Gempa M 4,8 Guncang Sumba, Begini Keterangan BMKG
Gempa bumi dengan magnitudo 4,8 mengguncak wilayah Sumba, Nusa Tenggara Timur, pada Rabu (12/7) siang. Gempa yang terjadi sekitar pukul 12.35 WIB itu berpusat di darat dengan kedalaman 10 kilometer. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengkonfirmasi kejadian ini dan menyatakan bahwa gempa ini tidak berpotensi tsunami.
Kepala Pusat Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Daryono, menjelaskan bahwa gempa tersebut terjadi akibat aktivitas sesar aktif di wilayah Sumba. "Gempa ini terjadi karena adanya aktivitas pada sesar aktif yang ada di sekitar wilayah Sumba. Kedalaman 10 km termasuk dangkal sehingga dirasakan cukup kuat di permukaan," ujar Daryono dalam keterangannya.
Menurut informasi yang diperoleh, gempa dirasakan sebagian masyarakat di sekitar wilaya terdampak. Beberapa warga melaporkan merasakan gempa yang cukup kuat dan sempat menimbulkan kepanikan. Namun hingga saat ini belum ada laporan korban jiwa atau kerusakan signifikan akibat gempa tersebut.
Kondisi Pasca Gempa
Setelah gempa, masyarakat di sekitar wilayah terdampak melakukan evakuasi sejenak ke area terbuka. Pemerintah Daerah setempat langsung melakukan pengecekan kondisi di berbagai lokasi. Bupati Sumba Barat, Paulus Lameck Koroh, mengatakan pihaknya masih mengumpulkan data lengkap mengenai dampak gempa.
"Kami masih mengumpulkan data dari seluruh kecamatan yang ada di kabupaten. Sementara berdasarkan informasi awal, belum ada laporan kerusakan gedung publik atau infrastruktur yang signifikan. Namun kami tetap waspada karena gempa diikuti oleh beberapa kali gempa susulan," jelas Bupati Paulus.
BMKG juga mencatat terdapat beberapa kali gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil setelah gempa utama. Gempa susulan tersebut memiliki magnitudo berkisar antara 2,5 hingga 3,5 dan tidak berpotensi bahaya.
Tanggapan BMKG
BMKG menekankan bahwa meskipun gempa ini tidak berpotensi tsunami, masyarakat tetap diimbau untuk tetap waspada. "Meskipun tidak berpotensi tsunami, gempa bumi dengan magnitudo ini masih dapat berpotensi menimbulkan dampak seperti keruskan ringan pada bangunan yang tidak memenuhi standar keamanan gempa," jelas Daryono.
BMKG juga mengimbau masyarakat untuk tidak menyebar berita hoaks atau informasi tidak jelas mengenai gempa. "Kami masyarakat untuk mendapatkan informasi resmi dari sumber terpercaya seperti BMKG atau pemerintah daerah setempat," tambahnya.
Pihaknya juga telah menyiapkan tim untuk memantau perkembangan situasi di wilayah terdampak. Tim tersebut akan melakukan survei lapangan untuk mengetahui dampak pasti dari gempa dan memberikan arahan kepada masyarakat.
Potensi Gempa di Wilayah Sumba
Wilayah Sumba termasuk dalam jalur patahan aktif di Indonesia sehingga memiliki potensi gempa yang cukup tinggi. BMKG menyatakan bahwa wilayah ini sering mengalami gempa bumi dengan magnitudo bervariasi.
Untuk mengurangi risiko bencana, BMKG terus melakukan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pengetahuan gempa bumi dan tsunami. Sosialisasi ini bertujuan agar masyarakat memiliki pengetahuan yang cukup tentang cara bertindak saat terjadi gempa bumi.
Upaya Mitigasi Bencana
Pemerintah Daerah Sumba bersama BMKG terus melakukan berbagai upaya mitigasi bencana gempa. Upaya ini antara lain dengan melakukan pemetaan zona rawan gempa, membangun bangunan publik yang tahan gempa, serta melakukan simulasi tanggap darurat bencana.
"Kami terus berupaya untuk mengurangi risiko bencana di wilayah Sumba. Salah satunya dengan memastikan bahwa bangunan-bangunan publik memenuhi standar keamanan gempa," jelas Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sumba, Andreas Kallu.
Andreas menambahkan bahwa pihaknya juga terus melakukan pemantauan aktif terhadap aktivitas tektonik di wilayah tersebut. "Kami bekerja sama dengan BMKG untuk memantau setiap aktivitas gempa yang terjadi agar dapat memberikan informasi yang cepat dan akurat kepada masyarakat," tutupnya.
Komentar (0)