15, 2026
Politik

Data Center Bawa Ancaman Krisis Air, AHY Sudah Wanti-Wanti

Menteri AHY imbau industri data center perhitungkan kebutuhan air dan dampak lingkungan. Simak selengkapnya!]]>

Intan Kusuma
Intan Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Data Center Bawa Ancaman Krisis Air, AHY Sudah Wanti-Wanti

Data Center Bawa Ancaman Krisis Air, AHY Sudah Wanti-Wanti

Peningkatan jumlah data center di Indonesia menimbulkan kekhawatiran serius terhadap ketersediaan air bersih. Ancaman ini semakin mendesak seiring dengan pertumbuhan pesat industri teknologi informasi di Tanah Air. Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan (Menko Polhukam) Mahfud MD mengungkapkan bahwa adanya data center dapat memicu krisis air jika tidak diatur dengan baik.

Dalam keterangannya, Mahfud MD menyoroti dampak lingkungan dari operasional data center. "Data center membutuhkan banyak air untuk sistem pendinginnya. Jika jumlahnya terus bertambah tanpa perencanaan yang matang, potensi kekeringan akan semakin besar," ujarnya dalam sebuah acara seminar nasional beberapa waktu lalu.

Pertumbuhan Industri Digital dan Dampak Lingkungan

Industri digital di Indonesia mengalami pertumbuhan eksponensial dalam beberapa tahun terakhir. Banyak perusahaan teknologi global maupun lokal memilih Indonesia sebagai lokasi investasi, salah satunya dengan membangun data center. Menurut data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII), jumlah pengguna internet di Indonesia telah mencapai lebih dari 150 juta orang pada tahun 2023.

Data center, yang menjadi tulang punggung infrastruktur digital, membutuhkan sumber daya energi dan air yang besar. Sistem pendingin dalam data center dapat mengonsumsi ratusan ribu liter air per hari, tergantung pada ukuran dan kapasitasnya. Beberapa data center bahkan menggunakan sistem pendingin yang memerlukan air dalam jumlah sangat besar untuk menjaga suhu server agar tetap stabil.

Kewaspadaan AHY terhadap Ancaman Krisis Air

Ketua Umum DPP Partai Golkar Airlangga Hartarto (AHY) menunjukkan kewaspadaan terhadap potensi krisis air yang disebabkan oleh pertumbuhan data center. Ia mengingatkan pemerintah dan pelaku industri untuk mempertimbangkan dampak lingkungan dari setiap proyek infrastruktur digital yang akan dibangun.

"Kita harus waspada. Pertumbuhan ekonomi digital tidak boleh mengorbankan keberlanjutan sumber daya air kita. Pemerintah perlu membuat kebijakan yang jelas mengenai penggunaan air dalam operasional data center," tegas AHY dalam forum diskusi tentang transformasi digital.

AHL menambahkan bahwa solusi yang dapat ditempatkan antara lain dengan memaksakan standar efisiensi penggunaan air bagi setiap data center, mendorong penggunaan teknologi pendingin yang lebih ramah lingkungan, serta memastikan proyek-proyek data center tidak dibangun di daerah yang sudah mengalami tekanan ketersediaan air.

Upaya Mitigasi dan Kebijakan Pemerintah

Pemerintah telah menyadari ancaman ini. Kementerian Komunikasi dan Informatika (Kominfo) bersama Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) sedang mempersiapkan regulasi terkait izin pembangunan data center dengan mempertimbangkan aspek keberlanjutan lingkungan.

"Kami sedang merumuskan standarisasi penggunaan air untuk data center. Nantinya setiap perusahaan yang ingin membangun data center wajib memenuhi syarat efisiensi air dan sistem daur ulang air," jelas Direktur Jenderal Aplikasi Informatika Kementerian Kominfo Semuel Abrijani Pangerapan.

Beberapa pelaku industri juga mulai mengambil langkah proaktif. Beberapa perusahaan teknologi besar telah mengadopsi sistem pendingin tertutup (closed-loop cooling) yang menggunakan lebih sedikit air dibandingkan sistem konvensional. Beberapa bahkan menggunakan teknologi pendingin berbasis udara yang mengurangi ketergantungan pada air sama sekali.

Tantangan di Depan

Meskipun ada upaya mitigasi, tantangan tetap besar. Pertumbuhan pesat data center di Indonesia diperkirakan akan terus berlanjut seiring dengan semakin banyaknya layanan digital yang memerlukan infrastruktur yang kuat. Ketersediaan air bersih di beberapa daerah di Indonesia juga sudah menunjukkan tanda-tanda tekanan.

Para ahli lingkungan menekankan perlunya pendekatan holistik dalam mengelola pertumbuhan data center. "Kita perlu mempertimbangkan ketersediaan air regional dalam merencanakan lokasi data center. Juga perlu ada insentif bagi penggunaan teknologi hijau dan efisien sumber daya," ujar seorang pakar sumber daya air dari Universitas Indonesia.

Dengan demikian, pertumbuhan industri digital di Indonesia harus sejalan dengan keberlanjutan lingkungan. Sinergi antara pemerintah, industri, dan masyarakat menjadi kunci untuk memastikan transformasi digital tidak menimbulkan krisis air di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Intan Kusuma

Kontributor rubrik data dan visualisasi angka penting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter