Double Job di Tengah Tekanan Ekonomi, Ketika Lelah Tak Bisa Berhenti
Dalam era ekonomi yang tidak menentu, fenomena double job atau memiliki dua pekerjaan secara bersamaan semakin marak di kalangan masyarakat Indonesia. Para pekerja menempuh jarak puluhan kilometer, mengorbankan waktu istirahat, dan mengabaikan kebutuhan diri demi memenuhi kebutuhan hidup yang terus meningkat. Situasi ini mencerminkan kenyataan bahwa untuk bertahan hidup, satu pekerjaan kini tidak lagi cukup.
Kenyataan di Balik Double Job
Berdasarkan survei terbaru, hampir 30% tenaga kerja di Indonesia mengaku memiliki lebih dari satu pekerjaan baik formal maupun informal. Mayoritas dari mereka berasal dari kalangan menengah ke bawah yang penghasilan utama tidak mampu menutupi kebutuhan dasar seperti biaya hidup, pendidikan anak, serta kesehatan.
Andi, seorang karyawan di sebuah perusahaan swasta dengan gaji Rp 3,5 juta per bulan, mengaku memiliki pekerjaan sampingan sebagai ojek online. "Gaji utama cuma cukup untuk cicilan rumah dan kebutuhan sehari-hari. Anak sudah sekolah, ada biaya tambahan untuk transportasi, uang makan, dan keperluan sekolah. Kalau cuma satu pekerjaan, susah banget," ujarnya sambil menunggu penumpang di sebuah perumahan elit.
Fenomena ini tidak terbatas pada kalangan dengan penghasilan rendah. Banyak profesional di bidang hiburan, media, dan bahkan dokter yang memiliki pekerjaan tambahan untuk menambah pundi-pundi penghasilan. Seorang jurnalis televisi mengaku bekerja sebagai content creator untuk beberapa brand selain tugasnya sebagai reporter.
Dampak pada Kesehatan Mental dan Fisik
Mengemban beban dua pekerjaan tentu saja berdampak pada kesehatan fisik dan mental. Para pekerja double job sering kali mengalami kelelahan kronis, stres, dan kurang tidur. Beberapa di antaranya bahkan mengalami gangguan kesehatan berat akibat tekanan yang berkepanjangan.
Dr. Siti, sepsialis kesehatan jiwa, menjelaskan bahwa kondisi ini dapat menyebabkan burnout atau kelelahan emosional. "Ketika seseorang terus-menerus berada dalam situasi tekanan tanpa waktu untuk memulihkan diri, tubuh dan pikiran akan memberikan respons negatif. Ini bisa berupa insomnia, depresi, hingga masalah kardiovaskular," jelasnya.
Selain itu, interaksi sosial dengan keluarga dan teman pun terganggu. Waktu berkualitas bersama orang terdepan menjadi langka, yang pada akhirnya dapat merusak hubungan interpersonal.
Mengapa Masyarakat Memilih Double Job?
Terdapat beberapa alasan masyarakat memilih memiliki dua pekerjaan. Pertama, kenaikan harga barang dan jasa yang tidak sebanding dengan kenaikan gaji. Inflasi tahun ini diperkirakan mencapai 4%, sementara kenaikan gaji rata-rata di sektor swata hanya sekitar 3-5%.
Kedua, tidak adanya jaminan sosial yang memadai. Banyak pekerja informal maupun kontrak yang tidak memiliki asuransi kesehatan dan jaminan pensiun. Oleh karena itu, mereka mencari pekerjaan tambahan sebagai bentuk persiapan untuk masa depan.
Ketiga, adanya kebutuhan spesifik yang membutuhkan biaya besar seperti biaya pendidikan anak, perawatan kesehatan, atau pembelian aset. Beberapa orang juga terdorong oleh gaya hidup konsumtif yang mendorong mereka untuk mencari penghasilan lebih.
Solusi dari Berbagai Pihak
Pemerintah sebenarnya telah mencoba memberikan solusi melalui berbagai program seperti program Kartu Prakerja dan pelatihan keterampilan. Namun, implementasinya masih dianggap belum optimal. Banyak peserta yang mengaku sulit menerapkan keterampilan yang didapatkan karena tidak adanya peluang kerja yang sesuai.
Di sisi lain, beberapa perusahaan mulai menyadari pentingnya memberikan gaji yang layak dan fasilitas kesehatan yang memadai bagi karyawan. Beberapa perusahaan besar bahkan memberikan fleksibilitas kerja dan program kesehatan mental untuk membantu karyawan mengatasi stres.
Untuk para pekerja sendiri, manajemen waktu dan keahuan mengatur prioritas menjadi kunci. Mengatur jadwal yang baik, tidak segan meminta bantuan, dan menyisihkan waktu untuk istirahat dan relaksasi sangat penting untuk menjaga keseimbangan antara pekerjaan dan kehidupan pribadi.
Fenomena double job mencerminkan tantangan ekonomi yang dihadapi masyarakat Indonesia. Meski penuh tekanan, para pekerja terus bertahan dengan segala cara demi memperoleh kehidupan yang layak. Di tengah situasi yang sulit, ketahanan dan adaptasi menjadi kunci utama bertahan.
Komentar (0)