22, 2026
Teknologi

Karhutla Meluas, 4 Pintu Wisata TN Tanjung Puting Ditutup Mulai 24 Oktober

karhutla di kawasan Taman Nasional Tanjung Puting, Kalteng, berdampak pada akses wisata. Empat pintu masuk di TNTP ditutup sementara mulai Sabtu besok.]]>

Fajar Hidayat
Fajar Hidayat Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Karhutla Meluas, 4 Pintu Wisata TN Tanjung Puting Ditutup Mulai 24 Oktober

Empat pintu masuk kawasan wisata Taman Nasional (TN) Tanjung Puting di Kalimantan Tengah resmi ditutup mulai 24 Oktober menyusul meluasnya kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di kawasan tersebut. Penutupan berlaku untuk seluruh kunjungan wisatawan, baik rombongan maupun perorangan, hingga kondisi lapangan dinyatakan kembali aman.

Keputusan itu diambil setelah pengelola taman nasional melakukan rapat koordinasi dengan instansi terkait, termasuk Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD), kepolisian, dan TNI. Penutupan dinilai sebagai langkah paling rasional untuk mencegah jatuhnya korban, mengingat asap tebal dan titik api yang terus bergerak mendekati jalur kunjungan wisata.

Alasan Penutupan: Asap Tebal hingga Jalur Terputus

Berdasarkan keterangan pengelola, kabut asap di sejumlah ruas jalur wisata sudah menurunkan jarak pandang secara signifikan. Kondisi itu membuat perjalanan menyusuri sungai dan jalur darat menuju lokasi pengamatan satwa berisiko tinggi, terutama pada pagi dan sore hari ketika asap biasanya lebih pekat.

Selain gangguan jarak pandang, api yang menjalar di area gambut menimbulkan asap di bawah permukaan tanah. Jenis kebakaran ini sulit dipadamkan dengan cara biasa dan dapat bertahan lama meski permukaan lahan tampak sudah tidak berasap. Pengelola menilai risiko tersebut tidak dapat diabaikan jika kegiatan wisata tetap dijalankan.

Penutupan juga menyangkut keselamatan petugas. Selama masa tanggap darurat, sebagian besar personel taman nasional dikerahkan untuk membantu pemadaman dan pemantauan titik panas. Dengan demikian, jumlah petugas yang dapat mendampingi wisatawan menjadi terbatas.

Karhutla Meluas di Sejumlah Titik

Karhutla di kawasan TN Tanjung Puting dan sekitarnya dilaporkan meluas dalam beberapa pekan terakhir. Kemarau yang berkepanjangan, curah hujan yang rendah, serta hembusan angin membuat api cepat merambat, terutama di lahan gambut yang mengering.

Selain di dalam kawasan, titik api juga muncul di area penyangga dan lahan masyarakat di sekitar desa-desa yang berbatasan dengan taman nasional. Asap dari kebakaran tersebut terbawa angin hingga ke permukiman dan pusat pemerintahan terdekat, sehingga kualitas udara ikut menurun.

Pengelola taman nasional mencatat bahwa luasan terbakar masih terus berubah karena pemantauan dilakukan secara berkala. Penghitungan akhir baru akan dilakukan setelah seluruh titik api berhasil dipadamkan dan kondisi lapangan benar-benar kondusif.

Empat Pintu Wisata yang Ditutup

Empat pintu wisata yang ditutup meliputi kawasan Tanjung Harapan, Pondok Tanggui, Camp Leakey, dan Natai Lengkuas. Keempat lokasi itu selama ini menjadi tujuan utama wisatawan, khususnya untuk mengamati orangutan Kalimantan dan satwa endemik lain di habitat aslinya.

Penutupan mencakup seluruh aktivitas di dalam kawasan, mulai dari kunjungan harian, pengamatan satwa, penelitian, hingga kegiatan pendidikan lingkungan. Wisatawan yang telah memiliki rencana kunjungan diminta menunda perjalanan dan menghubungi penyedia jasa wisata masing-masing untuk proses penjadwalan ulang.

Jalur utama menuju kawasan, yakni melalui Sungai Sekonyer dengan kapal klotok dari Kumai, juga tidak diizinkan digunakan untuk kepentingan wisata selama masa penutupan. Akses hanya dibuka untuk keperluan penanganan darurat, logistik pemadaman, dan patroli petugas.

Dampak bagi Pelaku Wisata dan Warga

Penutupan berdampak langsung pada pelaku usaha wisata di sekitar Kumai dan Pangkalan Bun. Pemilik kapal klotok, pemandu wisata, penyedia homestay, dan pedagang yang menggantungkan penghasilan dari kunjungan wisatawan kehilangan pesanan selama masa tanggap darurat.

Sejumlah pemilik kapal mengaku telah menerima pembatalan dan penundaan jadwal dari wisatawan domestik maupun mancanegara. Meski merugikan secara ekonomi, sebagian besar pelaku usaha memahami alasan keselamatan yang menjadi dasar penutupan.

Pemerintah daerah diharapkan menyiapkan skema pendampingan bagi pelaku usaha wisata yang terdampak, termasuk kemungkinan relaksasi kewajiban usaha selama masa penutupan berlangsung.

Upaya Pemadaman dan Pencegahan

Pemadaman dilakukan secara terpadu oleh tim gabungan yang terdiri dari petugas taman nasional, Manggala Agni, BPBD, TNI, kepolisian, serta masyarakat peduli api. Metode yang digunakan mencakup pemadaman darat, pembuatan sekat bakar, dan penyemprotan air dari sumber terdekat.

Untuk titik api yang sulit dijangkau, bantuan pemadaman udara dinilai diperlukan, terutama di area gambut yang dalam. Selain pemadaman, tim melakukan patroli rutin untuk mendeteksi titik panas baru dan memastikan tidak ada aktivitas pembukaan lahan dengan cara membakar.

Pengelola menegaskan bahwa pembukaan lahan dengan membakar dilarang dan pelakunya dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan yang berlaku. Masyarakat diminta segera melaporkan kemunculan asap atau api di sekitar permukiman dan kawasan hutan.

Antisipasi Dampak pada Satwa

Selain manusia, kebakaran berpotensi mengganggu populasi satwa, terutama orangutan yang menjadi ikon taman nasional ini. Asap dan hilangnya sebagian tutupan vegetasi dapat mempersulit satwa mencari pakan serta memaksa mereka berpindah ke area lain.

Tim pemantauan satwa melakukan pengamatan berkala di sejumlah titik untuk memastikan kondisi orangutan dan satwa lain tetap terpantau. Namun, kegiatan tersebut dibatasi pada area yang dinilai aman dari jangkauan api dan asap pekat.

Evaluasi Berkala Sebelum Pembukaan Kembali

Masa penutupan belum ditetapkan tenggat akhirnya. Pembukaan kembali kawasan wisata akan dilakukan secara bertahap setelah melalui evaluasi, dengan mempertimbangkan kondisi titik api, kualitas udara, jarak pandang, serta kesiapan petugas di lapangan.

Pengelola mengimbau masyarakat dan wisatawan memantau informasi resmi sebelum merencanakan kunjungan. Prioritas utama saat ini adalah penanganan karhutla dan perlindungan keselamatan semua pihak, termasuk wisatawan, petugas, dan warga di sekitar kawasan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Fajar Hidayat

Penulis berita kesehatan nasional dan kebijakan layanan medis.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter