Sebuah video yang memperlihatkan sejumlah warga di Bandung, Jawa Barat, melintasi terowongan sempit saat mengantar jenazah menuju pemakaman menjadi perbincangan luas di media sosial. Peristiwa itu diduga terjadi di kawasan permukiman padat yang kontur wilayahnya berbukit, sehingga akses jalan menuju lokasi pemakaman sangat terbatas.
Dalam tayangan yang beredar, sejumlah pria tampak memikul keranda jenazah dan berjalan beriringan menembus terowongan berukuran kecil. Terowongan itu hanya cukup untuk dilalui satu orang dengan posisi tubuh sedikit membungkuk. Dinding terowongan terlihat dari beton dan tanah, dengan pencahayaan minim karena tidak tersedia penerangan permanen di sepanjang jalur tersebut.
Konteks Lokasi dan Kondisi Jalur
Berdasarkan informasi yang dihimpun dari sejumlah warga, terowongan tersebut merupakan jalur alternatif yang sudah lama digunakan masyarakat setempat. Jalur utama menuju pemakaman dinilai terlalu jauh dan menanjak, sehingga warga memilih melewati terowongan sebagai jalan pintas. Kondisi ini membuat proses pengantaran jenazah tidak jarang dilakukan dengan cara manual, yakni dipikul bersama-sama.
Seorang warga yang mengenal kawasan itu menyebut terowongan tersebut dibangun puluhan tahun lalu sebagai saluran air dan penghubung antar kampung. Seiring bertambahnya jumlah penduduk dan kebutuhan akses, jalur itu kemudian dimanfaatkan untuk mobilitas sehari-hari, termasuk saat ada warga yang meninggal dunia. Meski sempit, warga mengaku sudah terbiasa dan menempuh jalur itu dengan hati-hati.
Prosesi Pemakaman yang Tetap Dijalankan
Pengantaran jenazah melalui terowongan dilakukan dengan tetap memperhatikan tata cara pemakaman sesuai tradisi setempat. Sebelum diberangkatkan, jenazah disalatkan di rumah duka atau masjid terdekat. Setelah itu, rombongan berjalan kaki menuju pemakaman dengan urutan tertentu, sementara sebagian warga lain menyusul melalui jalur alternatif yang lebih panjang menggunakan kendaraan.
Momen ketika keranda diangkat dan dimasukkan ke dalam terowongan menjadi bagian paling menegangkan. Petugas pemikul harus memastikan posisi keranda tetap seimbang agar tidak tersangkut di dinding terowongan. Warga lain berjaga di kedua ujung terowongan untuk membantu mengatur ritme langkah dan memberi aba-aba.
Respons Warganet dan Sorotan Publik
Video tersebut menuai beragam tanggapan dari warganet. Sebagian mengaku terharu melihat solidaritas warga yang tetap mengantar jenazah meski harus melewati jalur sulit. Sebagian lagi menyoroti minimnya infrastruktur di kawasan tersebut dan mendesak pemerintah daerah untuk memperbaiki akses jalan menuju pemakaman.
Pengamat tata kota menilai fenomena ini menunjukkan adanya kesenjangan penyediaan infrastruktur dasar di sejumlah wilayah permukiman padat. Menurutnya, akses jalan yang memadai bukan hanya soal kenyamanan, tetapi juga menyangkut aspek kemanusiaan, terutama saat dibutuhkan untuk prosesi pemakaman, pelayanan kesehatan, dan evakuasi bencana.
Kebutuhan Perbaikan Infrastruktur
Sejumlah warga berharap pemerintah kota maupun kelurahan mengevaluasi kondisi jalur tersebut. Usulan yang muncul antara lain pelebaran mulut terowongan, pemasangan lampu penerangan, serta pembangunan jalur khusus yang lebih layak untuk pejalan kaki. Warga juga meminta adanya kajian ulang terhadap tata ruang kawasan agar lokasi pemakaman dapat diakses dengan lebih mudah.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari instansi terkait mengenai rencana perbaikan jalur tersebut. Pemerintah daerah diharapkan merespons cepat aspirasi warga, mengingat jalur itu digunakan secara rutin dan menyangkut kebutuhan dasar masyarakat.
Terlepas dari viralnya video tersebut, peristiwa ini menjadi cermin bagaimana warga di sejumlah daerah masih berjuang menghadapi keterbatasan infrastruktur dalam momen-momen penting kehidupan. Solidaritas warga yang tetap mengantar jenazah melalui terowongan sempit memperlihatkan kegotongroyongan yang kuat, sekaligus menjadi pengingat bahwa pembangunan akses jalan yang layak masih menjadi kebutuhan mendesak di banyak permukiman padat.
Komentar (0)