30, 2026
Teknologi

Matahari dan Bulan Bisa Picu Gempa, Ilmuwan Jelaskan Pengaruhnya

Secara kosmik, Bumi dapat diibaratkan sebagai boneka planet yang 'ditarik' oleh tali gravitasi Matahari dan Bulan. Hal ini berlaku di seluruh alam semesta.]]>

Sandi Setiawan
Sandi Setiawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Matahari dan Bulan Bisa Picu Gempa, Ilmuwan Jelaskan Pengaruhnya

Fenomena alam gempa bumi selama ini lebih sering dikaitkan dengan pergerakan lempeng tektonik, aktivitas vulkanik, atau patahan aktif. Namun sejumlah ilmuwan mengungkap bahwa benda langit seperti Matahari dan Bulan juga memiliki pengaruh terhadap terjadinya gempa bumi. Pengaruh tersebut tidak bersifat langsung memicu gempa besar, melainkan melalui gaya gravitasi yang mampu memberikan tekanan tambahan pada zona patahan yang sudah berada dalam kondisi kritis.

Bagaimana Matahari dan Bulan Mempengaruhi Bumi

Matahari dan Bulan sama-sama menghasilkan gaya gravitasi yang menarik Bumi. Tarikan gravitasi ini merupakan penyebab utama terjadinya pasang surut air laut. Ketika Matahari, Bulan, dan Bumi berada dalam posisi sejajar, misalnya saat bulan baru atau bulan purnama, gaya gravitasi keduanya bergabung dan menghasilkan pasang surut yang lebih tinggi, yang dikenal sebagai pasang purnama atau spring tide. Sebaliknya, saat posisi keduanya saling tegak lurus, pasang surut yang terjadi lebih rendah dan disebut pasang perbani atau neap tide.

Yang menarik, gaya gravitasi ini tidak hanya memengaruhi air laut. Kerak Bumi yang bersifat elastis juga mengalami deformasi atau perubahan bentuk kecil akibat tarikan tersebut. Fenomena ini disebut bumi padat pasang surut atau solid earth tide. Meskipun besarnya hanya dalam skala sentimeter, deformasi ini mampu mengubah tekanan yang bekerja pada batuan di bawah permukaan.

Kaitan dengan Tekanan di Zona Patahan

Para peneliti menjelaskan bahwa gempa bumi terjadi ketika batuan di sepanjang patahan tidak lagi mampu menahan akumulasi tegangan yang terus meningkat. Ketika tegangan tersebut melewati ambang batas kekuatan batuan, terjadilah pelepasan energi secara tiba-tiba yang kita rasakan sebagai gempa. Dalam kondisi inilah pengaruh Matahari dan Bulan menjadi relevan.

Tekanan tambahan yang ditimbulkan oleh gaya pasang surut Bumi padat dapat berperan sebagai pemicu terakhir atau pemicu kecil pada patahan yang sudah mendekati titik kritis. Dengan kata lain, jika sebuah patahan sudah sangat tegang dan siap lepas, tambahan tekanan sekecil apa pun, termasuk dari pasang surut, bisa mempercepat terjadinya gempa. Namun, jika patahan belum berada dalam kondisi kritis, pengaruh ini tidak akan cukup untuk memicu gempa besar.

Studi dan Bukti Ilmiah

Sejumlah penelitian menunjukkan adanya korelasi antara siklus pasang surut dan peningkatan aktivitas gempa di wilayah tertentu. Salah satu studi yang cukup dikenal menemukan bahwa gempa dangkal berukuran kecil lebih sering terjadi pada periode pasang surut tertentu. Penelitian lain terhadap gempa besar, seperti gempa Sumatra 2004 dan gempa Tohoku 2011, menunjukkan bahwa keduanya terjadi pada saat kondisi pasang surut yang memberikan tekanan tambahan pada patahan.

Meski demikian, para ilmuwan menegaskan bahwa korelasi ini bukan berarti Matahari dan Bulan dapat dipakai untuk memprediksi gempa secara tepat. Pasang surut hanyalah salah satu dari banyak faktor yang bekerja bersama. Tegangan tektonik yang terakumulasi selama puluhan hingga ratusan tahun tetap menjadi penyebab utama. Gaya pasut hanya berperan sebagai pemicu kecil pada saat-saat tertentu.

Bukan Penyebab Utama, tetapi Perlu Dipahami

Penting untuk memahami bahwa gempa bumi tidak bisa disederhanakan sebagai akibat langsung dari posisi Matahari dan Bulan. Tidak setiap bulan purnama atau bulan baru akan diikuti gempa besar. Jika demikian halnya, pola gempa akan sangat mudah diprediksi, padahal kenyataannya tidak. Yang terjadi adalah interaksi kompleks antara tegangan tektonik, sifat batuan, kondisi fluida di bawah permukaan, serta berbagai faktor eksternal termasuk pasang surut.

Beberapa ahli juga mempelajari bagaimana pasang surut dapat memengaruhi gempa vulkanik dan tremor non-vulkanik. Pada gunung berapi, perubahan tekanan akibat pasang surut dapat memengaruhi pergerakan magma dan fluida di dalam saluran vulkanik, sehingga berpotensi memicu aktivitas seismik kecil. Di zona subduksi, pasang surut dapat memengaruhi perilaku slip lambat atau slow slip event yang terjadi tanpa guncangan besar.

Implikasi bagi Mitigasi Bencana

Memahami pengaruh Matahari dan Bulan terhadap gempa membuka peluang baru dalam kajian seismologi. Meskipun belum bisa digunakan untuk memprediksi waktu gempa secara akurat, informasi ini dapat membantu ilmuwan memperkirakan kapan sebuah patahan yang sudah kritis lebih berpotensi mengalami pelepasan energi. Pendekatan ini masih dalam tahap penelitian dan membutuhkan data jangka panjang serta pemodelan yang lebih canggih.

Bagi masyarakat umum, pengetahuan ini lebih bersifat edukatif. Gempa bumi tetap merupakan peristiwa yang sulit diprediksi dan bisa terjadi kapan saja. Karena itu, upaya mitigasi seperti pembangunan struktur tahan gempa, sistem peringatan dini, edukasi kebencanaan, dan kesiapsiagaan masyarakat tetap menjadi prioritas utama. Faktor benda langit tidak boleh dijadikan dasar untuk mengabaikan kesiapan menghadapi gempa.

Dengan kata lain, Matahari dan Bulan memang memiliki pengaruh terhadap Bumi, termasuk pada kerak yang kita pijak. Namun pengaruh itu bekerja dalam kerangka yang sangat halus dan hanya bermakna ketika kondisi bawah permukaan sudah mendekati titik kritis. Gempa bumi tetap merupakan hasil dari proses tektonik yang berlangsung lama, dan pemahaman mengenai peran benda langit menjadi salah satu bagian kecil dari upaya ilmuwan untuk mengurai misteri bencana alam ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Sandi Setiawan

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter