Bung Ferry Minta The Jakmania Belajar dari Sanksi Larangan Away
Tokoh Persija Jakarta yang akrab disapa Bung Ferry meminta The Jakmania menjadikan sanksi larangan mendukung di laga away sebagai pelajaran berharga. Menurutnya, hukuman tersebut bukan sekadar persoalan administratif yang selesai setelah surat keputusan dibacakan, melainkan sinyal bahwa perilaku di tribun telah memasuki wilayah yang berdampak langsung terhadap klub, tim, dan kompetisi secara keseluruhan.
Dalam sejumlah kesempatan, Bung Ferry menegaskan bahwa suporter selalu menjadi bagian tak terpisahkan dari perjalanan Persija. Namun ia mengingatkan, kedekatan emosional itu harus diimbangi dengan kesadaran kolektif untuk menjaga aturan. Larangan mendukung di kandang lawan dinilainya sebagai konsekuensi yang wajar ketika batas-batas regulasi dilanggar, terutama jika berkaitan dengan penggunaan atribut terlarang, nyanyian yang menyinggung pihak lain, maupun tindakan yang mengganggu ketertiban di dalam dan sekitar stadion.
Sanksi Bukan Hukuman untuk Individu
Bung Ferry meminta sanksi larangan away tidak dipahami sebagai bentuk permusuhan terhadap The Jakmania. Ia justru melihatnya sebagai mekanisme yang dirancang otoritas kompetisi untuk menjaga keselamatan bersama, termasuk keselamatan suporter itu sendiri. Menurutnya, ketika sebuah kelompok dianggap melanggar, hukuman tidak jatuh kepada satu orang, tetapi dirasakan oleh seluruh komunitas, mulai dari suporter yang selama ini tertib hingga pemain yang kehilangan dukungan langsung di tribun.
Ia menilai hal itu sebagai bentuk ketidakadilan yang seharusnya mendorong evaluasi internal. Selama ini, kata dia, banyak anggota The Jakmania yang hadir ke stadion dengan tertib, membawa keluarga, dan menghormati pendukung tuan rumah. Perilaku segelintir orang yang melanggar aturan justru mencoreng citra mayoritas yang justru ingin menikmati pertandingan dengan aman dan nyaman.
Dampak Langsung terhadap Tim
Dari sisi teknis, larangan mendukung di laga away memberi pengaruh nyata. Dukungan suporter yang biasanya menjadi energi tambahan di stadion lawan hilang, sementara pemain tetap dituntut meraih hasil maksimal. Bung Ferry menyebut situasi itu sebagai beban ganda. Tim kehilangan atmosfer yang biasa membantu secara mental, sementara klub harus menanggung konsekuensi reputasi di mata publik sepak bola nasional.
Selain itu, ia mengingatkan adanya potensi kerugian lain, seperti berkurangnya pendapatan dari penjualan tiket away, hilangnya momentum promosi klub, serta terganggunya hubungan baik dengan klub-klub lain yang selama ini menerima kedatangan suporter tamu. Menurutnya, sepak bola nasional sedang berupaya membangun ekosistem yang lebih profesional, dan perilaku di tribun merupakan bagian dari penilaian itu.
Regulasi yang Harus Dipahami Bersama
Bung Ferry mendorong The Jakmania memahami secara utuh regulasi yang berlaku, mulai dari kode disiplin hingga aturan teknis penyelenggaraan pertandingan. Ia menilai sosialisasi aturan sering kali berhenti pada level pengurus, sementara anggota di lapangan tidak mendapatkan informasi yang memadai. Akibatnya, pelanggaran kerap terjadi bukan karena kesengajaan, tetapi karena ketidaktahuan.
Ia menyarankan agar koordinasi antara klub, pengurus suporter, dan aparat keamanan diperkuat. Informasi mengenai larangan membawa atribut tertentu, pengaturan titik kumpul, jalur masuk stadion, hingga mekanisme transportasi bersama perlu disampaikan jauh sebelum hari pertandingan. Dengan begitu, potensi benturan dengan petugas dan suporter tuan rumah dapat ditekan sejak awal.
Ajakan Evaluasi dan Koordinasi
Lebih lanjut, Bung Ferry mengajak The Jakmania menjadikan momen ini sebagai titik balik. Ia berharap muncul kesepakatan internal yang lebih tegas, misalnya sanksi dari komunitas sendiri bagi anggota yang terbukti melanggar aturan. Menurutnya, penegakan aturan dari dalam akan jauh lebih efektif dibandingkan hukuman yang datang dari luar, karena melibatkan rasa memiliki terhadap klub.
Ia juga menekankan pentingnya peran korwil dan komunitas kecil sebagai ujung tombak edukasi. Kelompok-kelompok ini dinilai paling dekat dengan anggota sehari-hari, sehingga pesan mengenai pentingnya ketertiban bisa tersampaikan secara langsung. Pendekatan itu dianggap lebih efektif dibandingkan imbauan yang hanya beredar di media sosial.
Suporter sebagai Wajah Klub
Dalam pandangan Bung Ferry, suporter adalah wajah klub. Ketika tribun berperilaku baik, citra Persija ikut terangkat. Sebaliknya, ketika terjadi pelanggaran, nama klub yang pertama kali disebut. Karena itu, ia meminta setiap anggota The Jakmania memahami tanggung jawab yang melekat pada identitas yang mereka kenakan.
Ia menegaskan, dukungan tidak hanya diukur dari seberapa keras nyanyian diteriakkan, tetapi juga dari kemampuan menaati aturan. Menurutnya, suporter yang dewasa adalah mereka yang mampu menahan diri, menghormati lawan, dan menempatkan keselamatan bersama di atas ego kelompok. Sikap itulah yang akan membuat kehadiran The Jakmania di stadion mana pun tetap diterima dan dihormati.
Bung Ferry berharap sanksi larangan away menjadi pelajaran yang tidak terulang. Ia mengajak seluruh pihak duduk bersama, mengevaluasi penyebab, dan menyusun langkah perbaikan yang konkret. Dengan begitu, dukungan terhadap Persija dapat kembali hadir secara penuh, tanpa harus dibayar dengan hukuman yang merugikan tim maupun komunitas suporter sendiri.
Komentar (0)