30, 2026
Nasional

Drop Out hingga Belajar Coding Otodidak, Kini Jadi Miliarder di Usia 25 Tahun

Eko Wibowo
Eko Wibowo Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Di tengah gempuran narasi bahwa kesuksesan hanya bisa diraih melalui jalur pendidikan formal, seorang pemuda berusia 25 tahun membuktikan sebaliknya. Ia tercatat pernah putus sekolah atau drop out, tidak menyelesaikan bangku kuliah, dan memilih belajar pemrograman secara otodidak. Kini, namanya masuk dalam daftar orang terkaya di kelompok usianya dengan kekayaan yang menembus angka triliunan rupiah.

Kisah itu menjadi sorotan dunia teknologi dan bisnis dalam beberapa pekan terakhir. Perjalanan hidupnya bukan cerita instan. Ia melewati masa-masa sulit, bekerja serabutan, hingga menghabiskan waktu berjam-jam di depan layar komputer untuk mempelajari dasar-dasar kode. Tanpa mentor tetap, tanpa kurikulum resmi, dan tanpa gelar sarjana, ia membangun keterampilan teknis dari nol.

Jatuh Bangun Sebelum Menembus Industri Teknologi

Pemuda tersebut memulai perjalanannya dari lingkungan yang jauh dari kata mapan. Ia meninggalkan bangku sekolah karena tekanan ekonomi dan ketidaksesuaian dengan sistem pendidikan yang dijalaninya. Keputusan itu sempat menuai kekecewaan dari keluarga. Namun, di balik keterbatasan itu, ia menemukan ketertarikan kuat pada dunia komputer.

Berbekal komputer sederhana dan koneksi internet seadanya, ia mulai mempelajari bahasa pemrograman secara mandiri. Sumber belajarnya berasal dari dokumentasi gratis, forum diskusi, dan video tutorial yang tersebar di internet. Ia mengaku tidak memiliki jadwal belajar tetap. Setiap kali menemukan masalah teknis, ia memaksa diri untuk mencari solusi hingga tuntas.

Proses itu berlangsung bertahun-tahun. Ia sempat gagal dalam beberapa proyek perangkat lunak, ditolak saat melamar pekerjaan teknologi, dan harus menerima upah kecil dari pekerjaan lepas. Meski demikian, ia terus mengasah kemampuan, terutama pada bidang pengembangan perangkat lunak dan sistem berbasis data.

Dari Proyek Kecil Menjadi Bisnis Bernilai Tinggi

Titik balik terjadi ketika ia membangun sebuah perangkat lunak sederhana yang menjawab kebutuhan pasar. Produk pertamanya tidak langsung sukses. Namun, ia tekun memperbaiki fitur, mendengarkan masukan pengguna, dan merancang ulang sistem agar lebih efisien. Dari proyek kecil itu, ia mulai dipercaya oleh sejumlah klien.

Pendapatan yang ia kumpulkan tidak dipakai untuk gaya hidup. Sebagian besar modal ia putar kembali untuk mengembangkan produk dan merekrut tim kecil. Dalam waktu beberapa tahun, usahanya berkembang menjadi perusahaan teknologi dengan valuasi yang terus naik. Kini, kekayaannya diperkirakan menembus angka miliaran dolar, menjadikannya salah satu miliarder termuda di sektor teknologi.

Kesuksesannya tidak lepas dari kombinasi kemampuan teknis, kepekaan terhadap kebutuhan pasar, dan ketahanan mental menghadapi penolakan. Ia disebut sebagai contoh nyata bahwa jalur otodidak masih terbuka lebar, terutama di industri yang lebih menghargai portofolio dan hasil kerja dibandingkan ijazah.

Pelajaran bagi Dunia Pendidikan dan Ketenagakerjaan

Kisah ini memantik diskusi tentang relevansi pendidikan formal di era digital. Sejumlah pengamat menilai sistem pendidikan perlu lebih fleksibel dalam mengakomodasi pembelajaran berbasis keterampilan. Mereka menekankan bahwa kemampuan coding, analisis data, dan pemecahan masalah dapat dipelajari melalui jalur nonformal.

Namun, para ahli juga mengingatkan bahwa keberhasilan otodidak tidak bisa digeneralisasi. Faktor keberuntungan, akses internet, dukungan lingkungan, dan kondisi ekonomi turut menentukan. Tidak semua orang memiliki waktu dan sumber daya yang sama untuk belajar mandiri. Karena itu, cerita ini sebaiknya dipandang sebagai inspirasi, bukan patokan tunggal bahwa sekolah formal tidak penting.

Di sisi lain, perusahaan teknologi mulai mengubah cara perekrutan. Beberapa di antaranya menghapus syarat gelar sarjana untuk posisi tertentu. Mereka lebih fokus pada uji keterampilan, portofolio proyek, dan kemampuan bekerja dalam tim. Tren ini membuka peluang bagi talenta yang tidak menempuh pendidikan tinggi.

Faktor Disiplin dan Konsistensi

Dalam berbagai wawancara, pemuda tersebut menyebut disiplin sebagai kunci utama. Ia mengaku tidak memiliki bakat istimewa. Yang membedakannya adalah kemauan untuk terus belajar ketika orang lain berhenti. Ia juga rajin mencatat kesalahan, memperbaiki sistem, dan tidak cepat puas dengan hasil awal.

Selain itu, ia membangun jaringan melalui komunitas pengembang perangkat lunak. Dari komunitas itu, ia mendapat proyek pertama, mitra bisnis, hingga investor awal. Jaringan tersebut menjadi jembatan antara kemampuan teknis dan peluang komersial.

Kini, ia aktif berbagi pengalaman kepada generasi muda, terutama mereka yang putus sekolah atau berada dalam keterbatasan ekonomi. Pesannya sederhana: keterampilan bisa dipelajari siapa saja, asalkan ada kemauan dan konsistensi. Ia juga mendorong pentingnya literasi digital sejak dini.

Dampak Lebih Luas bagi Ekonomi Digital

Perjalanan hidupnya turut menggambarkan dinamika ekonomi digital yang bergerak cepat. Nilai sebuah perusahaan bisa melonjak dalam hitungan tahun jika produknya diterima pasar. Hal ini menciptakan peluang besar bagi talenta muda, tetapi juga memunculkan tantangan baru seperti persaingan ketat dan tuntutan inovasi berkelanjutan.

Bagi banyak kalangan, kisah drop out yang menjadi miliarder di usia 25 tahun menjadi simbol bahwa jalur kesuksesan tidak pernah tunggal. Pendidikan formal tetap penting, tetapi bukan satu-satunya pintu. Kemampuan beradaptasi, keinginan belajar, dan keberanian mengambil risiko menjadi modal yang tak kalah menentukan.

Yang paling menonjol dari kisah ini bukanlah angka kekayaan, melainkan proses panjang di baliknya. Dari ruang belajar sederhana hingga perusahaan bernilai tinggi, perjalanan tersebut menunjukkan bahwa keterampilan yang diasah dengan tekun dapat mengubah arah hidup seseorang. Bagi banyak anak muda, kisah ini menjadi pengingat bahwa keterbatasan awal tidak selalu menentukan akhir cerita.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Eko Wibowo

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter