03, 2026
Teknologi

Google Bawa Chip AI ke Luar Angkasa, Mau Bikin Data Center di Orbit

Google menguji pusat data luar angkasa dengan meluncurkan satelit berisi chip AI. Proyek Suncatcher bertujuan untuk mengeksplorasi komputasi di orbit Bumi.]]>

Siti Rahma
Siti Rahma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Google Bawa Chip AI ke Luar Angkasa, Mau Bikin Data Center di Orbit

Google secara resmi mengumumkan ambisi jangka panjangnya untuk membangun pusat data di luar angkasa. Perusahaan induk Alphabet itu mengungkap proyek riset bernama Project Suncatcher, sebuah inisiatif yang bertujuan menempatkan chip kecerdasan buatan atau AI ke orbit Bumi melalui satelit yang dilengkapi panel surya raksasa. Langkah ini menandai babak baru dalam perlombaan infrastruktur komputasi global yang selama ini bergantung pada pusat data darat dengan konsumsi listrik dan air pendingin yang sangat besar.

Latar Belakang dan Tujuan Project Suncatcher

Project Suncatcher dirancang sebagai eksperimen awal untuk menguji kelayakan komputasi AI di luar angkasa. Google menyatakan bahwa gagasan ini muncul dari kebutuhan mendesak akan kapasitas komputasi yang terus melonjak seiring pertumbuhan model kecerdasan buatan generatif. Pusat data konvensional di darat menghadapi keterbatasan lahan, pasokan energi, dan pendinginan. Di orbit, satelit dapat memanen energi matahari tanpa gangguan cuaca maupun siklus siang-malam, sehingga berpotensi menyediakan pasokan listrik yang stabil dan berkelanjutan selama 24 jam penuh.

Menurut penjelasan Google, satelit dalam proyek ini tidak hanya berfungsi sebagai relai komunikasi seperti satelit telekomunikasi pada umumnya. Setiap unit akan membawa akselerator AI khusus, yakni chip Tensor Processing Unit atau TPU yang dirancang Google untuk beban kerja machine learning. Rencananya, sekelompok satelit akan membentuk konstelasi yang saling terhubung melalui tautan optik antar-satelit berkecepatan tinggi, sehingga membentuk jaringan komputasi terdistribusi di orbit rendah Bumi.

Teknologi Kunci: Chip TPU dan Panel Surya di Orbit

Dalam uji coba yang telah dilakukan, Google melaporkan bahwa chip TPU miliknya mampu bertahan menghadapi radiasi kosmik tanpa mengalami kerusakan permanen dalam jangka pendek. Radiasi menjadi salah satu tantangan terbesar dalam menempatkan perangkat elektronik di luar angkasa, karena partikel bermuatan dapat mengganggu kerja transistor dan memicu error komputasi. Google mengklaim pihaknya telah mengembangkan teknik mitigasi, termasuk redundansi perangkat lunak dan desain sirkuit tahan radiasi, untuk menjaga keandalan komputasi.

Aspek energi juga menjadi fokus utama. Satelit Project Suncatcher akan dilengkapi panel surya berukuran besar yang dapat menghasilkan daya jauh lebih tinggi dibanding satelit komunikasi biasa. Dengan tidak adanya atmosfer yang menyerap sinar matahari, efisiensi konversi energi di orbit dinilai lebih unggul. Google memperkirakan bahwa dalam jangka panjang, biaya energi per unit komputasi di orbit dapat turun drastis seiring menurunnya biaya peluncuran roket, terutama setelah hadirnya kendaraan peluncuran yang dapat digunakan ulang seperti Falcon 9 milik SpaceX dan Starship yang masih dalam tahap pengembangan.

Tantangan Teknis dan Ekonomi

Meski terdengar ambisius, Project Suncatcher menghadapi sejumlah kendala besar. Pertama, biaya peluncuran masih menjadi penghalang utama. Meskipun harga peluncuran per kilogram ke orbit rendah Bumi telah menurun dalam satu dekade terakhir, mengangkat konstelasi satelit berukuran besar beserta chip AI ke luar angkasa tetap membutuhkan investasi puluhan miliar dolar. Kedua, pemeliharaan dan perbaikan satelit di orbit sangat sulit dilakukan. Jika satu unit mengalami kegagalan, tidak ada teknisi yang dapat langsung memperbaikinya seperti di pusat data darat.

Ketiga, masalah latensi atau keterlambatan sinyal. Komunikasi antara satelit di orbit dan stasiun bumi memerlukan waktu tempuh yang tidak bisa dihindari, meskipun hanya dalam hitungan milidetik. Untuk aplikasi AI yang menuntut respons waktu nyata, latensi ini bisa menjadi penghambat. Google menyatakan bahwa konstelasi satelit akan dirancang untuk memproses data secara mandiri di orbit, sehingga hanya hasil akhir yang dikirim ke Bumi, bukan seluruh aliran data mentah.

Keempat, aspek regulasi dan tata kelola ruang angkasa. Semakin banyaknya satelit di orbit rendah Bumi telah memicu kekhawatiran tentang penumpukan sampah antariksa dan risiko tabrakan. Proyek seperti Suncatcher berpotensi menambah kepadatan lalu lintas orbit, sehingga memerlukan koordinasi ketat dengan badan antariksa internasional dan otoritas regulasi telekomunikasi di berbagai negara.

Persaingan Global di Sektor Komputasi Orbit

Google bukan satu-satunya perusahaan yang melirik komputasi luar angkasa. Microsoft melalui proyek Azure Space telah menjalin kemitraan dengan penyedia layanan satelit untuk menghadirkan komputasi awan di orbit. Amazon melalui divisi Kuiper dan layanan AWS juga tengah mengembangkan infrastruktur serupa. Sementara itu, sejumlah startup seperti Loft Orbital dan Axiom Space menawarkan platform komputasi edge di luar angkasa untuk klien komersial maupun pemerintah.

Di tingkat negara, China dan Amerika Serikat berlomba memperkuat kemampuan komputasi orbit sebagai bagian dari strategi keamanan nasional dan dominasi teknologi. Pemerintah China dilaporkan tengah mengembangkan satelit cerdas yang mampu menjalankan model AI secara mandiri untuk keperluan penginderaan jauh dan analisis citra satelit. Amerika Serikat melalui Defense Advanced Research Projects Agency atau DARPA juga memiliki program serupa untuk komputasi di orbit.

Implikasi bagi Industri dan Lingkungan

Jika Project Suncatcher berhasil, dampaknya terhadap industri pusat data bisa sangat besar. Pusat data darat saat ini menyumbang sekitar satu hingga dua persen konsumsi listrik global dan terus tumbuh seiring adopsi AI. Pemindahan sebagian beban komputasi ke orbit dapat mengurangi tekanan terhadap jaringan listrik dan sumber daya air di Bumi. Namun, para kritikus memperingatkan bahwa solusi ini berpotensi menciptakan masalah baru, seperti polusi cahaya di langit malam yang mengganggu astronomi dan ekosistem satwa liar.

Google menegaskan bahwa Project Suncatcher masih berada dalam tahap riset awal dan belum ada jadwal komersialisasi yang pasti. Perusahaan berencana melakukan demonstrasi teknologi dalam beberapa tahun ke depan sebelum mengambil keputusan investasi besar. Meski demikian, pengumuman ini menegaskan bahwa perlombaan menuju infrastruktur komputasi generasi berikutnya tidak lagi terbatas pada permukaan Bumi, melainkan telah merambah ke orbit planet ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Siti Rahma

Menarik pada topik kesehatan wanita, kehamilan, dan parenting.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter