20, 2026
Politik

Transformasi Kemenpora Dua Tahun Pemerintahan Prabowo-Gibran

Anisa Permata
Anisa Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka menjadi fase penting bagi Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora). Sejak kabinet dilantik pada 20 Oktober 2024, kementerian yang dipimpin Menteri Pemuda dan Olahraga Dito Ariotedjo itu menempatkan transformasi kelembagaan, pembenahan tata kelola, dan penguatan ekosistem olahraga nasional sebagai agenda utama. Arah kebijakannya tidak lagi berhenti pada perburuan medali jangka pendek, tetapi menyentuh fondasi pembinaan, infrastruktur, hingga tata kelola anggaran.

Dari Sekadar Event ke Pembangunan Ekosistem

Selama dua tahun terakhir, Kemenpora secara konsisten menggeser orientasi dari penyelenggaraan event menuju pembangunan ekosistem olahraga yang berkelanjutan. Pendekatan ini menempatkan pembinaan atlet sebagai proses panjang yang melibatkan sekolah, klub, pemerintah daerah, induk organisasi cabang olahraga, hingga dunia usaha.

Kemenpora menempatkan sinergi lintas kementerian dan lembaga sebagai prasyarat. Olahraga tidak lagi dipandang sebagai urusan tunggal satu kementerian, melainkan bagian dari agenda pembangunan sumber daya manusia. Kementerian Pendidikan, kementerian yang menangani kesehatan, pemerintah daerah, hingga sektor swasta dilibatkan dalam skema pembinaan yang terpadu.

Dalam kerangka itu, kebugaran masyarakat menjadi perhatian tersendiri. Kampanye olahraga untuk semua atau sport for all digalakkan agar partisipasi masyarakat tidak berhenti pada kelompok atlet. Ruang terbuka, fasilitas publik, dan agenda olahraga komunitas didorong tumbuh di daerah sebagai bagian dari gaya hidup sehat.

Desain Besar Olahraga Nasional sebagai Kerangka Utama

Transformasi Kemenpora tidak berjalan tanpa pijakan. Desain Besar Olahraga Nasional (DBON) tetap menjadi rujukan utama dalam menyusun prioritas pembinaan. Dokumen perencanaan itu mengatur pembagian tugas antara pusat dan daerah, sekaligus menetapkan cabang olahraga yang menjadi fokus berdasarkan peluang prestasi di tingkat internasional.

Pembinaan Usia Dini dan Sport Science

Perubahan paling terasa berada di ranah pembinaan usia dini. Kemenpora mendorong identifikasi bakat yang lebih sistematis, tidak lagi bergantung pada penjaringan sporadis menjelang kompetisi besar. Sekolah-sekolah dan klub di daerah menjadi titik awal pemetaan atlet muda.

Pendekatan ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga atau sport science juga diperkuat. Pemusatan latihan nasional diarahkan pada penggunaan data, pemantauan beban latihan, pengaturan gizi, serta pendampingan psikologis. Pola ini menuntut kualitas pelatih yang memadai, sehingga peningkatan kompetensi pelatih dan tenaga pendukung menjadi bagian tak terpisahkan dari agenda transformasi.

Tata Kelola dan Transparansi Anggaran

Reformasi tata kelola menjadi pilar lain. Kemenpora menempatkan akuntabilitas penggunaan anggaran, penguatan pengawasan internal, dan perbaikan mekanisme hibah sebagai prioritas. Pengelolaan keuangan yang bersih dipandang sebagai fondasi agar program pembinaan dapat berjalan tanpa gangguan.

Pembenahan juga menyentuh hubungan dengan induk organisasi cabang olahraga. Profesionalisme kepengurusan, transparansi laporan keuangan organisasi, dan kesinambungan program pembinaan menjadi syarat yang terus didorong agar prestasi tidak bergantung pada satu periode kepemimpinan.

Panggung Internasional dan Penyelenggaraan Event

Pada periode ini, Indonesia kembali diuji dalam berbagai ajang internasional, mulai dari kejuaraan regional hingga penyelenggaraan event multievent. Pengalaman menjadi tuan rumah Pekan Olahraga Nasional XXI di Aceh dan Sumatera Utara pada 2024 menjadi pelajaran berharga dalam hal perencanaan, kesiapan infrastruktur, serta koordinasi antara pusat dan daerah.

Kemenpora juga menyiapkan langkah menuju PON XXII di Nusa Tenggara pada 2028. Perencanaan itu mencakup kesiapan venue, pembinaan atlet daerah, hingga skema pembiayaan yang lebih terukur. Di sisi lain, keikutsertaan atlet Indonesia pada ajang seperti SEA Games dan kejuaraan dunia cabang menjadi tolok ukur efektivitas pembinaan yang dijalankan.

Selain prestasi, Kemenpora mendorong pengembangan sport tourism dan penyelenggaraan event berskala internasional sebagai instrumen yang mampu menggerakkan ekonomi daerah, membuka lapangan kerja, dan memperluas partisipasi masyarakat terhadap olahraga.

Wajah Kepemudaan yang Berubah

Di bidang kepemudaan, transformasi diarahkan pada penguatan kompetensi dan kemandirian generasi muda. Program kewirausahaan muda, peningkatan keterampilan, serta penguatan organisasi kepemudaan menjadi instrumen agar pemuda tidak hanya menjadi objek program, tetapi juga pelaku pembangunan.

Wirausaha Muda dan Kesiapan Kerja

Kemenpora mendorong lahirnya wirausaha muda melalui pelatihan, pendampingan, dan perluasan akses pasar. Pendekatan ini ditempuh seiring meningkatnya kebutuhan lapangan kerja dan perubahan lanskap ekonomi digital yang menuntut adaptasi keterampilan.

Pelibatan pemuda dalam agenda sukarelawan, kepemimpinan, dan dialog lintas sektor juga diperluas. Tujuannya agar generasi muda memiliki ruang berkontribusi dalam pengambilan keputusan, bukan sekadar hadir sebagai peserta kegiatan seremonial.

Tantangan yang Masih Menggantung

Meski sejumlah langkah telah ditempuh, sejumlah persoalan masih menjadi pekerjaan rumah. Kesenjangan fasilitas olahraga antardaerah, keterbatasan anggaran pembinaan berjenjang, serta belum meratanya kualitas pelatih menjadi kendala yang kerap muncul. Regenerasi atlet juga menuntut kesabaran karena hasil pembinaan usia dini tidak dapat dipanen dalam waktu singkat.

Di sisi lain, konsistensi kebijakan lintas periode pemerintahan menjadi kunci. Transformasi yang sedang berjalan membutuhkan keberlanjutan agar capaian yang telah dirintis tidak terputus oleh pergantian kepemimpinan maupun prioritas anggaran.

Menuju Fondasi yang Lebih Kokoh

Dua tahun pemerintahan Prabowo-Gibran menempatkan Kemenpora pada posisi transisi: dari pengelola event dan pembinaan jangka pendek menuju arsitek ekosistem olahraga nasional yang lebih tertata. Keberhasilan transformasi tidak akan dinilai semata dari jumlah medali, tetapi juga dari seberapa kuat fondasi yang dibangun, seberapa bersih tata kelolanya, dan seberapa luas partisipasi masyarakat yang tumbuh di dalamnya.

Dengan kerangka DBON sebagai pijakan, penguatan sport science, pembenahan tata kelola anggaran, serta perluasan ruang bagi pemuda, arah kebijakan yang ditempuh telah memberi peta jalan yang lebih jelas. Kini yang dibutuhkan adalah konsistensi pelaksanaan di lapangan dan koordinasi yang rapat antara pusat, daerah, dan seluruh pemangku kepentingan olahraga nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Anisa Permata

Penulis yang mendalami isu sosial, pendidikan, dan kebijakan publik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter