21, 2026
Nasional

El Nino Diprediksi Picu 451.000 Kematian, Indonesia Jadi Salah Satu Negara Terdampak

<img src="https://thumb.viva.co.id/media/frontend/thumbs3/2026/07/07/6a4c8fab10c27-ilustrasi-kekeringan_gemini_665_374.jpg" align="left" hspace="7" width="100" />

Lestari Saputra
Lestari Saputra Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Fenomena El Nino diperkirakan berdampak jauh melampaui kekeringan dan gagal panen. Sebuah kajian menyebutkan bahwa cuaca ekstrem yang dipicu El Nino berpotensi menyebabkan sekitar 451.000 kematian tambahan di berbagai belahan dunia, dan Indonesia disebut sebagai salah satu negara yang paling rentan terdampak.

Angka tersebut bukan berasal dari satu peristiwa tunggal, melainkan akumulasi dampak jangka panjang yang merambat melalui berbagai jalur: menurunnya produksi pangan, meluasnya kekurangan air bersih, meningkatnya penyakit menular, hingga terganggunya layanan kesehatan di wilayah terdampak. Dampak itu tidak dirasakan serentak, tetapi menyebar dalam rentang waktu yang panjang setelah fase puncak El Nino berlalu.

Bagaimana El Nino Berkaitan dengan Kematian

El Nino merupakan anomali iklim yang ditandai menghangatnya suhu permukaan laut di Samudra Pasifik bagian tengah dan timur. Perubahan itu mengacaukan pola curah hujan global, memicu kekeringan di sejumlah kawasan tropis, sekaligus memicu banjir di wilayah lain. Ketika pola hujan bergeser, sektor pertanian menjadi yang pertama merasakan dampaknya.

Kajian mengenai angka 451.000 kematian menempatkan El Nino bukan sekadar peristiwa cuaca, melainkan persoalan kesehatan masyarakat. Kematian tidak hanya terjadi akibat sengatan panas atau bencana hidrometeorologi, tetapi juga karena penyakit yang muncul di tengah kondisi lingkungan yang memburuk, seperti diare akibat air tercemar, malaria dan demam berdarah yang menyebar lebih luas, serta infeksi saluran pernapasan yang diperburuk kualitas udara.

Krisis Pangan dan Air

Musim tanam yang bergeser dan gagal panen mengurangi ketersediaan pangan di tingkat rumah tangga. Pada kelompok masyarakat berpenghasilan rendah, dampaknya langsung terasa dalam bentuk penurunan asupan gizi. Kondisi ini memperbesar risiko kekurangan gizi pada anak, yang dalam jangka panjang berkaitan dengan rendahnya daya tahan tubuh terhadap penyakit.

Kekurangan air bersih menjadi persoalan berikutnya. Ketika sumber air mengering atau kualitasnya menurun, praktik higiene masyarakat ikut terganggu. Air yang terkontaminasi membuka jalan bagi penyakit saluran cerna, terutama pada anak-anak dan lansia yang daya tahan tubuhnya lebih rendah.

Penyakit Menular yang Meluas

Perubahan suhu dan pola hujan juga memengaruhi siklus hidup vektor penyakit. Genangan air yang terbentuk tidak teratur, ditambah suhu yang lebih hangat, dapat memperluas jangkauan populasi nyamuk pembawa penyakit. Wilayah yang sebelumnya memiliki risiko rendah bisa berubah menjadi daerah endemis baru. Di sisi lain, kapasitas layanan kesehatan di daerah terdampak sering kali tidak siap menghadapi lonjakan kasus secara bersamaan.

Posisi Indonesia

Indonesia termasuk negara yang berada di jalur dampak El Nino. Sebagai negara kepulauan dengan ketergantungan besar pada sektor pertanian, pergeseran musim hujan berdampak langsung pada produksi pangan nasional. Kekeringan di sejumlah daerah sentra produksi berulang kali memaksa petani menunda masa tanam atau menghadapi gagal panen.

Selain itu, kondisi kering meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan, terutama di wilayah gambut. Asap yang dihasilkan tidak hanya mengganggu aktivitas ekonomi dan transportasi, tetapi juga menimbulkan masalah kesehatan pernapasan yang meluas hingga ke daerah lain. Pada periode El Nino kuat sebelumnya, kualitas udara di beberapa provinsi sempat berada pada tingkat yang berbahaya bagi kelompok rentan.

Persoalan lain yang mengemuka adalah ketersediaan air bersih di kawasan padat penduduk dan wilayah pesisir. Intrusi air laut yang masuk ke sumber air tanah saat debit sungai menurun memperburuk kualitas air, sementara pasokan dari sumber permukaan menyusut. Kombinasi ini menciptakan tekanan ganda bagi rumah tangga dan layanan publik.

Kelompok Paling Rentan

Dampak El Nino tidak terdistribusi merata. Anak-anak, ibu hamil, lansia, serta masyarakat dengan penghasilan rendah berada pada posisi paling rentan. Kelompok ini memiliki kapasitas terbatas untuk beradaptasi, baik secara finansial maupun akses terhadap layanan kesehatan dan pangan bergizi.

Wilayah dengan infrastruktur air dan sanitasi yang lemah menghadapi risiko lebih besar. Demikian pula daerah yang mengandalkan pertanian tadah hujan, karena perubahan awal musim hujan langsung memengaruhi pendapatan rumah tangga petani.

Kesiapsiagaan dan Adaptasi

Para peneliti menekankan pentingnya kesiapsiagaan sebelum fase puncak El Nino terjadi. Langkah yang dinilai krusial antara lain penguatan sistem peringatan dini cuaca, pengelolaan cadangan air, penyiapan stok pangan, serta penguatan surveilans penyakit di tingkat puskesmas dan fasilitas kesehatan dasar.

Intervensi gizi dan akses air bersih disebut sebagai prioritas karena berkaitan langsung dengan penyebab kematian yang paling banyak muncul. Selain itu, sistem kesehatan perlu memiliki rencana kontingensi untuk menghadapi lonjakan kasus penyakit menular pada periode pasca-kekeringan.

Dari sisi pertanian, adaptasi dilakukan melalui penggunaan varietas yang lebih tahan kekeringan, penyesuaian jadwal tanam, dan pengembangan irigasi efisien. Sementara itu, pengelolaan lahan gambut menjadi kunci untuk menekan risiko kebakaran dan kabut asap.

Konteks Perubahan Iklim

El Nino merupakan bagian dari variabilitas iklim alami, tetapi sejumlah ilmuwan menilai pemanasan global dapat memperkuat intensitas dan dampaknya. Suhu udara yang lebih tinggi memperparah kekeringan, mempercepat penguapan, dan memperbesar risiko tekanan panas pada manusia.

Dengan demikian, angka 451.000 kematian yang diproyeksikan bukan sekadar peringatan tentang satu siklus cuaca, melainkan cerminan bagaimana kerentanan struktural—kemiskinan, keterbatasan akses air bersih, dan lemahnya layanan kesehatan—dapat berubah menjadi korban jiwa ketika tekanan iklim datang. Bagi Indonesia, proyeksi tersebut menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi El Nino harus dipandang sebagai bagian dari agenda kesehatan masyarakat, bukan sekadar urusan cuaca.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Saputra

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter