21, 2026
Ekonomi

Miliarder Baru Arab Saudi Kaya Raya dari Air, Tak Lagi Minyak

Keluarga pebisnis di Arab Saudi, salah satu negara terkaya di dunia berkat ekspor minyaknya, mengumpulkan kekayaan lebih dari USD 9 miliar.]]>

Kirana Wijaya
Kirana Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Miliarder Baru Arab Saudi Kaya Raya dari Air, Tak Lagi Minyak

Selama hampir satu abad, kekayaan paling besar di Arab Saudi lahir dari perut bumi: minyak. Namun lanskap ekonomi Kerajaan kini menunjukkan pergeseran yang jarang dibicarakan, yaitu munculnya kelompok pengusaha yang membangun kekayaan dari air. Bukan air sebagai sumber daya yang gratis, melainkan air yang diproduksi melalui industri desalinasi raksasa, jaringan pipa, dan kontrak pasokan jangka panjang yang nilainya mencapai miliaran dolar.

Arab Saudi adalah salah satu produsen air desalinasi terbesar di dunia. Karena hampir tidak memiliki sungai permanen dan curah hujan sangat rendah, negara ini bergantung pada air laut yang diolah menjadi air minum. Ketergantungan itu, yang dulu dianggap sebagai persoalan teknis, kini berubah menjadi sektor bisnis yang menarik bagi investor, kontraktor, dan pemilik modal.

Pergeseran dari minyak ke air

Perubahan ini tidak terjadi dalam semalam. Pemerintah Arab Saudi melalui Vision 2030 mendorong diversifikasi ekonomi dan mengurangi ketergantungan pada pendapatan minyak. Salah satu konsekuensinya adalah membuka sektor utilitas, termasuk air, kepada pihak swasta. Produksi air yang sebelumnya hampir seluruhnya ditangani negara secara bertahap diserahkan kepada perusahaan melalui skema kemitraan publik-swasta.

Perusahaan seperti ACWA Power menjadi contoh paling menonjol. Perusahaan yang berbasis di Riyadh ini tumbuh dari pengembang pembangkit listrik menjadi salah satu pemain utama desalinasi di kawasan. Sejak mencatatkan sahamnya di Bursa Efek Saudi (Tadawul) pada 2021, nilai perusahaan itu melonjak dan menjadikannya salah satu emiten dengan kapitalisasi pasar terbesar di luar sektor energi fosil. Kekayaan para pemegang saham pendiri dan investor awal ikut terdongkrak, bukan karena harga minyak, melainkan karena kontrak pasokan air.

Desalinasi sebagai mesin bisnis

Model bisnisnya relatif sederhana untuk dipahami. Pemerintah membutuhkan pasokan air yang stabil bagi kota-kota yang tumbuh cepat. Perusahaan swasta membangun dan mengoperasikan pabrik desalinasi, lalu menjual air kepada negara melalui kontrak jangka panjang, umumnya 20 hingga 25 tahun. Kontrak semacam ini memberikan pendapatan yang relatif dapat diprediksi, sesuatu yang sangat dihargai investor dibandingkan fluktuasi harga komoditas.

Privatisasi dan kontrak jangka panjang

Saudi Water Partnership Company, yang bertindak sebagai pihak pembeli air pemerintah, telah mengumumkan sejumlah proyek desalinasi berskala besar dengan teknologi reverse osmosis. Teknologi ini dinilai lebih efisien dibandingkan metode distilasi termal yang membutuhkan banyak energi. Sejumlah proyek bahkan dirancang menggunakan energi matahari, termasuk fasilitas yang dibangun untuk mendukung kawasan NEOM di bagian barat laut negara itu.

Bagi kontraktor dan pengembang, setiap pabrik yang beroperasi berarti aliran pendapatan tetap selama puluhan tahun. Bagi pemerintah, skema ini mengurangi beban anggaran karena biaya pembangunan tidak sepenuhnya ditanggung negara. Inilah kombinasi yang melahirkan kekayaan baru di sektor yang dulu dianggap tidak menarik secara komersial.

Tekanan populasi dan konsumsi air

Kebutuhan air di Arab Saudi terus meningkat. Populasi yang bertambah, urbanisasi yang cepat, dan standar hidup yang lebih tinggi mendorong konsumsi air rumah tangga naik. Sebagian besar kota besar seperti Riyadh, Jeddah, dan Dammam bergantung sepenuhnya pada air desalinasi yang dialirkan melalui jaringan pipa sepanjang ratusan kilometer.

Pemerintah juga melakukan reformasi tarif air pada 2016 untuk mendorong efisiensi dan mengurangi pemborosan. Di sisi lain, sektor pertanian yang dulu menyerap sebagian besar air mendapat tekanan besar. Arab Saudi pernah menjadi produsen gandum dalam negeri, tetapi program itu dihentikan karena dianggap terlalu boros air. Keputusan tersebut menegaskan bahwa air kini dipandang sebagai sumber daya strategis yang harus dikelola secara ekonomi, bukan sekadar dipompa.

Biaya energi dan beban lingkungan

Meski disebut sebagai bisnis masa depan, desalinasi bukan tanpa masalah. Proses pengolahan air laut membutuhkan energi besar. Ketika pabrik masih menggunakan bahan bakar fosil, jejak karbonnya signifikan. Peralihan ke energi terbarukan menjadi kunci, tetapi investasinya tidak murah. Pembangkit listrik tenaga surya dan angin yang memasok pabrik desalinasi memerlukan lahan, jaringan transmisi, dan biaya modal besar.

Isu lain adalah limbah air garam yang dilepas kembali ke laut. Konsentrasi garam yang tinggi dapat memengaruhi ekosistem pesisir jika tidak dikelola dengan baik. Regulator lingkungan menuntut kajian dampak yang lebih ketat, sementara operator menghadapi tekanan untuk menekan biaya produksi.

Kritik terhadap model privatisasi

Tidak semua pihak menyambut baik pergeseran ini. Sejumlah pengamat ekonomi mengingatkan bahwa kontrak jangka panjang dengan jaminan pembelian air dapat membebani anggaran negara dalam jangka panjang. Jika permintaan meleset dari proyeksi, pemerintah tetap wajib membayar sesuai kontrak. Ada pula kekhawatiran bahwa konsentrasi pasar pada beberapa perusahaan besar membuat ruang bagi pemain kecil semakin sempit.

Di sisi lain, pendukung skema ini berargumen bahwa tanpa partisipasi swasta, pemerintah tidak akan mampu membangun kapasitas desalinasi secepat yang dibutuhkan. Efisiensi teknis dan kecepatan konstruksi dinilai lebih baik ketika proyek dijalankan dengan disiplin komersial.

Implikasi bagi ekonomi Arab Saudi

Munculnya kekayaan dari sektor air menunjukkan bahwa ekonomi Arab Saudi sedang berubah struktur. Minyak tetap menjadi tulang punggung pendapatan negara, tetapi lapisan pengusaha baru tumbuh dari sektor infrastruktur dan utilitas. Mereka tidak bergantung pada harga minyak dunia, melainkan pada kebutuhan dasar manusia akan air bersih.

Ke depan, pertanyaannya bukan lagi apakah Arab Saudi bisa menghasilkan air, tetapi siapa yang menguasai rantai produksinya, dengan biaya berapa, dan siapa yang menanggung risikonya. Di negara yang hampir tidak memiliki sungai, air telah berubah dari kebutuhan hidup menjadi aset ekonomi yang diperdagangkan, dan dari situlah kekayaan baru lahir.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Wijaya

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter