24, 2026
Nasional

Cerita Pramono Tak Bisa Tidur Jelang JRF 2026

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

**Cerita Pramono Tak Bisa Tidur Jelang JRF 2026** Malam di Jakarta belum sepenuhnya sunyi ketika Pramono masih terjaga. Jam di layar ponselnya menunjukkan lewat tengah malam. Ia sudah berbaring, mematikan lampu, dan mencoba menutup mata. Namun tidur tak kunjung datang. Pikirannya terus berjalan, melompat dari satu hal ke hal lain, seperti pelari yang enggan berhenti sebelum garis finis. Besok, Jakarta Running Festival atau JRF 2026 akan digelar. Dan bagi Pramono, malam ini terasa berbeda. Ia bukan sedang menunggu acara biasa. JRF 2026 bukan sekadar ajang lari bagi ribuan peserta. Di balik sorotan lampu start, ada wajah kota yang ingin ditunjukkan kepada publik: Jakarta yang tertata, aman, ramah, dan mampu menjadi tuan rumah event berskala besar. Pramono tahu betul bahwa keberhasilan acara tidak ditentukan hanya oleh kualitas lintasan atau catatan waktu. Ada banyak hal kecil yang harus berjalan sempurna: rekayasa lalu lintas, kesiapan relawan, pos air minum, tim medis, area bag drop, toilet, transportasi publik, hingga pengelolaan sampah. Karena itu, malam ini Pramono seperti membawa seluruh daftar periksa itu ke dalam kepalanya. Ia sempat membuka ponsel dan membaca ulang pesan dari panitia. Ada laporan terakhir tentang cuaca, kesiapan venue, dan jumlah peserta. Ia mengangguk pelan, tetapi tetap saja ada rasa was-was. Bukan karena kurang percaya pada tim, melainkan karena ia ingin semuanya berjalan sebaik mungkin. Ia tahu, satu keluhan kecil bisa menjadi sorotan besar. Satu kekeliruan teknis bisa mengurangi kenyamanan peserta. Pramono lalu bangkit dari tempat tidur. Ia menyalakan lampu meja, membuka buku catatan, dan menulis beberapa poin. Ia mencoret hal-hal yang sudah selesai, lalu menandai hal-hal yang perlu dicek pagi nanti. Sepatu larinya sudah disiapkan di dekat pintu. Jersey, nomor peserta, botol minum, dan beberapa perlengkapan kecil sudah tersusun rapi. Ia tersenyum sendiri. Biasanya ia mudah tidur. Namun menjelang JRF 2026, ada semacam energi yang membuat matanya tetap terbuka. Ada rasa senang, tentu. JRF adalah momen ketika orang-orang dari berbagai latar belakang berkumpul: pelari elite, pelari pemula, komunitas lari, keluarga, pekerja kantor, hingga warga yang sekadar ingin merasakan suasana. Ada pula rasa tanggung jawab. Pramono tidak ingin acara ini hanya meriah di atas panggung, tetapi juga nyaman di lapangan. Ia membayangkan peserta yang datang dari luar kota, mungkin sudah menyiapkan perjalanan jauh, membeli perlengkapan, dan berlatih berbulan-bulan. Mereka berhak mendapatkan pengalaman terbaik. Ia mencoba teknik pernapasan. Menarik napas, menahan sebentar, lalu mengembuskannya perlahan. Ia menghitung sampai dua puluh. Tetap tidak berhasil. Pikirannya kembali pada jalur lari. Apakah titik pergantian arah sudah jelas? Apakah pencahayaan di beberapa ruas cukup? Bagaimana dengan akses darurat? Apakah relawan sudah memahami prosedur terakhir? Pertanyaan-pertanyaan itu muncul satu per satu, seperti notifikasi yang tak bisa dimatikan. Di grup panitia, beberapa orang ternyata juga masih terjaga. Ada yang mengirim foto persiapan terakhir, ada yang memastikan kesiapan tenda medis, ada yang mengecek ulang jadwal. Melihat itu, Pramono merasa sedikit lebih tenang. Ia tidak sendirian. Di luar sana, banyak orang juga menahan kantuk demi kelancaran JRF 2026. Ada petugas keamanan, petugas kebersihan, tenaga medis, relawan, dan petugas transportasi yang mungkin sedang bekerja sejak malam. Pramono menutup buku catatan. Ia memutuskan untuk benar-benar beristirahat. Ia tahu, tubuhnya membutuhkan tenaga untuk besok. Tetapi sebelum mematikan lampu, ia sempat menulis satu kalimat singkat: “Yang penting aman, nyaman, dan semua pulang dengan cerita baik.” Kalimat itu seperti pengingat bahwa fokusnya bukan pada kesempurnaan tanpa cela, melainkan pada pengalaman yang manusiawi dan bertanggung jawab. Pagi datang lebih cepat dari yang ia bayangkan. Alarm berbunyi saat langit masih gelap. Pramono bangun dengan mata sedikit berat, tetapi semangatnya kembali penuh. Ia mandi, berpakaian, dan mengecek perlengkapan sekali lagi. Di perjalanan menuju lokasi, ia melihat beberapa ruas jalan mulai ditutup dan petugas bersiap. Beberapa pelari sudah terlihat berjalan kaki menuju area start. Suasana itu membuat jantungnya berdebar. Malam tanpa tidur yang tadi terasa panjang kini berubah menjadi ketegangan yang menyenangkan. Sesampainya di venue, Pramono berkeliling. Ia menyapa relawan, memastikan pos-pos penting berfungsi, dan melihat arus peserta. Semakin pagi, kawasan itu semakin hidup. Musik diputar, peserta melakukan pemanasan, dan suara percakapan memenuhi udara. Pramono menarik napas panjang. Ia tahu, masih mungkin ada hal-hal kecil yang harus diperbaiki. Namun ia juga melihat kerja keras banyak orang. Rasa cemas perlahan berganti menjadi harapan. Ketika akhirnya tanda start berbunyi, Pramono ikut larut dalam suasana. Ia tidak sedang mengejar catatan waktu pribadi. Ia sedang menjadi bagian dari sebuah peristiwa yang melibatkan banyak orang. Malam yang sulit tidur itu kini terasa seperti bagian dari cerita. Bukan cerita tentang kelemahan, melainkan tentang tanggung jawab yang membuat seseorang tetap terjaga. JRF 2026 akhirnya dimulai, dan Pramono, dengan mata yang masih sedikit lelah, melangkah bersama Jakarta.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter