22, 2026
Nasional

Gen Z Berburu Pekerjaan: Apa Saja yang Penting Kerja

Dian Gunawan
Dian Gunawan Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gelombang baru angkatan kerja memasuki pasar dengan cara yang berbeda dari generasi sebelumnya. Generasi Z, yang lahir sekitar akhir 1990-an hingga awal 2010-an, kini menjadi kelompok besar pencari kerja di Indonesia. Bagi mereka, pekerjaan bukan hanya soal menerima upah pada akhir bulan. Ada sejumlah pertimbangan yang dinilai penting sebelum menerima tawaran kerja, mulai dari besaran gaji hingga suasana lingkungan kantor.

Pemahaman atas preferensi ini menjadi kunci bagi perusahaan yang ingin menarik dan mempertahankan talenta muda. Berbagai survei yang dilakukan lembaga riset sumber daya manusia, baik di tingkat global maupun nasional, secara konsisten menunjukkan bahwa Gen Z cenderung selektif dan mempertimbangkan banyak faktor sebelum bergabung dengan sebuah organisasi.

Gaji Tetap Penting, tetapi Bukan Satu-satunya

Kompensasi finansial masih menempati posisi atas dalam daftar prioritas. Hal ini wajar mengingat biaya hidup yang terus meningkat, terutama di kota-kota besar. Bagi banyak lulusan baru, gaji yang layak menjadi penentu apakah mereka bisa mandiri secara finansial atau masih bergantung pada keluarga.

Namun, sejumlah kajian menunjukkan gaji bukan lagi satu-satunya alasan seseorang bertahan atau berpindah kerja. Ketika ditanya tentang faktor yang membuat mereka betah, responden dari kelompok usia muda sering menyebut hal-hal nonfinansial, seperti kejelasan jenjang karier, penghargaan atas hasil kerja, dan rasa aman dalam bekerja.

Yang juga menjadi perhatian adalah transparansi soal upah. Gen Z tumbuh di era informasi terbuka dan terbiasa membandingkan data. Mereka menghargai perusahaan yang mencantumkan kisaran gaji sejak proses rekrutmen, karena hal itu dianggap menunjukkan keterbukaan dan mengurangi potensi kekecewaan di kemudian hari.

Fleksibilitas dan Keseimbangan Hidup

Pandemi mengubah cara pandang banyak orang terhadap kerja. Bagi Gen Z, fleksibilitas bukan lagi bonus, melainkan bagian dari standar yang dicari. Pengaturan kerja hibrida atau jarak jauh, jam kerja yang tidak terlalu kaku, serta kejelasan batas antara waktu kerja dan waktu pribadi menjadi pertimbangan serius.

Keseimbangan hidup atau work-life balance kerap disebut sebagai alasan utama menolak tawaran kerja. Banyak dari mereka enggan menerima posisi yang menuntut ketersediaan penuh di luar jam kerja, termasuk membalas pesan pada malam hari atau akhir pekan. Bagi generasi ini, kerja adalah bagian dari hidup, bukan seluruhnya.

Perusahaan yang masih menerapkan budaya lembur tanpa batas berisiko kehilangan kandidat potensial. Sebaliknya, perusahaan yang memiliki kebijakan kerja yang jelas dan menghormati waktu pribadi karyawan dinilai lebih menarik.

Pengembangan Keterampilan dan Kejelasan Karier

Gen Z tumbuh bersama teknologi yang berkembang cepat. Kesadaran bahwa keterampilan bisa usang dalam hitungan tahun membuat mereka mencari tempat kerja yang menyediakan ruang belajar. Program pelatihan, akses ke kursus, bimbingan dari mentor, serta kesempatan mengerjakan proyek baru menjadi daya tarik tersendiri.

Selain itu, kejelasan jenjang karier menjadi pertimbangan penting. Kandidat muda ingin tahu apa yang bisa mereka capai dalam dua hingga lima tahun ke depan, dan bagaimana perusahaan membantu mewujudkannya. Umpan balik yang rutin dan penilaian kinerja yang transparan disebut lebih bermanfaat dibanding evaluasi tahunan yang sifatnya formalitas.

Kesempatan Berkontribusi Sejak Awal

Banyak anak muda tidak ingin hanya menjadi pelaksana tugas kecil. Mereka menghargai kesempatan diberi tanggung jawab nyata sejak awal, dengan dukungan yang memadai. Perusahaan yang memberi ruang bereksperimen dan tidak menghukum kesalahan kecil cenderung lebih diminati.

Budaya Kerja dan Kesehatan Mental

Isu kesehatan mental menjadi perhatian yang jauh lebih terbuka dibanding generasi sebelumnya. Gen Z cenderung mempertimbangkan bagaimana budaya kerja di sebuah perusahaan, termasuk apakah atasan mendengarkan, apakah ada toleransi terhadap perbedaan pendapat, dan apakah lingkungan kerja mendukung kesejahteraan psikologis.

Reputasi perusahaan di mata publik juga ikut diperiksa. Lewat media sosial dan platform ulasan karyawan, calon pelamar bisa mengetahui pengalaman orang lain sebelum melamar. Informasi ini memengaruhi keputusan mereka, terutama jika muncul keluhan berulang soal manajemen atau beban kerja.

Nilai dan Tanggung Jawab Sosial Perusahaan

Faktor lain yang semakin diperhitungkan adalah kesesuaian nilai. Gen Z cenderung ingin bekerja di organisasi yang memiliki tujuan jelas dan tidak bertentangan dengan prinsip mereka. Isu seperti keberlanjutan, kesetaraan, dan tanggung jawab sosial menjadi pertimbangan, meski bobotnya berbeda-beda pada setiap individu.

Perusahaan yang mampu menjelaskan dampak pekerjaan bagi masyarakat luas umumnya lebih mudah menarik perhatian kandidat muda. Sebaliknya, kesan bahwa perusahaan hanya mengejar keuntungan tanpa memperhatikan dampak sosial dapat menjadi penghambat.

Tantangan bagi Perusahaan dan Pencari Kerja

Di sisi lain, persaingan kerja tetap ketat. Jumlah lulusan baru setiap tahun besar, sementara lapangan kerja yang tersedia tidak selalu sebanding. Gen Z dituntut memiliki keterampilan yang relevan, termasuk kemampuan digital, komunikasi, dan kerja sama tim. Pengalaman magang atau proyek nyata menjadi nilai tambah dalam proses seleksi.

Bagi perusahaan, memahami preferensi generasi ini bukan berarti harus menuruti semua permintaan. Yang dibutuhkan adalah keseimbangan antara kebutuhan bisnis dan harapan karyawan. Kebijakan yang jelas, komunikasi terbuka, serta konsistensi antara janji saat rekrutmen dan kenyataan di tempat kerja menjadi faktor penentu.

Dengan demikian, perburuan kerja oleh Gen Z bukan sekadar soal mencari penghasilan. Mereka menimbang gaji, fleksibilitas, pengembangan diri, budaya kerja, kesehatan mental, dan nilai perusahaan. Pemahaman bersama atas hal-hal tersebut akan membantu kedua pihak menemukan kecocokan yang bertahan lama.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Dian Gunawan

Penulis lepas yang menulis tentang startup, teknologi, dan ekosistem digital Indonesia.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter