Di tengah narasi yang sering kali menempatkan generasi muda sebagai kelompok konsumtif dan gemar menghabiskan uang untuk gaya hidup, seorang pria berusia 24 tahun membuktikan sebaliknya. Bukan anak pengusaha, bukan pewaris konglomerasi, dan bukan pula pemilik gelar "anak sultan", ia berhasil mengumpulkan tabungan senilai Rp1,8 miliar sebelum menginjak usia seperempat abad. Kisahnya menjadi perbincangan luas karena dianggap membantah anggapan bahwa kekayaan besar hanya mungkin diraih lewat warisan atau keberuntungan sejak lahir.
Pria yang tinggal di kawasan perkotaan itu mengaku berasal dari keluarga kelas menengah biasa. Ayahnya seorang pegawai swasta, ibunya ibu rumah tangga yang sesekali berjualan kue. Latar belakang itu membuatnya tumbuh dengan pemahaman sederhana soal uang: tidak ada dana darurat yang bisa diandalkan, sehingga ia harus menciptakan sendiri keamanan finansialnya. Sejak duduk di bangku SMA, ia mulai mencatat setiap pengeluaran, bahkan hingga harga permen yang ia beli. Kebiasaan kecil itu ternyata menjadi fondasi kebiasaan besar yang membentuk pola pikirnya terhadap uang.
Awal Mula Jejak Menabung Sejak Remaja
Kebiasaan menabung dimulai ketika ia duduk di kelas dua SMA. Uang saku sebesar Rp15 ribu per hari ia sisihkan sekitar Rp5 ribu. Tidak ada target muluk-muluk saat itu. Tujuannya semata agar ia tidak perlu meminta uang tambahan kepada orang tua. Dari kebiasaan kecil itu, ia belajar disiplin dan menahan diri dari keinginan impulsif. Ia menyebut masa remaja sebagai periode paling menentukan karena di situlah kebiasaan finansial terbentuk, jauh sebelum penghasilan besar datang.
Saat berkuliah, ia mengambil jurusan yang berkaitan dengan teknologi informasi. Ia memilih jalur itu bukan karena mengikuti tren, tetapi karena melihat peluang kerja yang luas dan bisa dijalankan secara mandiri. Selama kuliah, ia mulai menerima pekerjaan lepas, mulai dari memperbaiki laptop, mengelola media sosial UMKM, hingga menjadi asisten virtual untuk klien luar negeri. Penghasilan pertama dari pekerjaan lepas itu tidak ia gunakan untuk membeli gawai baru atau liburan, melainkan disimpan dalam rekening terpisah yang sengaja tidak dilengkapi kartu ATM agar sulit diakses.
Strategi Keuangan yang Membuat Tabungan Cepat Bertumbuh
Ada beberapa prinsip yang ia pegang teguh hingga kini. Pertama, ia menerapkan aturan alokasi penghasilan: 50 persen untuk kebutuhan, 30 persen untuk investasi, dan 20 persen untuk dana darurat. Ketika penghasilannya meningkat, ia tidak menaikkan gaya hidup secara proporsional. Ia tetap menggunakan transportasi umum, memilih kos sederhana, dan memasak sendiri ketimbang memesan makanan daring setiap hari. Selisih antara kenaikan penghasilan dan pengeluaran tetap itulah yang kemudian menjadi mesin utama pertumbuhan tabungannya.
Kedua, ia membangun beberapa sumber penghasilan. Selain pekerjaan utama sebagai pengembang perangkat lunak, ia mengelola kanal konten digital yang membahas literasi keuangan, menerima proyek konsultasi teknologi, dan menyewakan satu unit properti kecil yang ia beli dengan uang muka hasil kerja beberapa tahun. Diversifikasi pendapatan ini membuat arus kasnya tidak bergantung pada satu pemberi kerja, sekaligus mempercepat akumulasi aset.
Ketiga, ia memanfaatkan instrumen investasi yang sesuai dengan profil risikonya. Sebagian dana ia tempatkan pada deposito dan obligasi negara untuk menjaga stabilitas, sebagian pada reksa dana indeks, dan sebagian kecil pada instrumen berisiko lebih tinggi. Ia menegaskan bahwa dirinya tidak pernah mengejar keuntungan cepat melalui skema yang menjanjikan imbal hasil tidak wajar. Baginya, konsistensi bulanan jauh lebih penting daripada spekulasi sesaat.
Menepis Mitos Anak Sultan dan Warisan
Banyak warganet menduga ia menerima suntikan dana dari orang tua atau memiliki koneksi bisnis keluarga. Dugaan itu ia bantah dengan bukti catatan keuangan pribadi yang ia unggah secara terbuka. Menurutnya, modal terbesar bukan uang, melainkan waktu. Semakin awal seseorang mulai mengelola keuangan, semakin besar efek majemuk yang bisa dinikmati. Ia mencontohkan, menabung Rp2 juta per bulan selama sepuluh tahun dengan imbal hasil rata-rata delapan persen per tahun dapat menghasilkan nilai akhir yang jauh melampaui total setoran awal.
Ia juga menyoroti pentingnya literasi keuangan sejak dini. Selama ini, kata dia, pendidikan formal jarang mengajarkan cara mengelola uang, berinvestasi, atau menghitung risiko. Akibatnya, banyak anak muda terjebak pada perilaku konsumtif, pinjaman daring, dan gaya hidup yang melampaui kemampuan. Ia berharap kisahnya bisa menjadi contoh bahwa latar belakang keluarga bukan penentu tunggal masa depan finansial seseorang.
Tantangan dan Kritik yang Dihadapi
Meski menginspirasi, pencapaiannya tidak luput dari kritik. Sejumlah pihak menilai kisah semacam ini berpotensi menimbulkan tekanan sosial bagi anak muda yang penghasilannya jauh lebih kecil. Menanggapi hal itu, ia menegaskan bahwa tujuan berbagi cerita bukan untuk memamerkan angka, melainkan menunjukkan proses. Ia mengakui bahwa kondisi ekonomi setiap orang berbeda, dan tidak semua orang memiliki kesempatan yang sama untuk bekerja lepas atau berinvestasi.
Ia juga mengingatkan bahwa angka Rp1,8 miliar bukan hasil dalam semalam. Ada periode ketika ia harus bekerja lebih dari sepuluh jam sehari, menolak ajakan jalan-jalan, dan menghadapi kegagalan usaha kecil yang sempat menggerus sebagian tabungannya. Menurutnya, ketahanan mental dan kemampuan bangkit setelah gagal sama pentingnya dengan keterampilan teknis dalam mengelola uang.
Pelajaran bagi Generasi Muda
Dari pengalamannya, setidaknya ada beberapa pelajaran yang bisa diambil. Pertama, mulailah dari nominal kecil, tetapi lakukan secara konsisten. Kedua, pisahkan rekening untuk kebutuhan, tabungan, dan investasi agar tidak tercampur. Ketiga, tingkatkan keterampilan agar penghasilan naik, lalu tahan gaya hidup agar tidak ikut naik. Keempat, pelajari instrumen investasi sebelum menempatkan dana. Kelima, jangan membandingkan proses orang lain dengan proses sendiri.
Kisah pria 24 tahun ini menunjukkan bahwa kombinasi disiplin, keterampilan, dan kesabaran masih menjadi jalan yang bisa ditempuh siapa pun, terlepas dari status keluarga. Bukan anak sultan, bukan pewaris, tetapi ia membuktikan bahwa keputusan finansial kecil yang diulang bertahun-tahun dapat berubah menjadi hasil yang signifikan.
Komentar (0)