07, 2026
Teknologi

Gadget Lawas 'Hidup Lagi' Jadi Barang Sehari-hari, Nostalgia Banget

Gadget lawas dan internet jadul hidup lagi menjadi barang sehari-hari. Dari iPod jadi cermin hingga Windows jadi keset, bikin nostalgia!]]>

Mira Permata
Mira Permata Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gadget Lawas 'Hidup Lagi' Jadi Barang Sehari-hari, Nostalgia Banget

Gadget Lawas Kembali Diminati sebagai Barang Sehari-hari

Perangkat elektronik keluaran lama atau gadget lawas kembali menemukan tempat di kehidupan sehari-hari sejumlah pengguna. Berbagai perangkat yang sempat dianggap usang, seperti ponsel tombol, pemutar musik portabel, kamera digital saku, hingga konsol gim generasi awal, kini kembali digunakan bukan sekadar sebagai koleksi, melainkan sebagai barang fungsional untuk aktivitas harian.

Fenomena ini terlihat dari meningkatnya perbincangan di media sosial, forum diskusi teknologi, hingga platform jual beli barang bekas. Pengguna dari berbagai kelompok usia memburu perangkat keluaran awal 2000-an hingga 2010-an dengan alasan beragam, mulai dari kepraktisan, ketahanan baterai, hingga nilai nostalgia yang kuat.

Ponsel Tombol dan Kamera Digital Jadi Primadona

Salah satu kategori yang paling menonjol adalah ponsel dengan tombol fisik. Perangkat jenis ini dinilai kembali relevan bagi sebagian pengguna yang ingin mengurangi ketergantungan pada layar sentuh dan notifikasi aplikasi. Baterai yang tahan berhari-hari, bodi ringkas, serta fungsi dasar seperti panggilan dan pesan singkat menjadi alasan utama perangkat tersebut dipakai kembali sebagai telepon kedua.

Selain ponsel, kamera digital saku juga mengalami kebangkitan permintaan. Model-model lama dengan hasil gambar bert tekstur khas dan warna yang tidak terlalu tajam banyak dicari kalangan muda. Hasil foto dari kamera lawas dianggap memberikan karakter visual yang sulit ditiru kamera ponsel modern. Tren ini turut mendorong kenaikan harga sejumlah model bekas di pasar daring, terutama untuk seri yang dahulu populer di kalangan pengguna rumahan.

Pemutar musik portabel dengan penyimpanan memori terbatas juga kembali digunakan. Sebagian pengguna memilih perangkat ini untuk mendengarkan lagu secara lebih terarah tanpa gangguan konten lain. Selain itu, konsol gim lawas dengan grafis sederhana tetap memiliki penggemar setia karena dianggap menghadirkan pengalaman bermain yang lebih fokus dan menantang.

Pendorong Utama: Nostalgia dan Keinginan Menyederhanakan Teknologi

Pengamat budaya digital menilai kebangkitan gadget lawas tidak dapat dilepaskan dari faktor nostalgia. Bagi sebagian orang, perangkat tersebut melekat pada masa tertentu dalam hidup mereka, sehingga menghadirkan kenyamanan emosional ketika digunakan kembali. Nostalgia tidak hanya bersifat personal, tetapi juga berkembang menjadi bagian dari gaya hidup dan identitas di ruang digital.

Faktor lain adalah keinginan untuk menyederhanakan interaksi dengan teknologi. Sejumlah pengguna merasa perangkat modern menuntut perhatian terus-menerus melalui notifikasi, pembaruan aplikasi, dan berbagai fitur yang saling terhubung. Gadget lawas menawarkan fungsi terbatas yang justru dinilai membantu pengguna lebih fokus pada aktivitas utama.

Daya tahan perangkat lama juga menjadi pertimbangan. Banyak gadget keluaran lama dirancang dengan komponen yang dapat dibongkar dan diperbaiki, sehingga masa pakainya dapat diperpanjang. Kondisi ini berbeda dengan sebagian perangkat modern yang cenderung sulit diperbaiki dan cepat digantikan model terbaru.

Pasar Barang Bekas dan Tantangan Perawatan

Meningkatnya minat terhadap gadget lawas berdampak pada pasar barang bekas. Platform jual beli daring mencatat permintaan yang lebih tinggi untuk perangkat tertentu, terutama yang kondisinya masih berfungsi baik dan kelengkapannya utuh. Harga pun bervariasi, mulai dari puluhan ribu rupiah untuk perangkat rusak hingga jutaan rupiah untuk model langka berstatus koleksi.

Meski demikian, penggunaan kembali gadget lawas menghadapi sejumlah tantangan. Ketersediaan suku cadang semakin terbatas, terutama untuk perangkat yang sudah berusia lebih dari satu dekade. Baterai yang sudah menua berisiko mengembung dan perlu diganti dengan hati-hati. Dukungan perangkat lunak juga umumnya sudah dihentikan, sehingga aspek keamanan dan kompatibilitas dengan layanan digital terkini menjadi perhatian.

Untuk mengatasi hal tersebut, sejumlah komunitas pengguna aktif berbagi panduan perawatan, sumber suku cadang, hingga modifikasi ringan. Praktik ini memperkuat jaringan penggemar gadget lawas yang tersebar di berbagai daerah dan memperpanjang usia pakai perangkat.

Dampak pada Industri dan Perilaku Konsumsi

Fenomena ini turut memengaruhi cara sebagian konsumen memandang pembelian perangkat elektronik. Alih-alih selalu mengejar model terbaru, sebagian pengguna mulai mempertimbangkan perangkat lama yang masih layak pakai. Tren tersebut sejalan dengan gagasan konsumsi yang lebih hemat dan berkelanjutan, meski skala dampaknya masih terbatas dibandingkan pasar perangkat baru.

Produsen dan pelaku usaha ritel barang bekas pun menyesuaikan diri dengan permintaan tersebut. Beberapa toko menyediakan layanan refurbish, yaitu perbaikan dan pemulihan kondisi perangkat agar layak digunakan kembali. Layanan ini mencakup penggantian baterai, pembersihan komponen, hingga pemasangan sistem operasi yang kompatibel.

Secara keseluruhan, kebangkitan gadget lawas menunjukkan bahwa nilai sebuah perangkat tidak semata ditentukan oleh kecanggihan teknologinya. Fungsi praktis, keterikatan emosional, dan keinginan untuk mengendalikan penggunaan teknologi menjadi faktor yang membuat perangkat lama tetap relevan di tengah derasnya arus inovasi. Fenomena ini diprediksi terus berlanjut selama kebutuhan akan perangkat yang sederhana, tahan lama, dan bernilai nostalgia masih ada di masyarakat.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Mira Permata

Jurnalis ekonomi yang fokus pada kebijakan makro dan sektor keuangan.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter