07, 2026
Nasional

Gempa Magnitudo 5,2 Guncang 9 km Tenggara LOMBOKBARAT-NTB

Galih Nasution
Galih Nasution Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gempa bumi berkekuatan magnitudo 5,2 mengguncang wilayah 9 kilometer tenggara Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, pada Selasa, 4 Februari 2025. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat episentrum gempa berada di koordinat 8,65 derajat Lintang Selatan dan 116,07 derajat Bujur Timur, dengan kedalaman 26 kilometer.

Berdasarkan analisis BMKG, gempa ini merupakan jenis gempa dangkal yang dipicu oleh aktivitas sesar naik berlokasi di zona transisi antara Sesar Flores dan Sesar Lombok. Wilayah Lombok dan sekitarnya memang dikenal sebagai kawasan rawan gempa karena terletak di pertemuan lempeng Indo-Australia dan Eurasia, serta memiliki sejumlah sesar aktif di daratan maupun di dasar laut.

Dampak dan Guncangan yang Dirasakan

Guncangan gempa dirasakan cukup kuat oleh warga di beberapa wilayah di Pulau Lombok, terutama di Lombok Barat, Kota Mataram, Lombok Tengah, dan Lombok Utara. Berdasarkan laporan dari masyarakat dan analisis intensitas BMKG, guncangan di wilayah Lombok Barat tercatat pada skala III hingga IV Modified Mercalli Intensity (MMI). Pada skala tersebut, getaran dirasakan nyata di dalam rumah, seolah-olah ada truk besar yang melintas, dan benda-benda ringan yang digantung bergoyang.

Di Kota Mataram, guncangan dirasakan pada skala III MMI. Sementara itu, di wilayah Lombok Tengah dan Lombok Utara, intensitas guncangan tercatat lebih rendah, yaitu sekitar II hingga III MMI. Getaran juga dilaporkan dirasakan hingga ke sebagian wilayah Bali, terutama di Kabupaten Karangasem dan Kota Denpasar, meskipun dengan intensitas yang lebih lemah.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun kerusakan bangunan yang signifikan akibat gempa tersebut. Namun, sejumlah warga sempat panik dan berhamburan keluar rumah, terutama mereka yang tinggal di kawasan pesisir dan permukiman padat penduduk. Beberapa rumah warga dilaporkan mengalami keretakan halus pada dinding, tetapi belum ada data pasti mengenai jumlah dan tingkat kerusakannya.

Respons BMKG dan Imbauan kepada Masyarakat

BMKG menegaskan bahwa hasil analisis awal tidak menunjukkan potensi tsunami dari gempa ini. Kedalaman 26 kilometer dan magnitudo 5,2 dinilai tidak cukup untuk memicu gelombang laut besar. Meskipun demikian, BMKG tetap mengimbau masyarakat di wilayah pesisir untuk tetap tenang dan tidak terpancing informasi yang tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

Kepala Stasiun Geofisika Mataram menyatakan bahwa hingga pukul 14.00 WITA, telah tercatat beberapa kali gempa susulan dengan magnitudo lebih kecil. Gempa susulan tersebut merupakan hal yang wajar terjadi setelah gempa utama dan umumnya tidak menimbulkan dampak kerusakan. Masyarakat diminta untuk tidak panik, namun tetap waspada terhadap kemungkinan gempa susulan yang bisa saja terjadi dalam beberapa jam hingga hari ke depan.

BMKG juga mengingatkan bahwa wilayah Lombok memiliki sejarah panjang aktivitas kegempaan. Gempa besar pernah mengguncang kawasan ini, termasuk rangkaian gempa pada tahun 2018 yang menimbulkan kerusakan luas dan korban jiwa. Oleh karena itu, kesiapsiagaan terhadap bencana gempa menjadi hal yang mutlak bagi warga yang tinggal di kawasan rawan gempa.

Kesiapsiagaan dan Langkah Mitigasi

Pemerintah daerah bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Provinsi NTB telah berkoordinasi untuk melakukan pemantauan kondisi di lapangan. Tim gabungan dikerahkan untuk mengecek laporan kerusakan dan memberikan bantuan jika diperlukan. Selain itu, sosialisasi mengenai langkah-langkah mitigasi gempa terus digencarkan, terutama di sekolah-sekolah dan komunitas warga.

Masyarakat diimbau untuk memeriksa struktur bangunan tempat tinggal masing-masing, memastikan tidak ada keretakan yang membahayakan, serta menyiapkan tas siaga bencana yang berisi dokumen penting, obat-obatan, air minum, dan perlengkapan darurat lainnya. Langkah sederhana seperti mengetahui jalur evakuasi dan titik kumpul juga dinilai sangat membantu dalam mengurangi risiko saat terjadi gempa.

BMKG menekankan pentingnya informasi yang bersumber dari kanal resmi pemerintah. Masyarakat diharapkan tidak menyebarkan informasi yang belum terverifikasi mengenai gempa, karena dapat memicu kepanikan yang tidak perlu. Informasi resmi dapat diakses melalui situs web BMKG, aplikasi Info BMKG, serta akun media sosial resmi BMKG dan BPBD setempat.

Secara geologis, kawasan Lombok dan Nusa Tenggara Barat berada di zona subduksi yang sangat aktif. Interaksi antara lempeng Indo-Australia yang menunjam ke bawah lempeng Eurasia menciptakan akumulasi energi yang dilepaskan secara berkala dalam bentuk gempa bumi. Selain itu, keberadaan sesar-sesar aktif di daratan, seperti Sesar Lombok dan Sesar Flores, turut meningkatkan risiko kegempaan di wilayah ini.

Para ahli kegempaan terus melakukan pemantauan intensif terhadap aktivitas seismik di kawasan tersebut. Data dari jaringan seismograf BMKG menjadi acuan utama dalam menganalisis karakteristik gempa, termasuk mekanisme sumber, kedalaman, dan potensi dampak lanjutan. Dengan pemantauan yang berkelanjutan, diharapkan setiap potensi bahaya dapat diidentifikasi lebih dini sehingga langkah mitigasi dapat dilakukan secara tepat.

Gempa magnitudo 5,2 yang mengguncang Lombok Barat pada Selasa siang menjadi pengingat bahwa kesiapsiagaan menghadapi bencana alam harus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari masyarakat di kawasan rawan gempa. Meskipun tidak menimbulkan kerusakan besar, peristiwa ini menegaskan pentingnya pemahaman tentang risiko gempa dan upaya mitigasi yang berkelanjutan demi keselamatan bersama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Galih Nasution

Pemerhati energi dan transisi hijau di kawasan Asia Tenggara.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter