30, 2026
Teknologi

Bumi Makin Panas, 12 Triliun Ton Es Meleleh dalam 47 Tahun

Laporan yang ditulis oleh 58 ilmuwan dari berbagai lembaga di seluruh dunia menyebutkan, Bumi kehilangan lebih dari 12 triliun ton es dalam 47 tahun.]]>

Kirana Kusuma
Kirana Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bumi Makin Panas, 12 Triliun Ton Es Meleleh dalam 47 Tahun

Bumi Makin Panas, 12 Triliun Ton Es Meleleh dalam 47 Tahun

Bumi kehilangan sekitar 12 triliun ton es dalam kurun waktu 47 tahun terakhir. Angka itu setara dengan sebuah kubus es raksasa berukuran lebih dari 12 kilometer di setiap sisinya. Temuan ini merupakan hasil analisis terbaru yang menunjukkan bahwa laju kehilangan es global terus meningkat dan kini berada pada level yang jauh melampaui perkiraan sebelumnya. Pencairan tersebut tidak hanya terjadi di satu wilayah, melainkan merata di berbagai belahan dunia, mulai dari lapisan es di kutub hingga gletser di pegunungan tinggi.

Data yang dihimpun dari berbagai satelit, pengukuran lapangan, dan model iklim memperlihatkan bahwa kehilangan es bukan lagi fenomena lokal yang bisa diabaikan. Setiap tahunnya, jumlah es yang hilang terus bertambah, dengan percepatan yang paling mencolok terjadi dalam tiga dekade terakhir. Para peneliti menyebut tren ini sebagai sinyal kuat bahwa pemanasan global telah memasuki fase yang berdampak langsung pada sistem kryosfer, yakni seluruh bagian Bumi yang tertutup es, baik di daratan maupun di lautan.

Percepatan Pencairan di Berbagai Wilayah

Laporan tersebut mencatat bahwa lapisan es Greenland dan Antartika menyumbang porsi terbesar dari total kehilangan es. Greenland, yang menyimpan sekitar 2,8 juta kilometer kubik es, kehilangan massa esnya dengan laju yang semakin cepat setiap tahun. Sementara itu, Antartika Barat menjadi wilayah paling rentan karena dasar batuan di bawah lapisan esnya berada di bawah permukaan laut, sehingga air laut yang lebih hangat dapat menggerus lapisan es dari bawah.

Di luar kedua wilayah kutub itu, gletser gunung di Pegunungan Himalaya, Andes, Alpen, dan Alaska juga mengalami penyusutan yang signifikan. Gletser di Pegunungan Himalaya, yang menjadi sumber air bagi ratusan juta orang di Asia Selatan dan Asia Timur, menyusut dengan kecepatan yang mengkhawatirkan. Penyusutan ini berdampak langsung pada ketersediaan air bersih bagi penduduk di daerah aliran sungai di bawahnya.

Selain gletser dan lapisan es, es laut di Arktik juga mengalami penurunan luas dan ketebalan. Meskipun es laut tidak menambah volume air laut secara langsung ketika mencair, hilangnya es laut mempercepat pemanasan di kawasan kutub melalui mekanisme umpan balik albedo. Permukaan es yang putih memantulkan sinar matahari, sedangkan permukaan laut yang gelap menyerap panas. Ketika es laut menyusut, lebih banyak panas terserap, sehingga pemanasan pun semakin cepat.

Dampak terhadap Kenaikan Permukaan Air Laut

Pencairan 12 triliun ton es tersebut turut menyumbang kenaikan permukaan air laut global. Air yang berasal dari lelehan es di daratan mengalir ke laut dan menambah volumenya. Kenaikan muka laut ini tidak terjadi secara seragam di seluruh dunia. Beberapa wilayah pesisir mengalami kenaikan yang lebih tinggi akibat faktor lokal seperti penurunan tanah dan pola arus laut.

Bagi negara kepulauan dan wilayah pesisir dataran rendah, kenaikan muka laut menjadi ancaman nyata. Banjir rob yang sebelumnya jarang terjadi, kini semakin sering muncul. Intrusi air laut ke sumber air tanah juga mengancam pasokan air bersih di kota-kota pesisir. Dalam jangka panjang, pulau-pulau kecil dan kawasan delta padat penduduk berisiko mengalami penggenangan permanen jika laju emisi gas rumah kaca tidak ditekan.

Para ilmuwan menekankan bahwa kehilangan es bukan sekadar persoalan lingkungan, tetapi juga menyangkut ekonomi, sosial, dan keamanan pangan. Perubahan pola musim, gangguan pada ekosistem laut, dan tekanan terhadap infrastruktur pesisir merupakan konsekuensi yang saling berkaitan. Komunitas nelayan, petani, dan penduduk di daerah pesisir menjadi kelompok yang paling terdampak.

Mengapa Laju Pelelehan Terus Meningkat

Penyebab utama percepatan pelelehan es adalah kenaikan suhu rata-rata global akibat emisi gas rumah kaca. Suhu udara di kawasan Arktik meningkat jauh lebih cepat dibandingkan rata-rata dunia, sebuah fenomena yang dikenal sebagai pemanasan Arktik. Selain suhu udara, suhu laut yang menghangat juga mempercepat pelelehan lapisan es dari bawah.

Yang menjadi perhatian besar para peneliti adalah terbentuknya lingkaran umpan balik yang memperkuat proses pencairan. Ketika es mencair, permukaan yang sebelumnya memantulkan sinar matahari berubah menjadi permukaan gelap yang menyerap panas. Ketika lapisan es di daratan menyusut, permukaannya menurun sehingga lebih banyak udara hangat yang menyentuh es di ketinggian lebih rendah. Siklus ini membuat pencairan berlangsung semakin cepat dan semakin sulit dihentikan.

Meskipun demikian, para peneliti menegaskan bahwa besarnya kehilangan es di masa depan tetap bergantung pada langkah yang diambil saat ini. Pengurangan emisi gas rumah kaca secara global menjadi kunci untuk memperlambat laju pencairan. Jika emisi terus meningkat tanpa kendali, proyeksi terburuk memperkirakan kenaikan muka laut yang lebih besar dan dampak yang lebih luas pada abad ini.

Reaksi Ilmiah dan Seruan Kebijakan

Temuan ini memperkuat seruan komunitas ilmiah agar negara-negara mempercepat transisi energi dan memperkuat komitmen iklim. Berbagai laporan internasional menyoroti bahwa target pembatasan kenaikan suhu rata-rata global perlu diikuti dengan tindakan nyata, bukan hanya janji politik. Investasi dalam energi terbarukan, efisiensi energi, perlindungan hutan, dan adaptasi wilayah pesisir disebut sebagai langkah yang mendesak.

Di sisi lain, pemantauan berkelanjutan terhadap kondisi es global dinilai semakin penting. Data satelit dan pengukuran lapangan menjadi dasar untuk memahami seberapa cepat perubahan terjadi dan seberapa besar dampaknya bagi kehidupan manusia. Tanpa pemantauan yang konsisten, kebijakan yang diambil berisiko tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Hilangnya 12 triliun ton es dalam 47 tahun menjadi cermin bahwa perubahan iklim bukanlah skenario masa depan, melainkan kenyataan yang sedang berlangsung. Setiap ton es yang mencair membawa konsekuensi yang menjalar dari kutub hingga ke garis pantai tempat miliaran manusia tinggal. Pertanyaannya kini bukan lagi apakah Bumi memanas, melainkan seberapa cepat dunia bertindak untuk memperlambat proses itu.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Kusuma

Peliput olahraga nasional dan perkembangan liga domestik.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter