30, 2026
Teknologi

BRIN Bicara Soal Data Center di Jatiluhur dan Potensi Kekeringan

Rencana pembangunan pusat data AI di Jatiluhur mengundang perdebatan. Pusat Riset Limnologi dan Sumber Daya Air BRIN menegaskan perlunya kajian serius.]]>

Nadia Santoso
Nadia Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

BRIN Bicara Soal Data Center di Jatiluhur dan Potensi Kekeringan

BRIN Soroti Kesiapan Data Center Jatiluhur di Tengah Ancaman Kekeringan

Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) menyoroti keberadaan pusat data atau data center yang berlokasi di kawasan Waduk Jatiluhur, Purwakarta, Jawa Barat, dikaitkan dengan potensi kekeringan yang dapat memengaruhi pasokan listrik dan air pendingin. Sorotan ini muncul sebagai respons terhadap kekhawatiran publik mengenai ketahanan infrastruktur digital strategis di tengah perubahan iklim yang semakin tidak menentu.

Waduk Jatiluhur merupakan salah satu waduk terbesar di Indonesia dengan kapasitas tampung mencapai sekitar 3 miliar meter kubik. Selain berfungsi sebagai sumber air baku, irigasi, dan pengendalian banjir, waduk ini juga menopang Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Jatiluhur dengan kapasitas terpasang sekitar 186,5 megawatt. Keberadaan PLTA tersebut menjadi salah satu pertimbangan utama dalam penempatan infrastruktur pusat data berdaya besar di sekitar kawasan itu.

Ketergantungan Data Center pada Pasokan Air dan Listrik

Dalam berbagai keterangan, peneliti BRIN menegaskan bahwa pusat data merupakan fasilitas yang sangat bergantung pada dua hal utama, yakni pasokan listrik yang stabil dan ketersediaan air untuk sistem pendinginan. Kedua kebutuhan tersebut saling berkaitan langsung dengan kondisi hidrologi Waduk Jatiluhur yang dipengaruhi oleh curah hujan dan pola musim di daerah tangkapan airnya.

Pusat data modern umumnya menggunakan sistem pendingin berbasis air atau kombinasi air dan udara untuk menjaga suhu perangkat server tetap dalam ambang aman. Konsumsi air sebuah pusat data berskala besar dapat mencapai ribuan liter per hari, tergantung pada kapasitas dan teknologi pendinginan yang digunakan. Ketika debit air waduk menurun akibat kemarau panjang, pasokan untuk kebutuhan pendinginan berpotensi terganggu.

Di sisi lain, PLTA Jatiluhur mengandalkan tinggi jatuh air dan volume aliran yang memadai untuk memproduksi listrik. Penurunan muka air waduk secara signifikan dapat menekan kemampuan pembangkit dalam memasok energi, sehingga pasokan listrik ke kawasan industri dan permukiman di sekitarnya, termasuk fasilitas pusat data, turut terdampak.

Risiko Kekeringan dan Perubahan Iklim

BRIN menilai risiko kekeringan bukan lagi ancaman hipotetis. Berdasarkan data iklim, wilayah Jawa Barat mengalami pergeseran pola musim dengan musim kemarau yang cenderung lebih panjang dan curah hujan yang tidak merata. Pada periode El Nino, penurunan curah hujan dapat mencapai puluhan persen dibandingkan kondisi normal, yang berimplikasi pada menurunnya inflow ke Waduk Jatiluhur.

Peneliti mengingatkan bahwa pengelolaan waduk bersifat multi-sektor. Air dari Jatiluhur tidak hanya digunakan untuk pembangkit listrik, tetapi juga untuk irigasi lahan pertanian di kawasan Pantura Jawa Barat, pasokan air baku bagi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM), perikanan, serta kebutuhan industri. Ketika volume air menurun, terjadi kompetisi kepentingan antar-pengguna yang berpotensi menimbulkan konflik alokasi.

Dalam konteks itu, keberadaan pusat data menambah satu lagi pengguna air dan listrik yang harus diperhitungkan dalam neraca air waduk. BRIN mendorong adanya kajian daya dukung lingkungan yang komprehensif sebelum kapasitas pusat data di kawasan tersebut diperluas.

Dorongan Tata Kelola dan Mitigasi

BRIN merekomendasikan sejumlah langkah mitigasi, antara lain penerapan teknologi pendinginan hemat air, pemanfaatan sumber energi terbarukan di luar PLTA, serta sistem monitoring debit air dan cuaca secara real time. Teknologi pendinginan cair imersi dan pemanfaatan udara luar pada kondisi iklim tertentu dinilai dapat menekan konsumsi air secara signifikan.

Selain itu, pengelola kawasan diharapkan menyusun rencana kontingensi menghadapi skenario kekeringan ekstrem, termasuk penjadwalan operasional dan sumber listrik cadangan. Koordinasi antara pemerintah daerah, pengelola waduk, PLN, dan operator pusat data dinilai krusial agar layanan digital tetap berjalan tanpa mengorbankan kebutuhan air masyarakat.

BRIN juga menekankan pentingnya riset berkelanjutan mengenai neraca air Waduk Jatiluhur, termasuk pemodelan dampak perubahan iklim jangka panjang. Data ilmiah yang akurat menjadi dasar pengambilan kebijakan agar pembangunan infrastruktur digital tidak menimbulkan beban lingkungan yang tidak terkendali.

Keseimbangan antara Digitalisasi dan Ketahanan Air

Pengembangan pusat data nasional memang menjadi kebutuhan mendesak seiring pertumbuhan ekonomi digital, termasuk layanan pemerintahan berbasis elektronik dan industri teknologi finansial. Namun, BRIN mengingatkan bahwa pembangunan tersebut harus memperhatikan daya dukung sumber daya alam setempat agar tidak menciptakan kerentanan baru.

Dengan posisi strategis Waduk Jatiluhur sebagai tulang punggung pasokan air dan listrik di Jawa Barat, pengelolaan terpadu menjadi kata kunci. Keseimbangan antara percepatan transformasi digital dan ketahanan sumber daya air akan menentukan keberlanjutan infrastruktur pusat data di kawasan itu dalam jangka panjang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Santoso

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter