03, 2026
Politik

DPR Soroti Rekam Jejak Menlu Arrmanatha Nasir, Minta Pengganti Sugiono Konsisten soal Politik Luar Negeri RI

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/10/03/6ac0fc7252b49-menteri-luar-negeri-menlu-arrmanatha-nasir_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Hendra Wijaya
Hendra Wijaya Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Komisi I DPR RI menyoroti rekam jejak Menteri Luar Negeri Arrmanatha Nasir dan meminta penggantinya kelak tetap konsisten menjalankan politik luar negeri bebas aktif. Sorotan itu muncul di tengah dinamika diplomasi Indonesia yang dinilai menghadapi tantangan semakin kompleks, mulai dari persaingan kekuatan besar, ketegangan kawasan, hingga isu global seperti perubahan iklim dan ketahanan energi.

DPR Nilai Rekam Jejak Menlu Perlu Diuji

Anggota Komisi I DPR RI menilai rekam jejak Arrmanatha Nasir, yang akrab disapa Tata, sebagai diplomat karier perlu diuji secara terbuka. Menurut mereka, pengalaman panjang di Kementerian Luar Negeri menjadi modal penting, tetapi bukan jaminan otomatis bahwa kebijakan luar negeri akan berjalan sesuai garis kebijakan negara. DPR meminta agar setiap calon menteri luar negeri mampu menjelaskan arah diplomasi Indonesia secara jelas dan terukur.

Sejumlah legislator menyoroti sejumlah isu yang akan menjadi ujian awal, antara lain penyelesaian konflik di Myanmar, negosiasi di kawasan Indo-Pasifik, serta posisi Indonesia dalam forum multilateral seperti ASEAN, G20, dan PBB. Mereka menegaskan bahwa politik luar negeri bukan sekadar urusan seremonial, melainkan menyangkut kepentingan nasional yang harus dijaga secara konsisten.

Politik Bebas Aktif Harus Tetap Jadi Fondasi

Dalam berbagai kesempatan, DPR menegaskan bahwa prinsip politik luar negeri bebas aktif yang tertuang dalam Pembukaan UUD 1945 tidak boleh digeser oleh tekanan geopolitik mana pun. Prinsip itu, menurut mereka, memberi ruang bagi Indonesia untuk menjalin kerja sama dengan semua pihak tanpa terikat pada blok tertentu. Namun, prinsip tersebut juga menuntut konsistensi dalam bersikap, terutama ketika terjadi pelanggaran hukum internasional dan hak asasi manusia.

Beberapa anggota Komisi I mengingatkan bahwa konsistensi bukan berarti kaku. Diplomasi tetap memerlukan fleksibilitas, tetapi fleksibilitas itu harus dijalankan tanpa mengorbankan prinsip dasar. Mereka meminta pemerintah menjelaskan secara berkala hasil dan arah kebijakan luar negeri agar publik dapat menilai kinerja diplomasi secara objektif.

Tantangan Diplomasi Indonesia ke Depan

Pengamat hubungan internasional menilai Indonesia berada di posisi strategis sekaligus rawan. Sebagai negara dengan populasi terbesar di Asia Tenggara dan ekonomi terbesar di kawasan, Indonesia sering menjadi penyeimbang dalam persaingan Amerika Serikat dan Tiongkok. Posisi itu memberi pengaruh, tetapi juga membawa risiko jika tidak dikelola dengan cermat.

Selain itu, isu-isu baru seperti transisi energi, ekonomi digital, keamanan siber, dan perlindungan pekerja migran menuntut pendekatan diplomasi yang lebih teknis dan terkoordinasi antar kementerian. DPR menilai Kementerian Luar Negeri perlu memperkuat koordinasi dengan kementerian dan lembaga lain agar kebijakan luar negeri tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dorongan Penguatan Diplomasi Ekonomi

Komisi I DPR juga mendorong penguatan diplomasi ekonomi, terutama untuk membuka akses pasar, menarik investasi, dan melindungi produk dalam negeri. Menurut mereka, diplomasi tidak cukup berhenti pada pernyataan politik, tetapi harus menghasilkan manfaat nyata bagi masyarakat, seperti lapangan kerja dan pertumbuhan ekonomi. Diplomasi ekonomi dinilai menjadi instrumen penting untuk memperkuat posisi Indonesia di kancah global.

Transparansi dan Akuntabilitas Kinerja

DPR meminta Kementerian Luar Negeri meningkatkan transparansi dan akuntabilitas kinerja, termasuk dalam pelaporan hasil perundingan internasional. Mereka menilai publik berhak mengetahui posisi Indonesia dalam setiap kesepakatan yang berdampak luas, misalnya di bidang perdagangan, investasi, dan lingkungan. Dengan begitu, kepercayaan publik terhadap kebijakan luar negeri dapat terjaga.

Pengganti Sugiono Diharapkan Lanjutkan Garis Kebijakan

DPR berharap siapa pun yang menggantikan Sugiono nantinya dapat melanjutkan garis kebijakan yang sudah berjalan, sekaligus membawa pembaruan sesuai kebutuhan zaman. Mereka menekankan bahwa pergantian pejabat tidak boleh mengubah arah politik luar negeri yang telah menjadi kesepakatan nasional. Konsistensi, menurut DPR, adalah kunci agar Indonesia tetap diperhitungkan dalam percaturan global.

Komisi I juga mengingatkan agar proses transisi berjalan lancar dan tidak mengganggu agenda diplomasi yang sedang berjalan. Sejumlah pertemuan internasional yang melibatkan Indonesia perlu dipastikan tetap berjalan sesuai jadwal, termasuk komitmen dalam ASEAN dan berbagai forum multilateral lainnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi dari Kementerian Luar Negeri mengenai sorotan DPR tersebut. DPR menyatakan akan mengundang calon menteri luar negeri untuk menjalani uji kelayakan dan kepatutan, sekaligus meminta paparan mengenai prioritas kebijakan luar negeri ke depan. Publik pun menantikan bagaimana arah diplomasi Indonesia di bawah kepemimpinan baru, terutama dalam menjaga kedaulatan, memperkuat kerja sama kawasan, dan memastikan kepentingan nasional tetap menjadi prioritas utama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Hendra Wijaya

Editor Politik. Mantan jurnalis cetak dengan spesialisasi politik elektoral. Menulis analisis kebijakan dan reportase parlemen.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter