20, 2026
Teknologi

El Nino Sangat Kuat, Sumatra-Papua Sampai Diselimuti Warna Merah

BMKG memperingatkan potensi cuaca ekstrem di Indonesia dari 20-26 Oktober 2026, dengan hujan lokal dan risiko kebakaran hutan akibat cuaca panas.]]>

Budi Santoso
Budi Santoso Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

El Nino Sangat Kuat, Sumatra-Papua Sampai Diselimuti Warna Merah

El Niño yang berada pada kategori kuat masih menjadi faktor utama cuaca ekstrem di Indonesia. Peta pemantauan hari tanpa hujan (HTH) yang dirilis Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperlihatkan hamparan warna merah yang membentang dari Sumatra hingga Papua. Warna merah dalam peta itu menandakan wilayah yang telah lama tidak diguyur hujan, dengan rentang waktu yang masuk kategori terpanjang, yakni lebih dari 60 hari berturut-turut tanpa hujan.

Kondisi tersebut menjadikan sebagian besar wilayah Indonesia berada dalam status kering ekstrem. Hujan yang biasanya turun pada periode musim kemarau semakin jarang terjadi, sementara uap air di atmosfer berkurang akibat pergeseran pola sirkulasi udara yang dipicu El Niño di Samudra Pasifik. Fenomena itu diperparah oleh kondisi suhu permukaan laut di Samudra Hindia yang turut memengaruhi berkurangnya pasokan uap air ke wilayah Indonesia.

Warna Merah Menandakan Kekeringan Panjang

Dalam peta HTH, BMKG membagi wilayah berdasarkan lamanya hari tanpa hujan, mulai dari kategori 1–5 hari hingga kategori ekstrem di atas 60 hari. Semakin panjang rentang hari tanpa hujan, semakin merah warna yang ditampilkan. Warna merah menandakan bahwa wilayah tersebut telah mengalami kekeringan meteorologis berkepanjangan dan berpotensi mengalami kekeringan agronomis, yaitu kondisi ketika cadangan air tanah tidak lagi mencukupi kebutuhan tanaman.

Hamparan merah pada peta tidak hanya muncul di wilayah yang secara musiman memang kering, seperti Nusa Tenggara dan sebagian Jawa bagian timur, tetapi juga melebar ke area yang biasanya masih menerima hujan pada musim kemarau. Sejumlah kabupaten di Sumatra bagian selatan, Kalimantan, Sulawesi, hingga wilayah selatan Papua masuk dalam kategori yang sama.

Wilayah Terdampak Meluas

Di Sumatra, kekeringan panjang tercatat di sejumlah wilayah di Lampung, Sumatra Selatan, Jambi, hingga sebagian Riau dan Sumatra Utara. Di Jawa, hampir seluruh provinsi mengalami hari tanpa hujan yang memanjang, dengan kondisi paling kering di bagian tengah dan timur. Kalimantan juga tidak luput, terutama di Kalimantan Selatan, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat.

Sulawesi mencatat kondisi serupa di bagian selatan dan tenggara, sementara Bali dan Nusa Tenggara berada pada fase kemarau yang paling keras. Wilayah Maluku dan sebagian Papua bagian selatan turut masuk kategori merah, meski beberapa daerah di Papua bagian utara masih menerima hujan lokal dengan intensitas bervariasi.

Dampak pada Pertanian dan Ketersediaan Air

Kekeringan panjang berdampak langsung pada sektor pertanian. Penurunan ketersediaan air irigasi membuat sejumlah petani gagal menanam atau mengalami penurunan hasil produksi. Komoditas pangan seperti padi, jagung, dan hortikultura menjadi yang paling rentan karena membutuhkan pasokan air dalam jumlah besar pada fase pertumbuhan tertentu.

Selain itu, debit air di sejumlah sungai dan waduk menurun. Beberapa daerah melaporkan penyusutan volume air baku untuk kebutuhan rumah tangga, sehingga distribusi air bersih harus dilakukan secara bergilir. Pemerintah daerah di sejumlah wilayah mengerahkan armada tangki air untuk melayani kebutuhan warga di titik-titik kritis.

Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan Meningkat

Permukaan lahan yang kering membuat risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla) meningkat tajam. Lahan gambut yang mengering menjadi titik rawan karena api mudah merambat di bawah permukaan dan sulit dipadamkan. Titik panas yang terdeteksi satelit cenderung bertambah pada periode hari tanpa hujan yang panjang.

Asap dari kebakaran lahan berpotensi menimbulkan gangguan kualitas udara dan berdampak pada kesehatan, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan penderita penyakit pernapasan. Pemerintah daerah diminta menetapkan status siaga darurat agar penanganan dapat dilakukan lebih cepat dan terkoordinasi.

Langkah Antisipasi Pemerintah

Untuk mengurangi dampak kekeringan, pemerintah melakukan operasi modifikasi cuaca dengan menyemai garam ke awan potensial guna mempercepat turunnya hujan di wilayah terdampak. Upaya itu dilakukan bersama penanganan karhutla melalui pemadaman darat dan udara, terutama di area gambut yang sulit dijangkau.

Selain itu, pemerintah mendorong percepatan tanam, penyediaan pompa air, serta bantuan benih yang lebih tahan kekeringan bagi petani. Kementerian Kesehatan mengeluarkan imbauan agar masyarakat menjaga asupan cairan, menghindari aktivitas di luar ruangan pada siang hari, dan menggunakan masker ketika kualitas udara memburuk.

Imbauan bagi Masyarakat

Masyarakat diminta menghemat penggunaan air bersih, menampung air hujan bila memungkinkan, dan tidak membuka lahan dengan cara membakar. Warga juga diimbau memantau informasi cuaca resmi dari BMKG serta melaporkan kemunculan titik api di sekitar permukiman kepada aparat setempat.

BMKG mengingatkan bahwa kondisi kering ini masih akan berlangsung hingga periode peralihan musim. Setelah fase El Niño mereda, Indonesia berpotensi memasuki fase netral yang kemudian berkembang ke arah La Niña, yaitu kondisi yang biasanya membawa curah hujan lebih tinggi. Karena itu, selain bersiap menghadapi kekeringan, pemerintah daerah juga diminta menyiapkan langkah antisipasi terhadap potensi banjir dan tanah longsor pada periode berikutnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Budi Santoso

Penulis kesehatan pria dan pencegahan penyakit degeneratif.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter