Fenomena 'Nenek TikTok': Lansia Mendadak Viral dan Panen Cuan di Medsos
Platform media sosial seperti TikTok dan Instagram kini tak lagi didominasi oleh generasi Z dan milenial.]]>
**Fenomena “Nenek TikTok”: Lansia Mendadak Viral dan Panen Cuan di Media Sosial**
Dalam beberapa tahun terakhir, media sosial tidak lagi menjadi ruang yang hanya dikuasai anak muda. Lansia—terutama nenek-nenek—kini kerap muncul di beranda TikTok, Instagram Reels, maupun YouTube Shorts. Ada yang membagikan keseharian, memasak, bercerita tentang masa lalu, menari dengan gerakan sederhana, hingga merespons tren dengan gaya khasnya sendiri. Ketika satu video kebetulan menarik perhatian, algoritma bekerja cepat: ribuan, bahkan jutaan penonton datang, komentar membanjir, dan sang nenek mendadak viral. Dari fenomena inilah label “Nenek TikTok” lahir—bukan nama satu orang, melainkan sebutan untuk para lansia yang tiba-tiba menjadi bintang di ruang digital.
Daya tarik “Nenek TikTok” sering kali terletak pada kesederhanaannya. Di tengah konten yang serba cepat, penuh efek, dan kadang berlebihan, kehadiran lansia memberikan nuansa lain: hangat, lucu, apa adanya, dan terasa seperti berbicara dengan keluarga sendiri. Penonton tidak hanya mencari hiburan, tetapi juga rasa kedekatan. Banyak warganet merasa terhibur oleh tingkah polos, celetukan spontan, atau ekspresi kaget seorang nenek ketika videonya ramai. Ada pula yang merasa tersentuh karena mengingat kakek-nenek mereka. Kombinasi antara keaslian, nostalgia, dan rasa ingin tahu membuat konten lansia mudah menyebar. Algoritma media sosial pun seolah menemukan bahan yang tepat: konten emosional, sederhana, dan mudah dibagikan.
Viralitas itu kemudian membuka pintu ekonomi. Di TikTok, misalnya, popularitas dapat berubah menjadi “cuan” melalui berbagai jalur: hadiah virtual saat live streaming, kerja sama promosi produk, affiliate marketing, live shopping, hingga undangan menjadi bintang iklan. Seorang nenek yang sebelumnya hanya merekam video dari kamar atau dapur bisa tiba-tiba menerima banyak penonton saat siaran langsung. Jika ia memiliki basis pengikut yang besar, merek-merek mulai melirik. Tidak jarang anggota keluarga ikut membantu mengelola akun, mengatur jadwal live, atau memilih produk yang akan dipromosikan. Dalam kondisi seperti ini, media sosial berubah dari sekadar tempat bermain menjadi sumber penghasilan baru—sesuatu yang tentu menarik, terutama bagi lansia yang mungkin tidak memiliki pendapatan tetap.
Sisi positif fenomena ini tidak bisa diabaikan. Media sosial dapat memberi lansia ruang untuk tetap aktif, merasa dihargai, dan terhubung dengan orang lain. Kesepian pada usia lanjut adalah masalah nyata, dan interaksi daring—walau tidak menggantikan hubungan tatap muka—bisa menjadi pelipur. Beberapa lansia juga menemukan kembali kepercayaan diri karena karyanya ditonton dan diapresiasi. Pendapatan tambahan dari konten digital bisa membantu kebutuhan sehari-hari, biaya pengobatan, atau sekadar memberi rasa mandiri secara finansial. Fenomena ini juga membuka peluang dialog antargenerasi: cucu mengajari nenek menggunakan kamera, nenek mengajari warganet tentang kesabaran, masakan tradisional, atau pengalaman hidup.
Namun, di balik gemerlap “panen cuan”, ada sejumlah persoalan yang perlu dicermati. Pertama, soal persetujuan dan kesadaran. Tidak semua lansia memahami sepenuhnya bagaimana konten mereka dipakai, siapa yang mendapatkan uang, dan apa konsekuensi viralitas. Ada risiko seorang nenek hanya dijadikan “aset” oleh keluarga atau pihak lain yang lebih memahami platform. Kedua, soal privasi dan martabat. Konten yang dianggap lucu belum tentu nyaman bagi sang nenek. Komentar jahat, body shaming, atau ledekan yang berlebihan bisa berdampak pada kesehatan mental. Ketiga, soal kesehatan fisik. Jadwal live yang padat, durasi rekaman panjang, atau tuntutan mengikuti tren dapat melelahkan lansia. Keempat, risiko penipuan dan eksploitasi finansial, baik terhadap penonton yang tergugah rasa iba maupun terhadap sang nenek sendiri.
Karena itu, fenomena “Nenek TikTok” membutuhkan pendekatan yang hati-hati. Keluarga sebaiknya memastikan bahwa lansia benar-benar memahami dan menyetujui aktivitas yang dilakukan. Pendampingan tidak boleh berubah menjadi pengendalian. Platform media sosial juga perlu memperkuat perlindungan bagi pengguna rentan, termasuk mekanisme pelaporan yang mudah, verifikasi usia, dan kebijakan yang jelas terhadap eksploitasi lansia. Sementara itu, penonton perlu bersikap kritis: tidak semua konten lansia adalah ekspresi murni; sebagian bisa jadi hasil rekayasa untuk mencari simpati dan uang. Dukungan yang sehat adalah apresiasi yang tidak berlebihan, bukan dorongan untuk terus mengeksploitasi kehidupan pribadi.
Pada akhirnya, “Nenek TikTok” adalah cermin bagaimana teknologi mengubah cara kita bekerja, mencari perhatian, dan menghasilkan uang. Fenomena ini bisa menjadi cerita pemberdayaan ketika lansia mendapat ruang, penghasilan, dan hubungan sosial yang lebih luas. Namun, ia juga bisa menjadi peringatan ketika viralitas berubah menjadi komoditas yang mengorbankan martabat, kesehatan, dan hak orang tua. Yang dibutuhkan bukan sekadar sorotan dan cuan, melainkan rasa hormat: memastikan bahwa di balik layar, sang nenek tetap menjadi manusia yang berhak memilih, dilindungi, dan diperlakukan dengan pantas.
← Artikel Sebelumnya
IBL All Indonesian 2026 Dimulai Esok, Pemain Lokal Tak Sabar Unjuk Gigi
Artikel Selanjutnya →
Komentar (0)