30, 2026
Internasional

Gaza Krisis Listrik, RS Terancam Lumpuh-Nyawa Pasien di Ujung Tanduk

Krisis listrik di Gaza kian parah. Kelangkaan bahan bakar dan suku cadang generator mengancam operasional rumah sakit dan keselamatan pasien.]]>

Lestari Maharani
Lestari Maharani Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gaza Krisis Listrik, RS Terancam Lumpuh-Nyawa Pasien di Ujung Tanduk

Gaza Krisis Listrik, RS Terancam Lumpuh-Nyawa Pasien di Ujung Tanduk

Krisis listrik yang melanda Palestina khususnya di wilayah Gaza semakin memburuk seiring dengan berlanjutnya konflik yang telah berlangsung selama lebih dari seminggu. Kondisi ini mengancam operasional rumah sakit yang menjadi tempat perlindungan terakhir bagi warga sipil, terutama pasien yang membutuhkan perawatan intensif. Kekurangan pasokan listrik membuat fasilitas kesehatan di Gaza berada di ambang lumpuh total, dengan nyawa pasien terancam.

Menurut laporan terbaru dari Kementerian Kesehatan Palestina, 15 dari 36 rumah sakit di Gaza saat ini hanya memiliki pasokan listrik terbatas, sebagian besar berasal dari generator cadangan yang memiliki kapasitas terbatas. Kondisi ini diperparah dengan semakin menipisnya pasokan bahan bakar untuk generator-generator tersebut, menyebabkan sejumlah rumah sakit terpaksa mengurangi aktivitas medisnya secara drastis.

Situasi Darurat di Fasilitas Kesehatan

Rumah Sakit Al-Shifa, fasilitas kesehatan terbesar di Gaza, melaporkan bahwa mereka hanya memiliki pasokan listrik selama empat jam sehari, sementara kebutuhan normalnya adalah 24 jam nonstop. Kepala Rumah Sakit Al-Shifa, Dr. Mohammad Abu Salmiya, menyatakan bahwa situasi ini telah mencapai titik kritis di mana rumah sakit tidak lagi dapat memberikan layanan medis yang memadai bagi pasien.

"Kami berada dalam situasi darurat. Beberapa ruang operasi terpaksa ditutup, peralatan medis vital tidak berfungsi, dan pasien terancam karena tidak bisa mendapatkan perawatan yang mereka butuhkan," kata Dr. Salmiya melalui telepon dari rumah sakit yang sedang dalam keadaan gelap.

Sementara itu, di Rumah Sakit Anak Al-Durra, situasi tak kalah genting. Pasien bayi yang membutuhkan inkubator dan peralatan medis lainnya terancam nyawanya akibat kekurangan pasokan listrik. Kepala bagian Neonatus di rumah sakit tersebut, Dr. Fatima Khalil, mengungkapkan bahwa mereka telah memindahkan pasien ke area yang memiliki akses generator, namun kapasitasnya tidak mencukupi untuk semua pasien.

Dampak pada Pasien dan Tenaga Medis

Dampak krisis listrik dirasakan paling nyata oleh pasien yang menjalani perawatan intensif. Pasien dengan kondisi kritis yang membutuhkan monitor jantung, mesin napas, dan peralatan medis lainnya berada dalam situasi berbahaya. Beberapa pasien telah mengalami komplikasi akibat gangguan pasokan listrik yang mendadak.

"Kami kehilangan kontrol atas kondisi pasien ketika listrik padam. Mesin napas berhenti berfungsi, monitor tidak menampilkan data, dan kami terpaksa melakukan tindakan manual yang berisiko tinggi," sebut seorang dokter di ruang ICU yang meminta tidak disebutkan namanya.

Tenaga medis sendiri juga menghadapi tekanan psikologis ekstrem. Mereka bekerja dalam kondisi stres tinggi dengan bekerja berjam-jam tanpa istirahat yang memadai, sambil berupaya keras untuk menyelamatkan nyawa pasien dengan fasilitas yang terbatas.

Kebutakan Global dan Aksi Kemanusiaan

Sementara itu, respons internasional terhadap krisis kemanusiaan di Gaza dinilai masih belum memadai. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) telah mengeluarkan peringatan darurat atas situasi di rumah sakit Gaza, namun bantuan yang masuh belum mencapai titik yang dibutuhkan.

Koordinator Darurat WHO untuk Gaza, Dr. Richard Peeperkorn, menyatakan bahwa pasokan bahan bakar untuk generator-generator rumah sakit menjadi prioritas utama. "Tanpa pasokan listrik yang stabil, rumah sakit tidak dapat berfungsi. Ini bukan hanya masalah peralatan medis, tetapi masalah nyawa manusia," ujarnya.

Sejumlah organisasi kemanusiaan internasional telah berupaya mengirimkan bantuan berupa generator dan bahan bakar, namun aksi ini seringkali terhambat oleh pembatasan akses ke Gaza dan kondisi keamanan yang belum stabil.

Harapan Terbatas di Tengah Krisis

Di tengah situasi yang genting ini, masyarakat Gaza mencoba bertahan dengan segala cara. Warga setempat berbondong-bondong mengisi ulang baterai ponsel dan perangkat elektronik lainnya saat listrik listrik ada, meskipun durasinya singkat. Beberapa warga juga mengandalkan lilin dan lampu senter untuk menerangi malam hari.

Pihak berwenang Palestina berupaya mencari solusi dengan meminta bantuan dari negara-negara tetangga dan organisasi internasional, namun respons yang diterima masih belum memadai untuk mengatasi krisis yang semakin memburuk ini.

Dengan konflik yang belum menunjukkan tanda-tanda akan segera berakhir, masa depan kesehatan masyarakat Gaza semingga suram. Rumah sakit yang seharusnya menjadi tempat perlindungan nyawa kini berubah menjadi tempat yang paling berbahaya, dengan pasien yang terancam lumpuhnya perawatan dan kematian yang menunggu di setiap sudut koridor yang gelap.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Lestari Maharani

Kolumnis yang gemar mengupas isu perdagangan internasional dan rantai pasok.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter