28, 2026
Teknologi

BRIN Beberkan Potensi Limbah Sawit Jadi Energi Listrik Hingga 3,9 Gigawatt

BRIN mengungkap potensi limbah sawit (POME) sebagai sumber energi listrik hingga 3,9 GW. Yang dapat mengurangi dampak lingkungan.]]>

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BRIN Beberkan Potensi Limbah Sawit Jadi Energi Listrik Hingga 3,9 Gigawatt

BRIN Ungkap Potensi Limbah Sawit Sebagai Sumber Energi Listrik Hingga 3,9 Gigawatt

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengungkapkan bahwa limbah sawit di Indonesia memiliki potensi besar untuk dikonversi menjadi energi listrik. Menurut data yang dirilis, potensi ini mampu menghasilkan hingga 3,9 gigawatt (GW) listrik, yang setara dengan memenuhi kebutuhan listrik bagi jutaan rumah tangga di seluruh Indonesia.

Kepala Pusat Energi BRIN, Dr. Ir. Joko Prasetio, menjelaskan bahwa limbah sawit seperti tandan buah segar (TBS), serabut kelapa sawit (PKS), dan ampas kelapa sawit (EFB) dapat dimanfaatkan sebagai bahan bakar pembangkit listrik tenaga uap (PLTU). "Indonesia sebagai produsen minyak sawit terbesar dunia memiliki limbah sawit yang melimpah. Dengan teknologi yang tepat, limbah ini bisa menjadi solusi untuk mengatasi krisis energi sekaligus mengurangi dampak lingkungan," ujar Joko dalam konferensi pers yang diselenggarakan beberapa waktu lalu.

Potensi Energi dari Limbah Sawit

Data BRIN menunjukkan bahwa Indonesia menghasilkan sekitar 145 juta ton tandan buah segar (TBS) per tahun. Dari jumlah ini, sekitar 23 juta ton berupa tandan buang (empty fruit bunch/EFB), 35 juta ton serabut kelapa sawit (palm kernel shell/PKS), dan 11 juta ton ampas kelapa sawit (palm fiber). Ketiga jenis limbah ini memiliki nilai kalori tinggi dan cocok digunakan sebagai bahan bakar alternatif.

"PKS memiliki nilai kalori sekitar 4.200-4.500 kcal/kg, sedangkan EFB dan ampas sawit memiliki nilai kalori sekitar 3.800-4.200 kcal/kg. Nilai ini cukup tinggi untuk digunakan sebagai bahan bakar pembangkit listrik," tambah Dr. Ir. Siti Aminah, M.Si., peneliti senior dari BRIN yang mendalami energi terbarukan.

Menurut Siti, dengan asumsi efisiensi konversi 20%, limbah sawit yang dihasilkan setiap tahun mampu menghasilkan listrik hingga 3,9 GW. "Jika semua limbah sawit dimanfaatkan secara optimal, potensinya bisa mencapai angka itu. Bahkan, jika dikombinasikan dengan teknologi gasifikasi, efisiensinya bisa lebih tinggi lagi," jelasnya.

Teknologi yang Digunakan

BRIN telah mengembangkan beberapa teknologi konversi limbah sawit menjadi energi. Salah satunya adalah teknologi gasifikasi yang mengubah limbah menjadi gas syngas (gas sintetis) yang kemudian dapat digunakan untuk menggerakkan turbin pembangkit listrik. Selain itu, teknologi pirolisis juga dikembangkan untuk menghasilkan bio-oil yang dapat digunakan sebagai bahan bakar pengganti minyak bumi.

"Kita juga sedang mengembangkan teknologi co-firing, yaitu pencampuran batubara dengan limbah sawit sebagai bahan bakar PLTU. Teknologi ini relatif mudah diimplementasikan karena hanya memerlukan modifikasi pada sistem pembakaran yang ada," terang Joko.

