruang tidak segera direalisasikan, maka target peningkatan kualitas layanan di perbatasan akan sulit tercapai.

Langkah Tindak Lanjut

BNPP menekankan pentingnya percepatan penyelesaian persoalan yang menjadi penghambat. Evaluasi ini menjadi dasar untuk menata kembali strategi pelaksanaan program agar sisa program yang belum terwujud dapat segera dieksekusi. Beberapa langkah yang perlu ditempuh antara lain penuntasan status lahan, penguatan koordinasi lintas sektor, serta penyelarasan rencana kegiatan dengan dokumen tata ruang.

Pemerintah daerah Kabupaten Timor Tengah Utara diharapkan turut aktif dalam mendorong percepatan tersebut, termasuk dalam hal penyiapan lahan dan fasilitasi perizinan. Sinergi antara pemerintah pusat dan daerah menjadi kunci agar program pemanfaatan ruang tidak berhenti pada tataran konsep.

Selain itu, diperlukan mekanisme pemantauan yang lebih ketat agar setiap program memiliki target waktu yang jelas dan terukur. Dengan demikian, evaluasi tidak hanya berfungsi sebagai laporan, tetapi juga sebagai instrumen pengendalian pelaksanaan pembangunan di kawasan perbatasan.

Harapan ke Depan

Realisasi tujuh dari 29 program di Wini menjadi gambaran bahwa pengelolaan kawasan perbatasan masih menghadapi tantangan kompleks. Meski demikian, evaluasi ini membuka ruang perbaikan yang lebih terarah. Jika persoalan lahan, koordinasi, dan tata ruang dapat diselesaikan, sisa program yang belum terwujud berpeluang untuk dilaksanakan secara bertahap.

Keberhasilan pembangunan di Wini tidak hanya diukur dari jumlah program yang terealisasi, tetapi juga dari dampaknya bagi masyarakat dan kualitas pengelolaan kawasan perbatasan secara keseluruhan. Kawasan perbatasan yang tertata baik akan memperkuat kedaulatan negara, meningkatkan kesejahteraan warga, serta mempererat hubungan lintas batas dengan negara tetangga.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Gunawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter