23, 2026
Olahraga

Cetak 15 Gol di Liga Belanda, Striker Keturunan Indonesia Ini Ternyata Tak Bisa Bela Garuda Karena Masalah Aturan

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/06/19/6a34efd041fcf-dean-zandbergen_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Kirana Utami
Kirana Utami Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Persoalannya bukan sekadar soal minat atau kesediaan pemain. Dalam kasus Zandbergen, terdapat dua lapis aturan yang harus dilewati sebelum ia bisa berdiri di bawah bendera Merah Putih: aturan kewarganegaraan Indonesia dan regulasi kelayakan yang ditetapkan FIFA. Kedua lapis itu memiliki syarat yang berbeda, dan kegagalan memenuhi salah satunya sudah cukup untuk menutup pintu tersebut.

Rekor Gol yang Menarik Perhatian

Zandbergen dikenal sebagai penyerang yang bergerak di area kotak penalti dengan naluri mencetak gol yang cukup tajam. Torehan 15 gol di Liga Belanda merupakan capaian yang tidak bisa dianggap remeh, terutama bagi pemain muda yang masih membangun karier di kompetisi Eropa. Konsistensi mencetak gol dalam jumlah dua digit biasanya menjadi indikator bahwa seorang striker memiliki kualitas penyelesaian akhir di atas rata-rata.

Angka itu pula yang membuat namanya masuk dalam perbincangan penggemar sepak bola Indonesia. Publik terbiasa melihat pemain keturunan yang lahir dan besar di Eropa, lalu memilih membela Indonesia setelah melalui proses naturalisasi. Beberapa di antaranya bahkan langsung menjadi pilar utama di lini belakang dan tengah Timnas Indonesia. Logikanya, seorang striker produktif dari Liga Belanda seharusnya menjadi tambahan yang sangat berharga bagi lini depan.

Jejak Darah Indonesia yang Tidak Cukup Sendiri

Zandbergen memang memiliki garis keturunan Indonesia. Namun, dalam hukum kewarganegaraan Indonesia, memiliki darah Indonesia tidak otomatis berarti memegang status kewarganegaraan Indonesia. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2006 tentang Kewarganegaraan Republik Indonesia tidak menganut sistem dwikewarganegaraan penuh bagi orang dewasa. Anak yang lahir dengan dua kewarganegaraan wajib memilih salah satunya setelah mencapai usia tertentu.

Konsekuensinya, pemain keturunan yang lahir di Belanda umumnya berstatus warga negara asing di mata hukum Indonesia. Untuk bisa membela Timnas Indonesia, mereka harus lebih dulu menjadi warga negara Indonesia melalui jalur naturalisasi, yang prosesnya melibatkan pengajuan berkas, verifikasi dokumen keturunan, pembahasan di Dewan Perwakilan Rakyat, hingga penerbitan keputusan presiden. Jalur ini pernah ditempuh sejumlah pemain keturunan yang kini memperkuat skuad Garuda.

Masalahnya, jalur tersebut tidak selalu bisa dipakai. Dokumen keturunan yang dimiliki seorang pemain harus memenuhi syarat administrasi tertentu, misalnya garis keturunan yang masih berada dalam rentang yang diakui. Jika garis keturunan terlalu jauh atau bukti dokumen tidak lengkap, proses naturalisasi menjadi jauh lebih rumit dan memakan waktu lama.

Regulasi FIFA soal Perpindahan Asosiasi

Lapis aturan kedua datang dari FIFA. Regulasi FIFA mengenai penerapan statuta mengatur bahwa seorang pemain yang telah tampil dalam pertandingan resmi untuk satu asosiasi nasional terikat pada asosiasi tersebut, dengan sejumlah pengecualian. Pengecualian paling sering dipakai adalah bagi pemain yang hanya tampil di level kelompok umur.

Seorang pemain yang pernah memperkuat tim nasional kelompok umur suatu negara masih dapat berpindah asosiasi apabila saat pertandingan terakhirnya ia belum berusia 21 tahun dan ia belum pernah tampil lebih dari tiga kali di level senior untuk asosiasi tersebut. Selain itu, pemain juga harus memenuhi syarat kewarganegaraan negara tujuan dan tidak pernah tampil di pertandingan senior resmi yang mengikat.

Jika seorang pemain telah tampil di pertandingan resmi level senior, atau tampil di luar batas yang diperbolehkan pada level kelompok umur, maka pintu perpindahan asosiasi tertutup secara permanen. Inilah yang menjadi inti persoalan pada sejumlah kasus pemain keturunan yang batal memperkuat Indonesia meski secara emosional dan genealogis memiliki keterikatan yang kuat.

Benturan antara Bakat dan Prosedur

Kasus Zandbergen memperlihatkan bahwa kualitas di lapangan tidak selalu berbanding lurus dengan kelayakan administratif. Sepak bola modern memang menempatkan regulasi sebagai penentu, bukan hanya kemampuan teknis. Federasi tidak bisa memanggil pemain hanya karena ia mencetak banyak gol; ada dokumen, status hukum, dan riwayat pertandingan yang harus diperiksa satu per satu.

Bagi Timnas Indonesia, situasi ini menjadi pengingat bahwa proyek pemain keturunan memiliki batas yang jelas. Perburuan talenta di Eropa perlu dibarengi dengan pemetaan regulasi sejak awal, sehingga harapan publik tidak dibangun di atas dasar yang rapuh. Dalam kasus Zandbergen, torehan 15 gol tetap menjadi bukti kualitas, tetapi jalan menuju Garuda tampaknya harus berhenti pada aturan yang tidak bisa ditawar.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Kirana Utami

Reporter lapangan yang kerap menyoroti UMKM dan ekonomi kerakyatan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter