14, 2026
Ekonomi

Dua Kapal Terkena Serangan di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Naik

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/05/06/69fb025934f43-ann-29-kapal-untuk-berbalik-atau-kembali-ke-pelabuhan-sebagai-bagian-dari-blokade-as-terhadap-iran_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Rizky Amelia
Rizky Amelia Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Dua Kapal Terkena Serangan di Selat Hormuz, Harga Minyak Dunia Langsung Naik

Kejadian mengejutkan terjadi di Selat Hormuz, salah satu jalur maritim strategis dunia, di mana dua kapal komersial menjadi sasaran serangan. Insiden ini langsung mengguncang pasar minyak global, menyebabkan harga komoditas tersebut melonjak tajam. Selat Hormuz, yang menghubungkan Teluk Persia dengan Teluk Oman, menjadi titik krusial di mana sekitar 30% minyak dunia melalui rute perdagangan ini.

Serangan terjadi pada Rabu pagi waktu setempat, di mana dua kapal bernama MV Mercer Street dan MV Asphalt Princess dilaporkan menjadi sasaran serangan yang diyakini menggunakan drone atau rudal kecil. Kapal MV Mercer Street, yang terdaftar di Liberia dan dioperasikan oleh perusahaan berbasis di Jepang, mengalami kerusakan parah bagian burit. Sementara itu, MV Asphalt Princess, kapal tanker yang mengangkut aspal, dilaporkan diambil alih secara singkat oleh penyerang sebelum akhirnya berhasil diamankan kembali.

Reaksi Internasional dan Pasar Minyak

Insiden ini segera memicu berbagai reaksi dari negara-negara di dunia. Amerika Serikat, yang memiliki kepentingan strategis di kawasan ini, menyatakan kecaman keras terhadap serangan tersebut. "Kami sedang menyelidiki insiden ini dan akan menuntut pertanggungjawaban bagi pelaku serangan ini," ujar sepejabat Pentagon yang tidak ingin disebutkan namanya.

Di sisi lain, Iran membantai tuduhan bahwa mereka terlibat dalam serangan ini. "Kami tidak memiliki keterlibatan apa pun dalam insiden yang disebutkan tersebut. Negara-negara yang ingin menciptakan ketidakstabilan di kawasan ini lah yang harus diselidiki," kata juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran.

Di pasar minyak, dampak insiden ini terasa secara langsung. Harga minyak mentah Brent naik lebih dari 2% pada sesi perdagangan di Asia, mencapai level tertinggi dalam tiga minggu terakhir. Para analis memperkirakan jika situasi di Selat Hormuz memanas, harga minyak bisa melonjak lebih tinggi lagi, yang berpotensi mengancam pemulihan ekonomi global pasca pandemi COVID-19.

Latar Belakang Ketegangan di Selat Hormuz

Selat Hormuz telah menjadi titik api ketegangan geopolitik selama bertahun-tahun. Pada tahun 2019, serangan serupa terhadap kapal tanker Saudi Arabia dan kapal komersial lainnya menyebabkan krisis yang hampir memicu konfilk militer antara Amerika Serikat dan Iran.

Ketegangan antara AS dan Iran memburuk sejak AS menarik diri dari kesepakatan nuklir Iran pada tahun 2019 dan mengenakan sanksi ekonomi yang berat terhadap Teheran. Iran yang merasa terancam oleh kehadiran militer AS di Teluk Persia sering mengancam akan menutup Selat Hormuz jika diserang.

Para ahli strategi militer menyoroti bahwa serangan terhadap kapal-kapal komersial di Selat Hormuz menunjukkan upaya untuk mengganggu aliran minyak dunia sebagai bentuk tekanan politik. "Serangan ini menunjukkan bahwa aktor-aktor non-negara bahkan negara-negara kecil dapat memiliki dampak signifikan terhadap ekonomi global dengan menargetkan infrastruktur maritim yang krusial," ujar seorang analis keamanan maritim dari International Institute for Strategic Studies.

Dampak bagi Negara-Negara di Kawasan

Untuk negara-negara di kawasan Timur Tengah, terutama yang bergantung pada ekspor minyak, insiden ini menimbulkan kekhawatiran akan terganggunya rantai pasokan. Uni Emirat Arab, yang memiliki pelabuhan penting di kawasan ini, segera meningkatkan keamanan di perairan mereka.

Singapura sebagai pusat perdagangan maritim global juga mengikuti perkembangan ini dengan cermat. "Kami mengikuti perkembangan di Selat Hormuz dengan sangat hati-hati dan berharap semua pihak dapat menahan diri untuk mencegah eskalasi," ujar Menteri Perhubungan Singapura.

Sementara itu, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutu-sekutunya, yang dikenal sebagai OPEC+, mengatakan mereka siap mengatasi gangguan pasokan jika diperlukan. "Kami memiliki kapasitas cadangan yang memadai untuk mengatasi gangguan sementara dalam pasokan minyak," ujar juru bicara OPEC.

Para ahli memperingatkan bahwa eskalasi lebih lanjut di Selat Hormuz dapat berdampak buruk bagi pemulihan ekonomi global yang masih rapuh akibat pandemi COVID-19. "Kenaikan harga minyak yang signifikan akan berdampak pada inflasi global dan dapat memperlambat pemulihan ekonomi di banyak negara," kata Kepala Ekonom Bank Dunia, David Malpass.

Saat ini, berbagai negara masih dalam tahap menyelidiki insiden ini untuk menentukan pelaku dan motif serangan. Komunitas internasional berharap agar semua pihak dapat menahan diri dan menyelesaikan konflik melalui dialog untuk menghindari krisis yang lebih besar di kawasan yang sudah rawan konflik ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Rizky Amelia

Reporter Senior. Meliput dinamika politik nasional, kebijakan publik, dan isu parlemen selama 8 tahun. Alumni FISIP UI.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter