Teknologi drone yang dilengkapi kamera termal memberikan gambaran lebih jelas mengapa kebakaran di lahan gambut jauh lebih sulit dipadamkan dibandingkan kebakaran hutan biasa. Pemantauan udara yang dilakukan WWF di sejumlah wilayah rawan api menunjukkan bahwa titik panas tidak selalu berada di permukaan, melainkan menjalar di lapisan bahan organik yang tertimbun di bawah tanah. Kondisi itulah yang membuat upaya pemadaman sering berlangsung berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, meski api di permukaan sudah tidak terlihat.
Api yang Bersembunyi di Bawah Permukaan
Lahan gambut terbentuk dari tumpukan sisa tumbuhan yang membusuk selama ratusan hingga ribuan tahun. Lapisan ini menyimpan karbon dalam jumlah sangat besar dan memiliki sifat seperti spons: mampu menahan air dalam volume tinggi, tetapi juga mudah mengering ketika saluran drainase dibuka. Ketika gambut kering, bahan organik di dalamnya berubah menjadi bahan bakar yang padat dan menyala perlahan tanpa nyala api besar.
Proses pembakaran semacam ini dikenal sebagai pembakaran bara (smoldering). Api bergerak ke samping dan ke bawah melalui pori-pori gambut, mengikuti lapisan yang kering. Dari permukaan, yang terlihat hanya asap tebal yang mengepul dari celah-celah tanah, sementara bara aktif berada beberapa puluh sentimeter hingga beberapa meter di bawah lapisan atas. Inilah yang membedakan kebakaran gambut dari kebakaran lahan mineral, yang umumnya menghabiskan bahan bakar di permukaan dan lebih cepat dipadamkan.
Yang Ditunjukkan Citra Drone
Penerbangan drone dengan sensor termal memungkinkan tim pemantau melihat perbedaan suhu di permukaan lahan. Area yang tampak hanya berasap tipis dapat terekam memiliki suhu jauh lebih tinggi daripada sekitarnya, menandakan adanya bara yang masih aktif. Sebaliknya, titik yang tampak gelap dan hangus belum tentu sudah padam. Pola sebaran panas inilah yang membantu di lapangan menentukan prioritas penyemprotan dan jalur penyekatan api.
Keunggulan lain adalah kecepatan dan fleksibilitas. Drone dapat diterbangkan di atas area yang sulit dijangkau tim darat, termasuk di atas kanal, semak belukar, dan lahan bekas terbakar yang masih mengeluarkan asap. Citra yang dihasilkan dapat langsung dipakai untuk memverifikasi laporan titik panas dari citra satelit, yang resolusinya sering terlalu kasar untuk menentukan lokasi tepat di tingkat tapak. Dengan begitu, tim pemadam tidak perlu membuang waktu menuju lokasi yang ternyata sudah tidak menyala.
Mengapa Air Sulit Mencapai Bara
Kesulitan utama pemadaman terletak pada jarak antara permukaan dan lapisan yang terbakar. Air yang disemprotkan dari permukaan sering menguap sebelum mencapai bara, terutama karena suhu di dalam lapisan gambut sangat tinggi. Karena itu, metode pemadaman yang lebih efektif biasanya menuntut air disuntikkan langsung ke dalam tanah melalui pipa atau selang yang ditancapkan, atau dengan membuat lubang bor agar air bisa mencapai lapisan yang menyala.
Persoalan bertambah ketika lahan gambut berada di kawasan yang kering dan sulit dijangkau. Kebutuhan air untuk memadamkan bara jauh lebih besar dibandingkan kebakaran permukaan, sementara sumber air terdekat bisa berada beberapa kilometer dari titik api. Belum lagi risiko munculnya titik api baru di area yang sebelumnya dianggap sudah padam, karena bara dapat bertahan lama di bawah permukaan dan kembali menyala ketika kondisi mengering atau tertiup angin.
Pemantauan, Deteksi Dini, dan Keterbatasan Teknologi
Pemanfaatan drone bukan tanpa kendala. Jangkauan terbang terbatas, kebutuhan daya baterai, dan kondisi asap tebal dapat mengganggu pengamatan visual. Drone juga bukan alat pemadam, melainkan alat pemantau dan verifikasi. Efektivitasnya sangat bergantung pada kecepatan tindak lanjut di lapangan: informasi titik panas hanya bernilai jika tim pemadam bisa segera mencapai lokasi dengan peralatan dan pasokan air yang memadai.
Karena itu, pemantauan udara diposisikan sebagai bagian dari rangkaian kerja yang lebih luas, mulai dari patroli masyarakat, pemantauan citra satelit, hingga koordinasi antarinstansi. Di tingkat kebijakan, perhatian juga diarahkan pada pencegahan, sebab kebakaran gambut hampir selalu berawal dari kondisi lahan yang mengering akibat pembukaan kanal dan praktik pembukaan lahan dengan cara membakar.
Dari Pemadaman ke Pencegahan
Pelajaran dari pemantauan drone memperkuat argumen bahwa penanganan kebakaran gambut tidak bisa bertumpu pada pemadaman semata. Upaya membasahi kembali lahan gambut, menyekat kanal agar permukaan air tanah naik, dan mengembalikan tutupan vegetasi menjadi kunci agar bahan organik tetap lembap dan sulit terbakar. Pendekatan pemanfaatan lahan yang tidak menuntut pengeringan gambut secara masif juga menjadi bagian dari solusi jangka panjang.
Dengan kata lain, drone memberikan jawaban teknis atas pertanyaan mengapa api gambut begitu sulit dipadamkan: karena api itu tidak sepenuhnya berada di tempat yang bisa dilihat mata, dan karena bahan bakarnya adalah tanah itu sendiri. Jawaban tersebut sekaligus menegaskan bahwa keberhasilan pengendalian kebakaran gambut lebih ditentukan oleh kesigapan deteksi dini dan konsistensi pengelolaan lahan dibandingkan semata-mata oleh besarnya volume air yang disemprotkan ke permukaan.
Komentar (0)