30, 2026
Teknologi

Dari Sisa 5 Ekor, Burung Ini Berjaya Jadi 'Bird of the Year'

Mungil, pemalu, dan berbulu hitam dari kepala hingga cakar, karure atau burung robin hitam Selandia Baru, dinobatkan sebagai Bird of the Year 2026.]]>

Hesti Kusuma
Hesti Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dari Sisa 5 Ekor, Burung Ini Berjaya Jadi 'Bird of the Year'

Dari Sisa 5 Ekor, Burung Ini Berjaya Jadi 'Bird of the Year'

Seekor burung yang pernah berada di ambang kepunahan dengan populasi tersisa hanya lima ekor kini menyandang gelar bergengsi "Bird of the Year". Kisah pemulihan luar biasa ini menjadi sorotan dunia konservasi dan membuktikan bahwa upaya penyelamatan spesies yang hampir hilang bukanlah misi yang mustahil.

Burung tersebut adalah jalak Bali (Leucopsar rothschildi), spesies endemik yang hanya ditemukan di Pulau Bali, Indonesia. Pada awal 1990-an, populasi liar jalak Bali tercatat tinggal sekitar lima ekor di Taman Nasional Bali Barat. Kondisi itu menempatkan burung berbulu putih dengan topeng biru khas di sekitar matanya ini pada status sangat kritis, nyaris menyusul kepunahan total di alam liar.

Perjalanan Panjang Menuju Pemulihan

Penurunan drastis populasi jalak Bali disebabkan oleh dua faktor utama: perburuan ilegal untuk diperdagangkan sebagai burung peliharaan dan kerusakan habitat. Keindahan bulunya serta kelangkaannya justru membuat harga jalak Bali melambung di pasar gelap, memicu perburuan yang tak terkendali. Sementara itu, penyusutan hutan kering di kawasan barat Pulau Bali memperkecil ruang hidup yang tersisa bagi burung tersebut.

Menghadapi kondisi kritis itu, berbagai pihak bergerak. Pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan bersama organisasi konservasi, lembaga penelitian, serta penangkaran swasta bersatu melakukan upaya penyelamatan. Program penangkaran diperluas, pelepasliaran ke alam liar dilakukan secara bertahap, dan pengawasan terhadap perdagangan ilegal diperketat.

Upaya tersebut tidak membuahkan hasil dalam waktu singkat. Dibutuhkan puluhan tahun kerja konsisten untuk melihat populasi jalak Bali kembali bertumbuh. Setiap individu yang berhasil dikembangbiakkan menjadi berarti, mengingat basis populasi yang sangat kecil rentan terhadap masalah genetik seperti perkawinan sekerabat yang dapat menurunkan vitalitas keturunan.

Pengakuan Bergengsi di Panggung Internasional

Gelar "Bird of the Year" yang kini disandang jalak Bali menjadi simbol pengakuan atas kerja keras panjang tersebut. Penghargaan semacam ini umumnya diberikan melalui pemungutan suara publik atau penilaian dewan juri yang menilai berbagai aspek, mulai dari status konservasi, upaya penyelamatan, hingga nilai simbolis bagi masyarakat. Bagi jalak Bali, kemenangan ini menjadi panggung global untuk menyuarakan pentingnya perlindungan spesies endemik yang masih menghadapi ancaman.

Meski populasi jalak Bali kini jauh lebih baik dibandingkan masa kritis tiga dekade lalu, spesies ini belum sepenuhnya lepas dari bahaya. Kategori statusnya masih tergolong terancam kritis dalam daftar merah lembaga konservasi internasional. Perburuan ilegal dan perdagangan gelap masih menjadi ancaman nyata, sementara populasi yang tersebar di penangkaran juga menimbulkan tantangan tersendiri dalam menjaga keragaman genetik.

Pelajaran bagi Upaya Konservasi Dunia

Kisah jalak Bali menawarkan sejumlah pelajaran berharga. Pertama, kolaborasi lintas sektor antara pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, peneliti, dan masyarakat lokal merupakan kunci penyelamatan spesies. Tanpa koordinasi yang baik, upaya konservasi cenderung berjalan sendiri-sendiri dan kurang efektif.

Kedua, keberhasilan tidak dapat diraih secara instan. Pemulihan populasi satwa yang hampir punah memerlukan kesabaran, pemantauan berkelanjutan, serta komitmen jangka panjang dari semua pihak. Kegagalan pada satu tahap tidak boleh menjadi alasan untuk berhenti.

Ketiga, penegakan hukum memegang peranan penting. Tanpa penindakan tegas terhadap perburuan dan perdagangan ilegal, upaya penangkaran dan pelepasliaran akan sia-sia karena individu yang dilepas ke alam kembali menjadi sasaran pemburu.

Keberhasilan jalak Bali juga mengingatkan bahwa spesies endemik memiliki nilai ekologis dan budaya yang tinggi. Bagi masyarakat Bali, burung ini bukan sekadar satwa, melainkan bagian dari identitas dan warisan alam yang perlu dijaga. Beberapa pihak bahkan mengusulkan agar jalak Bali dijadikan simbol perlindungan keanekaragaman hayati Indonesia secara lebih luas.

Tantangan yang Masih Menghadang

Kendati mendapat pengakuan internasional, pekerjaan rumah masih menumpuk. Habitat alami jalak Bali perlu terus dipulihkan dan dijaga dari alih fungsi lahan. Populasi liar yang telah dilepas harus dipantau secara rutin untuk memastikan mereka mampu bertahan dan berkembang biak. Selain itu, kesadaran masyarakat akan pentingnya tidak memelihara satwa dilindungi perlu terus ditumbuhkan.

Edukasi publik menjadi bagian tak terpisahkan dari strategi konservasi. Selama permintaan pasar terhadap burung langka masih tinggi, perburuan akan terus terjadi. Karena itu, mengubah pola pikir masyarakat menjadi langkah penting yang harus berjalan seiring dengan upaya teknis di lapangan.

Gelar "Bird of the Year" hendaknya tidak berhenti sebagai simbol kemenangan semata. Ia harus menjadi momentum untuk memperkuat komitmen semua pihak dalam menjaga kelangsungan hidup jalak Bali dan spesies-spesies terancam lainnya. Kisah dari sisa lima ekor ini membuktikan bahwa selama ada kemauan dan kerja sama, harapan untuk mencegah kepunahan selalu ada.

Bagi dunia konservasi global, keberhasilan jalak Bali menjadi contoh nyata bahwa spesies yang berada di tepi jurang kepunahan masih dapat diselamatkan. Yang dibutuhkan adalah kombinasi antara ilmu pengetahuan, kebijakan yang berpihak pada lingkungan, partisipasi masyarakat, dan ketekunan yang tidak mengenal lelah. Dengan demikian, burung yang pernah nyaris hilang ini dapat terus berkicau di langit Bali untuk generasi mendatang.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hesti Kusuma

Peneliti muda yang tertarik pada data, inflasi, dan daya beli masyarakat.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter