20, 2026
Nasional

⁠Celaka Berulang Kali di Separator Koridor 9

Lalu lintas di Jalan MT Haryono Jakarta Timur arah Cawang sempat macet imbas kecelakaan truk yang menabrak separator jalur bus (busway) TransJakarta Koridor 9.]]>

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

⁠Celaka Berulang Kali di Separator Koridor 9

Separator atau pembatas lajur Bus Rapid Transit (BRT) di Koridor 9 TransJakarta kembali menjadi lokasi kecelakaan. Insiden yang berulang di jalur Pluit–Pinang Ranti itu menunjukkan persoalan yang tidak selesai: infrastruktur pemisah lajur belum sepenuhnya menjalankan fungsi keselamatan, baik bagi pengguna kendaraan pribadi maupun bagi penumpang dan petugas bus.

Koridor 9 membentang sekitar 28 kilometer dan melintasi sejumlah kawasan paling padat di Jakarta, mulai dari Pluit, Grogol, Slipi, Semanggi, Kuningan, Tebet, hingga Cawang dan Pinang Ranti. Separator beton berukuran rendah dipasang di sepanjang jalur untuk menjaga kekhususan lajur bus dari lalu lintas umum. Namun di banyak titik, pembatas itu justru menjadi benda yang ditabrak, dilewati secara ilegal, atau membuat kendaraan terperangkap.

Pola Insiden yang Berulang

Kecelakaan di separator umumnya terjadi dalam beberapa bentuk yang serupa. Kendaraan pribadi menabrak sisi pembatas hingga bodi penyok dan roda patah, kendaraan terperangkap di atas separator sehingga harus dievakuasi dengan bantuan petugas, atau pengendara terjatuh dan mengalami luka ringan hingga berat. Kejadian semacam ini berlangsung berulang dari tahun ke tahun dengan lokasi yang berpindah-pindah, tetapi sering muncul di tikungan, mendekati persimpangan, dan pada ruas yang penerangannya minim.

Sejumlah insiden tercatat terjadi pada malam hari dan saat hujan. Pada kondisi tersebut, keberadaan separator rendah sulit dikenali dari jarak jauh, terutama bila marka sudah pudar, reflektor tidak lagi memantulkan cahaya, atau permukaan jalan tergenang sehingga batas lajur tidak terlihat. Pengemudi yang tidak akrab dengan geometri jalur pun lebih rentan salah memperkirakan posisi kendaraan.

Faktor Penerangan dan Marka

Persoalan pencahayaan menjadi sorotan karena berkaitan langsung dengan visibilitas separator. Lampu jalan yang mati atau redup, ditambah warna separator yang menyatu dengan aspal saat malam, membuat pembatas sulit dilihat. Marka tepi lajur yang telah aus memperparah kondisi itu. Di beberapa titik, rambu peringatan dan pita reflektif yang pernah dipasang tidak terawat sehingga fungsinya hilang.

Faktor cuaca melengkapi persoalan tersebut. Genangan air dapat menutupi sebagian separator, sementara hujan menurunkan jarak pandang dan memperpanjang jarak pengereman. Kombinasi itu membuat kesalahan kecil dari pengemudi berpotensi berujung pada benturan.

Dampak bagi Layanan dan Keselamatan

Kecelakaan di separator tidak hanya merugikan pengendara yang terlibat. Insiden semacam itu mengganggu kelancaran lajur bus, memaksa pengemudi melakukan manuver mendadak, dan berpotensi membuat penumpang yang berdiri terpental. Petugas lapangan juga berada di posisi berisiko ketika harus mengatur lalu lintas dan mengevakuasi kendaraan yang terjebak di jalur bus.

Bagi operator, gangguan pada jalur khusus berarti waktu tempuh bertambah dan jadwal armada terganggu. Bagi pengguna jalan umum, separator yang rusak akibat benturan berulang menambah daftar pekerjaan pemeliharaan yang harus dikerjakan. Perbaikan yang bersifat tambal sulam cenderung tidak menyelesaikan akar masalah, karena kerusakan yang sama dapat terulang dalam waktu singkat.

Upaya Perbaikan yang Belum Menyeluruh

Pemerintah Provinsi DKI Jakarta melalui dinas perhubungan dan operator TransJakarta telah melakukan sejumlah langkah, antara lain pemasangan ulang rambu, pengecatan separator, penambahan reflektor, serta perbaikan marka jalan di ruas-ruas tertentu. Penegakan hukum terhadap kendaraan yang menerobos lajur bus juga dilakukan secara berkala, meski belum berlangsung terus-menerus.

Kritik yang muncul adalah penanganan masih bersifat reaktif, yakni dilakukan setelah insiden terjadi dan terbatas pada titik kejadian. Evaluasi menyeluruh terhadap desain, material, dan tata letak separator di seluruh koridor belum menjadi agenda rutin. Padahal, karakter jalan di Koridor 9 sangat beragam: ada ruas lurus berkecepatan tinggi, persimpangan padat, tanjakan, hingga segmen dengan ruang manuver sempit.

Kebutuhan Audit Keselamatan Jalan

Pendekatan yang lebih sistematis diperlukan, salah satunya audit keselamatan jalan yang mencakup seluruh koridor BRT. Audit semacam itu dapat mengidentifikasi titik rawan berdasarkan data insiden, bukan berdasarkan laporan warga sesaat. Pencatatan kecelakaan yang terpusat dan terbuka akan membantu publik menilai apakah perbaikan yang diklaim benar-benar menurunkan jumlah insiden.

Opsi teknis yang sering dibahas mencakup peningkatan visibilitas separator melalui kombinasi warna kontras, reflektor berstandar, marka termoplastik, serta penerangan yang memadai di titik rawan. Pembatas dengan profil yang lebih mudah dikenali dan tidak menimbulkan kerusakan berat saat terserempet juga perlu dipertimbangkan. Selain itu, kanalisasi dan pengaturan pergerakan kendaraan di sekitar persimpangan perlu ditinjau agar pengemudi tidak salah mengantisipasi jalur.

Yang Perlu Dibangun ke Depan

Perbaikan menyeluruh menuntut koordinasi lintas instansi, mulai dari dinas perhubungan, dinas bina marga, kepolisian, hingga operator bus dan akademisi. Tanpa koordinasi itu, penanganan cenderung berhenti pada pengecatan dan pemasangan rambu yang sifatnya sementara.

Edukasi kepada pengendara juga menjadi bagian penting. Banyak insiden bermula dari pelanggaran lajur, pengendara yang berhenti di jalur bus, atau manuver menyalip di ruang yang tidak memadai. Penegakan hukum yang konsisten diperlukan agar fungsi lajur khusus tidak terus tergerus.

Hingga perbaikan menyeluruh itu terwujud, separator di Koridor 9 akan tetap menjadi titik rawan. Insiden yang berulang bukan sekadar rangkaian kecelakaan tunggal, melainkan penanda bahwa desain dan pemeliharaan infrastruktur belum sepenuhnya selaras dengan kebutuhan keselamatan pengguna jalan. Tanpa evaluasi yang mendasar, kejadian serupa berpotensi kembali terjadi di ruas yang sama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter