30, 2026
Nasional

Gunung Anak Krakatau Meletus, Ada 'Penghuni' yang Tak Bisa Kabur

Erupsi Anak Krakatau turut menguji ketahanan biodiversitas dan ekosistemnya.]]>

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gunung Anak Krakatau Meletus, Ada 'Penghuni' yang Tak Bisa Kabur

Gunung Anak Krakatau Meletus, Ada 'Penghuni' yang Tak Bisa Kabur

Gunung Anak Krakatau kembali memunculkan kekuatan dahsyatnya dalam letusan vulkanik pada Rabu (24/5) pagi. Letusan tersebut teramati sekitar pukul 05.23 WIB dengan ketinggian kolom abu mencapai 800 meter dari puncak gunung. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Stasiun Gunung Anak Krakatau (GAK) mencatat gempa vulkanik terus terjadi dengan intensitas bervariasi sejak pukul 04.00 WIB.

Kepala Pusat Vulkanologi dan Mitasi Bencana Geologi (PVMBG) Hendra Gunawan mengungkapkan bahwa letusan terjadi dalam dua tahap. Pertama adalah letusan eksplosif yang menghasilkan kolom abu tebal, diikuti oleh letusan freatik yang lebih kecil namun tetap berpotensi berbahaya. "Letusan ini terjadi karena tekanan gas di dalam kubah lava yang terus meningkat hingga akhirnya meledak," jelas Hendra dalam keterangannya resmi.

Wilayah sekitak Selat Sunda, terutama di sepanjang pantai Banten dan Lampung, dilanda hujan abu tebal setelah letusan. Warga di kawasan tersebut melaporkan kondisi udara menjadi pekat dan terasa menusuk di tenggorokan. Pemerintah Daerah setempat segera mengimbau warga untuk mengenakan masker saat beraktivitas di luar ruangan dan menutup sumber air minum.

Kondisi Vulkanik yang Meningkat

Monitoring PVMBG menunjukkan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau telah meningkat sejak awal Mei 2023. Frekuensi gempa vulkanik tercatat mencapai 50 kali per hari, jauh lebih tinggi dibandingkan bulan sebelumnya yang hanya berkisar 10-15 kali per hari. Selain itu, deformasi permukaan juga terdeteksi di puncak gunung dengan kecepatan 8 cm per minggu.

"Kami telah menetapkan status Gunung Anak Krakatau pada Level III (Siaga) sejak 15 Mei lalu. Kondisi saat ini membutuhkan perhatian ekstra karena potensi letusan lebih besar masih tinggi," tambah Kepala PVMBG. Pihaknya terus melakukan pemantauan intensif terhadap parameter vulkanik gunung yang lahir dari letusan Krakatau 1883 tersebut.

Dampak pada Ekosistem Laut

Salah dampak paling signifikan dari letusan Gunung Anak Krakatau adalah terhadap ekosistem laut di sekitarnya. Gunung berapi tersebut berlokasi di tengah laut, sehingga letusan seringkali mengakibatkan perubahan drastis kondisi oseanografi. Kali ini, kolom abu dan material vulkanik yang masuk ke air laut berpotensi mengganggu rantai makanan laut.

Tim peneliti dari Institut Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) yang sedang melakukan survei di sekitar gunung berapi melaporkan adanya kematian massif beberapa spesies biota laut. "Kami menemukan puluhan ikan mati mengapung di permukaan air. Abu vulkanik mengandung zat beracun yang dapat merusak insang ikan dan organisme laut lainnya," jelas Dr. Surya, salah satu peneliti LIPI.

Lebih lanjut, Dr. Surya menjelaskan bahwa letusan juga dapat mengubah suhu dan kadar air laut di sekitar gunung. "Air laut menjadi lebih asam dan suhunya menurun drastis. Kondisi ini mematikan bagi terumbu karang dan fitoplankton yang merupakan dasar rantai makanan laut," tambahnya.

Upaya Evakuasi dan Persiapan Darurat

Pemerintah Daerah Kabupaten Lampung Selatan dan Kabupaten Serang telah menggelar rapat koordinasi untuk mengantisipasi dampak lebih lanjut dari letusan. "Kami telah mempersiapkan beberapa posko darurat di sejumlah titik strategis. Warga di zona merah telah dievakuasi sejak dua hari lalu," ujar Bupati Lampung Selatan, Chusnunia Chalim.

Di sisi lain, PT Angkasa Pura II yang mengelola Bandara Internasional Soekarno-Hatta (Soetta) telah mengantisipasi dampab abu vulkanik. "Kami telah menyiapkan peralatan untuk membersihkan landasan pacu jika terkena abu. Selain itu, kami juga akan memantau kondisi cuaca secara real-time," jelas Kepala Bandara Soetta, Muhammad Awaluddin.

Pihak berwenang mengimbau masyarakat untuk tidak beraktivitas dalam radius 3 km dari puncak Gunung Anak Krakatau. Selain itu, para nelayan juga dilarang melaut di sekitar perairan dekat gunung berapi karena risiko tsunami yang dapat disebabkan oleh runtuhnya material vulkanik ke laut.

Sejarah dan Potensi Bahaya

Gunung Anak Krakatau lahir dari letusan dahsyat Gunung Krakatau pada tahun 1883 yang menewaskan lebih dari 36.000 orang. Letusan tersebut dianggap sebagai salah satu letusan vulkanik terbesar dalam sejarah modern. Sejak itu, Anak Krakatau terus tumbuh dengan aktivitas vulkanik yang periodik.

Letusan terbesar terjadi pada Desember 2018 yang mengakibatkan tsunami dan menewaskan 437 orang. Menurut para ahli, potensi bahaya dari Gunung Anak Krakatau tetap tinggi karena letusannya seringkali disertai dengan aktivitas tsunami akibat longsoran material ke laut.

Dr. Rosa dari Pusat Studi Bencana Universitas Indonesia mengingatkan bahwa letusan seperti ini menunjukkan pentingnya kesadaran bencana di wilayah vulkanik. "Masyarakat harus selalu waspada dan memahami prosedur evakuasi. Persiapan dini adalah kunci untuk mengurangi risiko korban," tegasnya.

Pemerintah berencana melakukan sosialisasi intensif kepada masyarakat sekitar gunung berapi tentang bahaya vulkanik dan cara bertahan diri. Selain itu, penelitian lebih lanjut juga akan dilakukan untuk memahami pola letusan Gunung Anak Krakatau demi mengantisipasi bencana di masa depan.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter