23, 2026
Nasional

Bulan Menciut dan Rentan Gempa, Pangkalan Manusia Terancam

Bulan menciut, sehingga rencana mendirikan pangkalan di sana harus dipilih dengan cermat untuk meminimalkan kemungkinan gempa yang dapat membahayakan.]]>

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bulan Menciut dan Rentan Gempa, Pangkalan Manusia Terancam

Bulan, satelit alami Bumi, terus menyusut. Penyusutan yang berlangsung sejak lama itu meninggalkan kerutan berupa patahan di permukaan dan memicu gempa dangkal. Fenomena tersebut kini menjadi perhatian serius karena kawasan yang paling terdampak, yakni sekitar kutub selatan Bulan, justru menjadi target utama pembangunan pangkalan manusia dalam satu dekade mendatang.

Sejumlah studi yang dipublikasikan dalam beberapa tahun terakhir menunjukkan bahwa Bulan bukan benda langit yang statis. Interiornya terus mendingin, dan pendinginan itu membuat volume Bulan mengecil. Kerak yang kaku kemudian harus menyesuaikan diri dengan ruang yang semakin sempit, sehingga terpecah dan terlipat membentuk struktur yang oleh para ilmuwan disebut sesar dorong atau lobate scarp.

Penyusutan yang Meninggalkan Bekas Luka

Data dari wahana Lunar Reconnaissance Orbiter (LRO) milik NASA memperlihatkan bahwa dalam beberapa ratus juta tahun terakhir radius Bulan menyusut sekitar 50 meter. Angka itu tampak kecil dibanding ukuran Bulan yang bergaris tengah sekitar 3.474 kilometer, tetapi dampaknya di permukaan tidak sederhana. Penyusutan tersebut setara dengan penurunan permukaan yang cukup untuk menekan dan mematahkan kerak di banyak lokasi.

Bentuknya terlihat sebagai tebing memanjang yang menjulang puluhan meter di atas dataran sekitarnya dan membentang hingga puluhan kilometer. Beberapa tebing itu tergolong masih muda karena memotong kawah-kawah kecil yang usianya diperkirakan belum lama. Di sisi lain, ada pula sesar yang sudah tidak aktif lagi.

Gempa Bulan yang Berlangsung Lama

Gempa di Bulan berbeda karakter dengan gempa di Bumi. Bulan tidak memiliki lempeng tektonik yang bergerak dan bertumbukan seperti Bumi, sehingga getaran yang muncul terutama berasal dari proses pendinginan dan penyusutan, ditambah pengaruh gaya pasang surut Bumi. Karena batuan Bulan sangat kering dan terfragmentasi, getaran tidak cepat teredam. Gempa dangkal di Bulan dapat berlangsung hingga hampir satu jam, jauh lebih lama dibanding gempa tektonik di Bumi yang umumnya hanya beberapa puluh detik.

Rekaman seismometer yang dipasang astronaut Apollo antara 1969 dan 1977 masih menjadi rujukan utama. Dari data itu, para peneliti mengidentifikasi 28 gempa dangkal dengan magnitudo hingga sekitar 5,5. Sebuah kajian yang diterbitkan pada 2019 menemukan bahwa sebagian gempa tersebut terjadi dalam jarak relatif dekat dari sesar-sesar muda, yang memperkuat dugaan bahwa penyusutan kerak menjadi pemicunya.

Kutub Selatan Bulan di Zona Rawan

Kajian yang dipublikasikan di jurnal Planetary Science Letters pada Januari 2024 memusatkan perhatian pada kawasan kutub selatan Bulan. Tim peneliti memetakan sejumlah sesar di wilayah tersebut dan menyimpulkan bahwa sebagian struktur itu masih aktif. Simulasi mereka menunjukkan bahwa pergerakan pada sesar tersebut berpotensi menghasilkan gempa dangkal berkekuatan signifikan, bahkan hingga sekitar magnitudo 5.

Getaran sebesar itu cukup untuk mengguncang lereng-lereng curam dan memicu longsoran regolit, lapisan material lepas hasil hantaman meteorit selama miliaran tahun. Di lingkungan dengan gravitasi hanya sekitar seperenam gravitasi Bumi, material yang longsor tetap bergerak lebih jauh dan lebih lama sebelum mengendap.

Kawasan kutub selatan Bulan menjadi incaran karena kawah-kawah di sana memiliki wilayah yang tidak pernah terkena sinar Matahari. Di dalam cekungan gelap itu tersimpan deposit es air yang diperkirakan melimpah. Es tersebut menjadi sumber daya kunci untuk menghasilkan oksigen, air minum, dan bahan bakar roket, sehingga sangat menentukan kelayakan hunian jangka panjang.

Target Misi dan Risiko yang Menyertainya

NASA menargetkan pendaratan awak manusia melalui program Artemis di sekitar wilayah kutub selatan. India telah lebih dulu mendaratkan wahana Chandrayaan-3 pada 2023 di lintang sekitar 69 derajat selatan. Sejumlah negara lain juga menyiapkan misi nirawak dan berawak ke kawasan yang sama.

Kedekatan lokasi pendaratan dengan sesar aktif menimbulkan konsekuensi teknis. Struktur bangunan, sistem pendukung kehidupan, dan tempat perlindungan astronot perlu dirancang agar tahan terhadap guncangan. Pemilihan lokasi pangkalan tidak cukup hanya mempertimbangkan ketersediaan es dan paparan sinar Matahari, tetapi juga stabilitas tanah dan riwayat kegempaan di sekitarnya.

Memetakan Ancaman Sebelum Pembangunan

Pengetahuan tentang gempa Bulan masih terbatas. Jaringan seismometer yang pernah beroperasi hanya mencakup beberapa titik di sisi dekat Bulan, sementara sisi jauh dan wilayah kutub nyaris tidak terpantau. Keterbatasan itu membuat para ilmuwan mendesak penambahan stasiun pemantau sebelum pembangunan pangkalan permanen dimulai.

Beberapa instrumen sedang disiapkan, antara lain paket seismometer yang akan ditempatkan di sisi jauh Bulan dan stasiun pemantau lingkungan yang direncanakan menyertai misi pendaratan berawak. Data dari alat-alat itu diharapkan dapat memetakan sebaran gempa, kedalaman episentrum, dan tingkat risiko di lokasi-lokasi yang menjadi kandidat pangkalan.

Hingga saat ini belum ada cara untuk memprediksi kapan gempa Bulan akan terjadi. Karena itu, pendekatan yang ditempuh bersifat antisipatif: memetakan sesar muda, memperkirakan magnitudo maksimum, dan merancang bangunan yang mampu bertahan. Bulan yang menciut memang memperlihatkan wajah yang semakin berkerut, dan manusia yang hendak menetap di sana harus belajar membaca kerutan itu sebelum menancapkan fondasi pertama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter