30, 2026
Politik

FIFA Tuding UEFA Jegal Infantino Jelang Pemilihan Presiden

FIFA menuduh UEFA melakukan pelecehan terhadap Presiden Gianni Infantino menjelang pemilihan presiden.]]>

Putri Gunawan
Putri Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

FIFA Tuding UEFA Jegal Infantino Jelang Pemilihan Presiden

Badan sepak bola dunia FIFA menuduh Konfederasi Sepak Bola Eropa (UEFA) berupaya menjegal Presiden FIFA Gianni Infantino menjelang pemilihan presiden organisasi tersebut. Tuduhan ini mencuat di tengah meningkatnya ketegangan antara kedua lembaga penguasa sepak bola itu, yang kembali memanas dalam beberapa pekan terakhir.

Latar Belakang Konflik FIFA dan UEFA

Ketegangan antara FIFA dan UEFA bukan hal baru dalam dinamika sepak bola dunia. Namun, eskalasi kali ini disebut berkaitan langsung dengan upaya sejumlah pihak untuk menggoyang posisi Infantino, yang pertama kali terpilih pada 2016 menggantikan Sepp Blatter. Infantino, yang sebelumnya menjabat Sekretaris Jenderal UEFA, kini menghadapi tekanan dari sejumlah asosiasi nasional Eropa yang menilai kepemimpinannya terlalu terpusat dan kurang transparan.

Sumber-sumber internal FIFA menyebutkan bahwa UEFA diduga aktif melakukan pendekatan kepada sejumlah federasi nasional untuk mencari calon penantang Infantino pada pemilihan presiden berikutnya. Langkah itu dianggap sebagai bentuk intervensi politik yang melampaui batas kewenangan sebuah konfederasi regional. FIFA menilai UEFA berusaha mengonsolidasikan dukungan agar kursi kepemimpinan tertinggi organisasi sepak bola dunia berpindah tangan.

Tuduhan Intervensi Politik

Dalam pernyataan resminya, FIFA menegaskan bahwa setiap konfederasi memiliki hak untuk menyampaikan aspirasi, tetapi tidak dibenarkan melakukan manuver yang mengganggu proses demokrasi internal FIFA. Manajemen FIFA menyatakan memiliki bukti komunikasi antara sejumlah pejabat UEFA dan asosiasi nasional yang mengarah pada upaya membentuk koalisi penantang. Bukti tersebut disebut sedang ditinjau oleh tim hukum FIFA.

UEFA belum memberikan tanggapan resmi secara rinci atas tuduhan tersebut. Namun, sejumlah pejabat UEFA sebelumnya menyatakan bahwa kritik terhadap kepemimpinan Infantino merupakan bagian dari tanggung jawab mereka untuk memperbaiki tata kelola sepak bola dunia. UEFA menilai FIFA di bawah Infantino kurang melibatkan konfederasi dalam pengambilan keputusan strategis, terutama terkait format kompetisi dan distribusi pendapatan.

Paket Reformasi dan Perluasan Kompetisi

Salah satu pemicu gesekan adalah kebijakan Infantino memperluas format Piala Dunia dan memperkenalkan sejumlah turnamen baru. UEFA menilai perluasan kompetisi berpotensi menambah beban pemain dan mengganggu kalender domestik negara-negara Eropa yang selama ini menjadi pusat industri sepak bola. Di sisi lain, FIFA berargumen bahwa perluasan turnamen membuka peluang lebih besar bagi negara-negara berkembang untuk berkompetisi di panggung global.

Ketegangan juga muncul terkait rencana sejumlah klub dan liga Eropa yang sempat mengusung gagasan kompetisi tertutup. FIFA menuding UEFA tidak konsisten dalam menolak gagasan tersebut, sementara UEFA menegaskan komitmennya menjaga piramida sepak bola Eropa. Perbedaan narasi ini memperuncing hubungan kedua lembaga.

Implikasi bagi Pemilihan Presiden FIFA

Pemilihan presiden FIFA menjadi momen krusial bagi arah kebijakan organisasi dalam beberapa tahun ke depan. Jika Infantino kembali mencalonkan diri, ia diperkirakan masih memiliki dukungan kuat dari sejumlah konfederasi di Asia, Afrika, dan Amerika. Namun, tekanan dari Eropa dapat memengaruhi konfigurasi suara, terutama di negara-negara yang selama ini bergantung pada bantuan pengembangan sepak bola dari UEFA.

Pengamat sepak bola menilai tuduhan FIFA terhadap UEFA dapat memperlebar polarisasi antara negara-negara maju dan berkembang dalam struktur kekuasaan sepak bola dunia. Di satu sisi, UEFA berupaya mempertahankan pengaruh tradisionalnya sebagai kawasan dengan liga dan klub paling kuat. Di sisi lain, FIFA berusaha memperluas basis dukungan di luar Eropa melalui program pembangunan dan alokasi dana yang lebih merata.

Tanggapan Federasi Nasional

Sejumlah asosiasi nasional memilih bersikap hati-hati menanggapi polemik ini. Mereka menegaskan fokus pada kepentingan tim nasional dan pengembangan pemain muda, tanpa ingin terseret dalam konflik politik antarlembaga. Beberapa federasi menyerukan dialog terbuka antara FIFA dan UEFA agar perbedaan pandangan tidak berujung pada perpecahan yang merugikan sepak bola secara keseluruhan.

Transparansi tata kelola menjadi isu utama yang disorot berbagai pihak. Kritik terhadap FIFA maupun UEFA sama-sama menekankan pentingnya akuntabilitas keuangan, mekanisme pengambilan keputusan yang inklusif, serta perlindungan terhadap pemain dan kompetisi domestik. Dalam konteks ini, tuduhan FIFA terhadap UEFA dinilai sebagai bagian dari pertarungan pengaruh yang lebih besar, bukan sekadar perselisihan teknis soal kalender pertandingan.

Dampak terhadap Sepak Bola Global

Jika ketegangan berlanjut, dampaknya dapat dirasakan pada berbagai aspek, mulai dari penyelenggaraan turnamen antarkonfederasi hingga kesepakatan komersial dan penyiaran. Kerja sama antara FIFA dan UEFA selama ini menjadi tulang punggung berbagai agenda sepak bola global, termasuk pengembangan wasit, program antidoping, dan penanganan pengaturan pertandingan. Ketidaksepahaman di level kepemimpinan berpotensi memperlambat sejumlah inisiatif tersebut.

FIFA menegaskan komitmennya menyelenggarakan pemilihan presiden secara bebas, rahasia, dan sesuai statuta. FIFA juga mengingatkan seluruh konfederasi untuk menghormati prinsip netralitas dan tidak melakukan kampanye terselubung yang melanggar kode etik organisasi. Sementara itu, UEFA disebut akan menggelar pertemuan internal untuk menyusun sikap resmi menyikapi tuduhan tersebut.

Hingga kini, belum ada kepastian mengenai nama calon yang akan menantang Infantino. Sejumlah spekulasi menyebut beberapa tokoh sepak bola Eropa dan Timur Tengah berpotensi maju, tetapi belum ada pernyataan resmi. Yang jelas, dinamika menjelang pemilihan presiden FIFA diprediksi berlangsung alot dan penuh negosiasi politik di balik layar.

Bagi publik pecinta sepak bola, konflik antarlembaga ini menjadi pengingat bahwa tata kelola olahraga global tidak lepas dari tarik-menarik kepentingan. Kualitas kepemimpinan, legitimasi demokratis, dan komitmen pada kepentingan pemain serta penggemar akan menjadi tolok ukur utama dalam menilai siapa yang layak memimpin FIFA pada periode berikutnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Putri Gunawan

Analis pasar modal dengan pengalaman lebih dari satu dekade di industri.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter