Bekicot, hewan berlendir bercangkang spiral yang selama ini lebih dikenal sebagai hama tanaman dan bahan baku ekspor, mulai dilirik sebagai salah satu sumber protein hewani alternatif untuk menekan angka stunting di Indonesia. Ketergantungan pada telur dan ikan sebagai sumber protein utama dinilai perlu diselingi bahan pangan lokal lain yang lebih murah dan tersedia melimpah di lingkungan sekitar.
Wacana tersebut muncul di tengah upaya pemerintah menurunkan prevalensi stunting yang masih berada di kisaran 20 persen. Angka itu jauh di atas target 14 persen yang dicanangkan untuk 2024. Kekurangan asupan protein hewani pada seribu hari pertama kehidupan menjadi salah satu penyebab utama anak tumbuh pendek, sehingga penganekaragaman sumber protein menjadi pekerjaan rumah yang mendesak.
Kandungan Gizi yang Tidak Bisa Diremehkan
Dalam sejumlah literatur gizi, daging bekicot tercatat memiliki kandungan protein yang cukup tinggi, berkisar 12 hingga 16 gram per 100 gram daging segar, dengan kadar lemak yang relatif rendah. Selain protein, daging bekicot juga mengandung zat besi, zinc, kalsium, magnesium, serta asam amino esensial yang dibutuhkan tubuh untuk pertumbuhan jaringan.
Zat besi dan zinc merupakan dua mikronutrien yang kerap dikaitkan langsung dengan pencegahan stunting. Kekurangan zinc berhubungan dengan gangguan pertumbuhan linear pada anak, sementara defisiensi zat besi meningkatkan risiko anemia yang berdampak pada menurunnya daya tahan tubuh dan kemampuan kognitif. Kandungan kalsium pada bekicot, sebagian berasal dari cangkang dan lendirnya, turut menjadi nilai tambah bagi pembentukan tulang.
Dari sisi ekonomi, bekicot memiliki keunggulan yang sulit ditandingi bahan pangan hewani lain. Hewan ini mudah berkembang biak, tidak memerlukan lahan luas, dan banyak ditemukan di pekarangan, sawah, serta saluran air. Harganya di pasar tradisional pun jauh lebih murah dibandingkan daging sapi, ayam, atau ikan laut.
Stunting dan Persoalan Protein Hewani
Stunting bukan sekadar soal tinggi badan anak yang lebih pendek dari usianya. Kondisi ini merupakan cerminan kekurangan gizi kronis yang berdampak pada perkembangan otak, sistem imun, dan produktivitas di masa dewasa. Intervensi gizi spesifik, terutama pemenuhan protein hewani pada masa kehamilan hingga anak berusia dua tahun, menjadi kunci pencegahan.
Selama ini kampanye pemenuhan gizi kerap berpusat pada telur dan ikan. Keduanya memang terbukti efektif, tetapi tidak selalu terjangkau oleh keluarga di daerah dengan daya beli rendah atau wilayah yang sulit pasokan ikan segar. Di sinilah bekicot menawarkan jalan lain: sumber protein yang bisa diperoleh sendiri dari lingkungan sekitar tanpa mengeluarkan biaya besar.
Beberapa daerah di Jawa, Sumatra, dan Sulawesi diketahui memiliki tradisi mengonsumsi bekicot, umumnya diolah menjadi sate, tumis, atau keripik. Tradisi ini menjadi modal sosial yang memudahkan sosialisasi bekicot sebagai bahan pangan bergizi, tanpa harus memulai dari nol.
Stigma dan Keamanan Pangan Jadi Tantangan
Meski bernilai gizi tinggi, bekicot masih menghadapi hambatan budaya. Sebagian masyarakat menganggapnya menjijikkan, kotor, atau identik dengan hewan pengganggu. Persepsi ini membuat bekicot sulit diterima sebagai menu keluarga, apalagi sebagai makanan tambahan bagi balita dan ibu hamil.
Persoalan lain adalah keamanan pangan. Bekicot yang hidup di saluran air atau area pertanian berpotensi terkontaminasi residu pestisida, logam berat, dan mikroorganisme patogen. Bekicot juga merupakan inang perantara cacing parasit yang bisa menular ke manusia jika dagingnya dikonsumsi mentah atau kurang matang.
Karena itu, pengolahan menjadi syarat mutlak. Daging bekicot perlu dibersihkan berulang, direndam dalam larutan asam atau air jeruk nipis, lalu dimasak hingga benar-benar matang pada suhu tinggi. Lendirnya sebaiknya dibuang, dan bagian pencernaan serta kelenjar yang berpotensi mengandung racun tidak dikonsumsi. Bekicot juga sebaiknya diambil dari lingkungan yang bersih, bukan dari sawah yang baru disemprot pestisida.
Diversifikasi Pangan Lokal sebagai Strategi
Langkah menjadikan bekicot sebagai alternatif protein sejalan dengan agenda diversifikasi pangan yang terus digaungkan. Selama ini program perbaikan gizi cenderung seragam dan bergantung pada komoditas tertentu, padahal setiap daerah memiliki sumber daya pangan yang berbeda.
Namun, mengangkat bekicot ke panggung kebijakan gizi memerlukan lebih dari sekadar promosi. Diperlukan kajian kandungan gizi yang baku, uji keamanan pangan, pelatihan pengolahan bagi kader posyandu dan kelompok ibu, serta kampanye yang menekankan kebersihan dan cara masak yang benar. Tanpa itu, bekicot hanya akan berhenti sebagai wacana yang menarik di ruang diskusi.
Jika dikelola dengan hati-hati, bekicot dapat menjadi pelengkap, bukan pengganti, telur dan ikan dalam menu pencegahan stunting. Kuncinya ada pada ketersediaan, keterjangkauan, dan keamanan. Ketiga faktor itu yang menentukan apakah bekicot benar-benar bisa turun ke meja makan keluarga atau tetap menjadi hama di pinggir sawah.
Komentar (0)