Salah satu contoh implementasi teknologi ini adalah PLTU di Riau yang menggunakan PKS sebagai bahan bakar campuran. "PLTU tersebut mampu menghasilkan 30 MW listrik dengan 30% bahan bakar dari PKS. Ini membuktikan bahwa teknologi ini sudah teruji dan siap dikembangkan secara lebih luas," tambahnya.

Dampak Positif bagi Energi dan Lingkungan

Pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi memiliki dampak positif ganda. Pertama, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil seperti batubara yang semakin langka dan berdampak buruk terhadap lingkungan. Kedua, mengatasi masalah limbah sawit yang sering menjadi sumber polusi lingkungan.

"Dengan memanfaatkan limbah sawit, kita tidak hanya menghasilkan energi bersih tetapi juga mengurusi masalah limbah industri kelapa sawit. Ini sesuai dengan konsep ekonomi sirkular di mana limbah menjadi sumber daya baru," ujar Dr. Ir. Budi Wiseso, M.Sc., ahli lingkungan dari BRIN.

Menurut Budi, pemanfaatan limbah sawit juga dapat mengurangi emisi gas rumah kaca. "Setiap gigawatt listrik yang dihasilkan dari limbah sawit dapat mengurangi emisi CO2 sekitar 1,5 juta ton per tahun dibandingkan dengan menggunakan batubara. Ini sangat signifikan bagi upaya Indonesia mencapai netral karbon pada 2060," jelasnya.

Tantangan dan Solusi

Meskipun potensinya besar, ada beberapa tantangan dalam pemanfaatan limbah sawit sebagai sumber energi. Salah satunya adalah masalah distribusi limbah yang tidak merata di seluruh Indonesia. "Kawasan perkebunan sawit terkonsentrasi di Sumatra dan Kalimantan, sedangkan kebutuhan energi listrik ada di seluruh Indonesia. Ini membutuhkan infrastruktur yang memadai untuk mengatasi masalah distribusi," kata Joko.

Solusi yang ditawarkan BRIN adalah dengan membangun pembangkit listrik skala kecil yang dekat dengan sumber limbah. "Kita mendorong pembangunan pembangkit listrik skala kecil atau microgrid di kawasan perkebunan yang dapat memanfaatkan limbah secara langsung. Listrik yang dihasilkan dapat digunakan untuk kebutuhan perkebunan dan masyarakat sekitar," tambah Siti.

Selain itu, BRIN juga sedang mengembangkan teknologi pengolahan limbah sawit menjadi bahan bakar padat yang lebih mudah diangkut dan disimpan. "Teknologi ini akan memudahkan distribusi limbah sawit ke pembangkit listrik yang berada di lokasi jauh dari kawasan perkebunan," jelas Budi.

Visi Masa Depan

BRIN memiliki visi untuk menjadikan limbah sawit sebagai salah satu pilar energi terbarukan di Indonesia. "Kita berencana untuk meningkatkan kontribusi limbah sawit dalam mix energi nasional dari saat ini sekitar 0,5 GW menjadi 5 GW pada tahun 2030. Ini akan membantu Indonesia mencapai target energi terbarukan 23% pada 2025 dan 31% pada 2050," ujar Joko.

Untuk mewujudkan visi ini, BRIN bekerja sama dengan pemerintah, perusahaan swasta, dan lembaga penelitian lainnya. "Kita sedang merumuskan kebijakan yang mendukung pemanfaatan limbah sawit, termasuk insentif fiskal bagi perusahaan yang membangun pembangkit listrik dari limbah sawit. Selain itu, kita juga mengembangkan standar teknis dan lingkungan untuk memastikan pemanfaatannya berkelanjutan dan aman," tambah Siti.

Dengan potensi yang dimilikinya, limbah sawit diharapkan dapat menjadi solusi bagi masalah energi dan lingkungan di Indonesia. "Kita memiliki sumber daya alam yang melimpah. Yang kita butuhkan adalah teknologi yang tepat dan kebijangan yang mendukung untuk mengubah limbah menjadi kekayaan baru," pungkas Budi.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter