30, 2026
Nasional

Bulog Serap 4 Juta Ton Gabah, Masih Ada 3 Bulan Kejar Target

Intan Permata
Intan Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Perum Bulog mencatat telah menyerap sekitar 4 juta ton gabah setara beras sepanjang periode pengadaan tahun ini. Capaian tersebut masih menyisakan waktu sekitar tiga bulan bagi perseroan untuk mengejar target penyerapan yang telah ditetapkan pemerintah. Manajemen Bulog menyatakan optimistis sisa waktu yang ada dapat dimanfaatkan secara maksimal, terutama dengan mengandalkan panen raya pada beberapa wilayah sentra produksi.

Realisasi Penyerapan dan Sisa Waktu

Direktur Utama Perum Bulog menyampaikan bahwa angka penyerapan 4 juta ton gabah setara beras tersebut merupakan hasil akumulasi dari pembelian yang dilakukan di berbagai daerah. Penyerapan dilakukan melalui mekanisme pembelian gabah dan beras dari petani dengan mengacu pada harga pembelian pemerintah yang berlaku. Menurut manajemen, realisasi ini mencerminkan berjalannya fungsi Bulog sebagai penyerap hasil panen petani sekaligus penjaga stabilitas harga di tingkat produsen.

Dengan sisa waktu sekitar tiga bulan, Bulog masih memiliki ruang untuk menambah volume serapan. Perseroan mengidentifikasi sejumlah faktor yang dapat mendukung percepatan penyerapan, antara lain puncak panen di sejumlah daerah, perbaikan infrastruktur penggilingan, serta kerja sama dengan pemerintah daerah dan kelompok tani. Bulog juga menyiapkan strategi penjemputan gabah langsung ke lokasi panen guna memangkas rantai distribusi dan mempercepat transaksi dengan petani.

Faktor Pendorong dan Tantangan Lapangan

Beberapa faktor disebut menjadi pendorong utama penyerapan gabah pada periode ini. Pertama, kondisi cuaca yang relatif mendukung pada sejumlah sentra produksi membuat hasil panen meningkat. Kedua, harga gabah di pasaran yang bergerak mendekati atau berada pada level harga pembelian pemerintah memudahkan Bulog melakukan pembelian. Ketiga, adanya dukungan anggaran dan fasilitas pembiayaan yang memungkinkan perseroan membayar petani secara cepat.

Meski demikian, Bulog tidak menampik adanya sejumlah tantangan di lapangan. Persaingan pembelian dengan pedagang swasta masih menjadi kendala utama, terutama ketika harga pasar lebih tinggi dari harga pembelian pemerintah. Selain itu, kualitas gabah yang bervariasi, kadar air yang tinggi pada musim hujan, serta keterbatasan kapasitas pengeringan dan penyimpanan di beberapa wilayah turut memengaruhi kecepatan penyerapan. Bulog menyatakan terus berupaya mengatasi hambatan tersebut melalui penambahan unit pengering, perbaikan gudang, serta penyesuaian skema pembayaran kepada petani.

Dampak bagi Petani dan Stabilitas Harga

Penyerapan gabah oleh Bulog dinilai memiliki dampak langsung terhadap kesejahteraan petani. Dengan adanya pembeli yang menyerap hasil panen dalam jumlah besar, petani memiliki alternatif penjualan yang dapat menekan praktik permainan harga oleh pedagang perantara. Keberadaan Bulog di pasar juga menjadi semacam jangkar harga yang menjaga agar harga gabah tidak jatuh terlalu dalam pada saat panen raya.

Dari sisi stabilitas pangan, penyerapan gabah berkontribusi pada penguatan cadangan beras pemerintah. Cadangan tersebut menjadi instrumen penting dalam menghadapi gejolak pasokan, bencana alam, maupun kebutuhan operasi pasar untuk menstabilkan harga beras di tingkat konsumen. Pemerintah memandang penguatan cadangan beras sebagai bagian dari strategi ketahanan pangan nasional, terutama di tengah ketidakpastian iklim dan dinamika pasar global.

Langkah Lanjutan Menuju Target

Untuk mengejar target hingga akhir periode pengadaan, Bulog menyiapkan sejumlah langkah lanjutan. Perseroan akan memperkuat koordinasi dengan Dinas Pertanian di daerah, menggandeng kelompok tani dan gabungan kelompok tani, serta memperluas titik pembelian di wilayah yang belum terjangkau secara optimal. Bulog juga berencana meningkatkan kapasitas mitra penggilingan agar penyerapan gabah dapat berjalan lebih cepat dan hasil akhirnya memenuhi standar kualitas yang ditetapkan.

Selain itu, Bulog mendorong percepatan pembayaran kepada petani melalui kerja sama dengan perbankan dan lembaga keuangan. Pembayaran yang cepat dinilai menjadi insentif penting bagi petani untuk menjual hasil panennya kepada Bulog. Perseroan juga menyiapkan skema kemitraan yang melibatkan koperasi dan badan usaha milik desa sebagai perpanjangan tangan dalam pengumpulan gabah di tingkat lokal.

Manajemen Bulog menegaskan bahwa sisa waktu tiga bulan masih cukup untuk menutup selisih antara realisasi dan target. Namun, perseroan mengakui bahwa keberhasilan pencapaian target akan sangat bergantung pada kondisi panen, pergerakan harga di pasar, serta dukungan seluruh pemangku kepentingan. Bulog menyatakan akan terus memantau perkembangan di lapangan dan menyesuaikan strategi penyerapan agar fungsi stabilisasi pangan dan perlindungan petani dapat berjalan optimal.

Pemerintah melalui kementerian terkait menyatakan akan terus mengevaluasi kinerja penyerapan gabah secara berkala. Evaluasi mencakup aspek volume, kualitas, harga, serta dampaknya terhadap pendapatan petani dan stabilitas harga beras di pasaran. Dengan sisa waktu yang tersedia, seluruh pihak berharap target penyerapan gabah dapat tercapai tanpa mengabaikan kualitas dan keberlanjutan sektor pertanian nasional.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Permata

Spesialis konten kuliner sehat, diet, dan resep rendah kalori.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter