Bobby Nasution Dorong Subsidi Angkutan Laut untuk Memperlancar Ekspor UMKM ke Malaysia
Ketua Badan Eksekutif Daerah (Badek) Partai NasDem Sumatera Utara, Bobby Nasution, mengusulkan pemerintah memberikan subsidi angkutan laut bagi Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) yang melakukan ekspor ke Malaysia. Hal ini dilakukan untuk meningkatkan daya saing produk UMKM Indonesia di pasar internasional, terutama di negara tetangga tersebut.
Menurut Bobby, akses transportasi yang terjangkau merupakan faktor krusial dalam menentukan keberlanjutan ekspor UMKM. Ia menyoroti bahwa biaya angkutan laut yang tinggi menjadi salah satu hambatan utama bagi pelaku UMKM untuk menembus pasar luar negeri.
Kendala Utama yang Dihadapi UMKM
Bobby menjelaskan bahwa banyak UMKM di Sumatera Utara yang memiliki produk unggulan dan berkualitas tinggi, namun kesulitan mengekspornya karena biaya logistik yang mahal. Khususnya untuk rute pelayaran ke Malaysia, biaya yang dikeluarkan seringkali tidak sebanding dengan nilai produk yang diekspor.
"Kita harus memastikan bahwa produk UMKM kita bisa bersaing di pasar internasional. Salah satu caranya adalah dengan menurunkan biaya logistik. Subsidi angkutan laut bisa menjadi solusi efektif untuk ini," ujar Bobby dalam keterangannya, Rabu (15/3).
Ia menambahkan bahwa Malaysia merupakan pasar potensial bagi produk UMKM Indonesia, terutama produk-produk kerajinan, makanan, dan minuman tradisional. Namun, akses yang terbatas dan biaya transportasi yang tinggi menjadi penghambat utama.
Proposal Subsidi yang Ditawarkan
Dalam usulannya, Bobby mengusulkan pemerintah pusat bersama pemerintah daerah bekerja sama dalam menyediakan anggaran subsidi bagi UMKM yang melakukan ekspor. Subsidi ini dapat diberikan dalam bentuk pemberian diskon pada tarif angkutan laut atau penyediaan fasilitas khusus untuk pengiriman barang ekspor.
"Kita bisa membentuk tim khusus yang akan mengevaluasi kelayakan UMKM untuk mendapatkan subsidi ini. Fokusnya adalah pada produk-produk yang memiliki potensi ekspor tinggi dan pasar yang jelas," jelas Bobby.
Ia juga menyarankan adanya kerjasama dengan perusahaan pelayaran nasional untuk menyediakan tarif khusus bagi pengusaha UMKM. Selain itu, fasilitas seperti terminal khusus UMKM di pelabuhan juga bisa dipertimbangkan untuk memperlancar proses ekspor.
Potensi Ekspor UMKM ke Malaysia
Menurut data yang dihimpun Bobby, nilai ekspor UMKM Indonesia ke Malaysia mencapai puluhan miliar rupiah setiap tahunnya. Namun, potensi ini belum maksimal dimanfaatkan karena berbagai kendala, termasuk biaya transportasi yang tinggi.
"Malaysia adalah pasar yang sangat potensial bagi produk UMKM kita. Masyarakat di sana menyukai produk kerajinan tangan, makanan khas, dan produk pertanian berkualitas tinggi dari Indonesia. Yang kita butuhkan adalah akses yang lebih mudah dan biaya yang terjangkau," ujarnya.
Bobby mencontohkan beberapa produk UMKM dari Sumatera Utara yang memiliki potensi besar di pasar Malaysia, seperti kerajinan anyaman, kain ulos, kopi Arabika, dan berbagai produk makanan olahan tradisional.
Reaksi dari Pelaku UMKM
Usulan Bobby mendapatkan respons positif dari berbagai pelaku UMKM. Dwi Handayani, sepengusaha UMKM makanan khas Medan, menyatakan bahwa subsidi angkutan laut akan sangat membantu usahanya.
"Saya sering mendapat pesanan dari Malaysia, tapi biaya kirimnya sangat mahal. Kadang-kadang untungnya habis untuk ongkos kirim. Jadi subsidi ini akan sangat membantu kami untuk memperluas pasar," ujar Dwi.
Sementara itu, Eka Sari, seorang pengrajin anyaman di Deli Serdang, berharap usulan ini segera direalisasi. Menurutnya, biaya angkutan laut yang tinggi sering kali membuatnya kehilangan peluang bisnis.
Langkah-Langkah Selanjutnya
Bobby menyatakan bahwa usulan ini akan diajukan kepada pemerintah pusat melalui berbagai kanal. Ia juga berencana membentuk kelompok kerja (pokja) yang akan mendalami potensi dan kendala ekspor UMKM ke Malaysia.
"Kita akan kumpulkan data yang komprehensif tentang potensi ekspor UMKM ke Malaysia, kendala yang dihadapi, dan solusi yang tepat. Setelah itu, kita akan susun proposal yang konkret untuk disampaikan ke pemerintah pusat," jelasnya.
Ia juga mengajak seluruh pemangku kepentingan, termasuk asosiasi UMKM, perusahaan pelayaran, dan pemerintah daerah untuk bersama-sama mendorong program ini.
Target Jangka Pendek dan Panjang
Bobby menargetkan dalam jangka pendek, subsidi angkutan laut bisa direalisasi dalam waktu 6 bulan ke depan. Ia berharap minimal 50 UMKM di Sumatera Utara dapat merasakan manfaat program ini dalam tahun pertama pelaksanaan.
"Untuk jangka panjang, kita ingin menciptakan ekosistem yang kondusif bagi UMKM untuk menembus pasar internasional. Subsidi ini hanya langkah awal. Kita juga perlu memperhatikan aspek perizinan, branding produk, dan promosi," ujarnya.
Dengan adanya usulan ini, Bobby berharap dapat meningkatkan kontribusi UMKM terhadap perekonomian nasional, khususnya dalam meningkatkan devisa dari sektor ekspor.
Komentar (0)