21, 2026
Ekonomi

Bursa RI Terancam Turun ke Standalone Market, Ini Saran DEN ke Prabowo

Dewan Ekonomi Nasional menyarankan Presiden Prabowo melanjutkan reformasi pasar modal pascapengumuman MSCI.]]>

Hendra Hartono
Hendra Hartono Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Bursa RI Terancam Turun ke Standalone Market, Ini Saran DEN ke Prabowo

Pasar modal Indonesia menghadapi tekanan eksternal yang serius setelah muncul peringatan bahwa Bursa Efek Indonesia berisiko turun status dari pasar berkembang (emerging market) menjadi standalone market. Ancaman itu mendorong Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan sejumlah rekomendasi kebijakan kepada Presiden Prabowo Subianto agar langkah perbaikan dapat diambil sebelum keputusan lembaga penyedia indeks global diambil.

Penurunan status tersebut bukan persoalan simbolis. Reputasi sebuah bursa menentukan jenis investor yang boleh masuk, besaran aliran dana yang bisa ditempatkan, serta biaya modal yang harus ditanggung perusahaan-perusahaan dalam negeri. Ketika sebuah negara dikeluarkan dari klasifikasi pasar berkembang, banyak pengelola dana institusi global tidak lagi memiliki mandat untuk menempatkan dana di sana, meski fundamental ekonominya dinilai baik.

Arti Standalone Market dan Konsekuensinya

Dalam kerangka klasifikasi indeks global, standalone market adalah status paling rendah bagi sebuah pasar saham. Status ini diberikan ketika sebuah bursa dinilai tidak lagi memenuhi syarat aksesibilitas minimum bagi investor asing, baik dari sisi likuiditas, keterbukaan informasi, kemudahan bertransaksi, maupun kepastian regulasi. Pada posisi itu, sebuah pasar tidak lagi dijadikan bagian dari alokasi indeks pasar berkembang maupun pasar frontier.

Konsekuensinya berantai. Dana asing yang selama ini menjadi salah satu penopang likuiditas harian berpotensi mengalir keluar secara bertahap. Perusahaan tercatat, terutama yang memiliki porsi kepemilikan asing besar, menghadapi risiko penurunan valuasi. Pemerintah juga berpotensi menanggung biaya penerbitan surat utang yang lebih tinggi karena persepsi risiko atas seluruh kelas aset nasional ikut terpengaruh.

Persoalan yang Membuat Bursa Rentan

Free float yang Terlalu Kecil

Salah satu sorotan utama adalah rendahnya porsi saham yang benar-benar diperdagangkan di publik atau free float. Sejumlah emiten berskapitalisasi besar masih dikendalikan oleh segelintir pemegang saham pengendali, sehingga saham yang tersedia untuk diperdagangkan sangat terbatas. Kondisi ini membuat perhitungan bobot indeks menjadi tidak mencerminkan likuiditas sebenarnya dan menyulitkan investor besar masuk atau keluar posisi tanpa menggerakkan harga.

Konsentrasi Pasar dan Likuiditas

Likuiditas bursa juga terkonsentrasi pada sekelompok kecil saham. Di luar saham-saham utama itu, nilai transaksi harian relatif tipis. Bagi pengelola dana global, pasar yang likuiditasnya sempit dianggap berisiko karena potensi slippage dan kesulitan eksekusi. Persoalan ini diperparah oleh kebiasaan pasar yang menempatkan sebagian besar aktivitas pada emiten yang sama dari tahun ke tahun.

Keterbukaan Informasi dan Kepastian Regulasi

Aspek lain yang kerap disorot adalah konsistensi keterbukaan informasi emiten, kualitas laporan keuangan, serta kepastian atas perubahan aturan. Investor jangka panjang membutuhkan kerangka regulasi yang stabil dan dapat diprediksi. Perubahan kebijakan yang mendadak, termasuk yang menyangkut mekanisme perdagangan dan kewajiban pelaporan, dapat menurunkan skor aksesibilitas sebuah pasar.

Rekomendasi DEN kepada Prabowo

Dalam rekomendasinya, DEN menekankan bahwa perbaikan harus dilakukan secara struktural, bukan sekadar kampanye menjaga citra pasar. Rekomendasi tersebut antara lain mencakup:

Peningkatan Ambang Batas Free Float

DEN mendorong kenaikan batas minimum saham yang wajib dilepas ke publik secara bertahap, disertai tenggat waktu yang jelas bagi emiten untuk menyesuaikan diri. Kebijakan ini dinilai perlu agar bobot indeks mencerminkan jumlah saham yang benar-benar dapat diperdagangkan, sekaligus memperlebar basis investor ritel dan institusi domestik.

Penguatan Transparansi dan Tata Kelola Emiten

Rekomendasi lain menyangkut pengetatan kewajiban pelaporan, keterbukaan atas struktur kepemilikan hingga pemegang saham manfaat akhir, serta penegakan aturan terhadap emiten yang lalai menyampaikan informasi material. Tata kelola yang lebih baik disebut sebagai prasyarat agar kepercayaan investor asing tidak hanya bergantung pada insentif jangka pendek.

Pendalaman Pasar dan Basis Investor Domestik

DEN juga menyoroti pentingnya memperkuat sisi permintaan, antara lain melalui perluasan partisipasi investor domestik seperti dana pensiun, asuransi, dan pengelola dana. Basis investor dalam negeri yang kuat dinilai mampu menjadi penyangga ketika aliran dana asing berbalik arah, sekaligus mengurangi ketergantungan bursa pada modal luar negeri.

Perbaikan Mekanisme Perdagangan

Aspek teknis seperti jam perdagangan, mekanisme lelang, aturan auto rejection, serta biaya transaksi turut menjadi bagian dari saran yang disampaikan. Penyederhanaan dan penyesuaian mekanisme ini diharapkan mempermudah eksekusi transaksi bagi investor institusi lintas negara.

Respons dan Langkah Lanjutan

Otoritas bursa dan regulator pasar modal telah menyatakan komitmen untuk menindaklanjuti sejumlah poin perbaikan, termasuk kajian atas aturan free float dan penguatan keterbukaan informasi. Namun pelaku pasar menilai kecepatan eksekusi menjadi faktor penentu, mengingat jadwal peninjauan klasifikasi indeks berlangsung secara berkala dan tidak menunggu kesiapan suatu negara.

Kalangan analis mengingatkan bahwa hasil akhirnya bergantung pada bukti nyata di lapangan, bukan pada pernyataan komitmen. Perbaikan yang bersifat teknis mudah diumumkan, tetapi yang menentukan penilaian adalah apakah aturan benar-benar dijalankan dan apakah likuiditas pasar meningkat secara terukur dalam beberapa periode ke depan.

Dampak Jika Status Berubah

Jika skenario terburuk terjadi, dampak pertama yang dirasakan adalah tekanan pada nilai tukar dan pasar obligasi, karena dana asing umumnya keluar dari seluruh kelas aset, bukan hanya saham. Berikutnya, perusahaan yang berencana melakukan penawaran saham perdana menghadapi tantangan lebih berat karena basis investor menyempit. Dalam jangka menengah, biaya modal yang lebih tinggi dapat mengurangi ruang ekspansi dunia usaha.

Sebaliknya, jika perbaikan struktural berhasil dijalankan, Indonesia berpotensi memperoleh manfaat berupa peningkatan bobot dalam indeks, aliran dana pasif yang lebih besar, serta valuasi yang lebih adil bagi emiten dengan fundamental sehat. Karena itu, persoalan ini kini tidak lagi semata urusan bursa, melainkan agenda kebijakan ekonomi yang membutuhkan koordinasi antara pemerintah, regulator, dan pelaku pasar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Hartono

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter