03, 2026
Nasional

Gus Nabil Dorong Bentuk Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal

Gus Nabil mendorong pembentukan Federasi Pencak Silat Hong Kong. Dia ingin warga lokal di Hong Kong ikut pelajari pencak silat hingga menjadi atlet dan pelatih.]]>

Tania Sari
Tania Sari Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Gus Nabil Dorong Bentuk Federasi Pencak Silat Hong Kong, Libatkan Warga Lokal

Pengurus Besar Ikatan Pencak Silat Indonesia (PB IPSI) terus memperluas jejaring diplomasi budaya melalui olahraga. Kali ini, langkah tersebut diwujudkan melalui penjajakan pembentukan federasi pencak silat di Hong Kong. Inisiatif itu digagas oleh Nabil, yang akrab disapa Gus Nabil, seorang penggerak pencak silat sekaligus figur yang aktif mendorong pengembangan seni bela diri tradisional Indonesia di kancah internasional.

Latar Belakang Pendidikan dan Aktivisme Gus Nabil

Gus Nabil dikenal sebagai lulusan University of Hong Kong dengan disiplin ilmu sosiologi. Latar belakang akademis tersebut membuatnya memiliki perhatian besar terhadap dinamika sosial, terutama bagaimana komunitas migran dan warga lokal dapat berinteraksi melalui kegiatan budaya. Menurutnya, pencak silat bukan hanya olahraga, tetapi juga media pemersatu yang mampu menjembatani perbedaan bahasa, latar belakang, dan status sosial.

Ketertarikannya pada pencak silat dimulai sejak masa remaja. Ia menekuni berbagai aliran silat tradisional dan kemudian aktif mengajarkan kepada generasi muda. Di Hong Kong, ia melihat peluang besar untuk memperkenalkan pencak silat kepada masyarakat setempat, bukan hanya kepada diaspora Indonesia.

Mengapa Federasi di Hong Kong Penting

Hong Kong merupakan wilayah dengan populasi beragam, termasuk warga negara asing dari berbagai negara. Selama ini, komunitas pencak silat di Hong Kong masih bersifat sporadis. Latihan dilakukan secara mandiri oleh kelompok-kelompok kecil tanpa payung organisasi resmi yang menaungi. Kondisi ini menyulitkan pengembangan atlet, penyelenggaraan turnamen, serta pengajuan pencak silat sebagai cabang olahraga yang diakui secara formal.

Gus Nabil menilai, pembentukan federasi menjadi kunci agar pencak silat memiliki legalitas, struktur kepengurusan yang jelas, dan akses terhadap dukungan, baik dari pemerintah Indonesia melalui PB IPSI maupun dari otoritas olahraga setempat. "Federasi akan memudahkan koordinasi, pembinaan pelatih, dan sertifikasi wasit. Tanpa wadah resmi, potensi pencak silat di Hong Kong akan sulit berkembang secara optimal," ujarnya dalam sebuah forum diskusi daring.

Melibatkan Warga Lokal, Bukan Hanya Diaspora

Pendekatan yang ditawarkan Gus Nabil berbeda dari pola pengembangan pencak silat di beberapa negara lain. Ia menekankan pentingnya keterlibatan warga lokal Hong Kong sejak tahap awal pembentukan federasi. Menurutnya, keberlanjutan sebuah organisasi olahraga sangat bergantung pada partisipasi masyarakat di tempat latihan itu tumbuh.

"Jika hanya diaspora Indonesia yang aktif, federasi akan rapuh ketika terjadi perubahan demografi. Warga lokal harus menjadi bagian dari kepengurusan, pelatih, dan atlet. Mereka adalah pemilik masa depan pencak silat di Hong Kong," jelas Gus Nabil.

Ia pun mengusulkan sejumlah langkah konkret, seperti mengadakan kelas terbuka bagi warga lokal, menggelar demonstrasi pencak silat di ruang publik, serta menjalin kerja sama dengan sekolah dan pusat komunitas. Selain itu, ia mendorong penerjemahan materi pelatihan ke dalam bahasa Kanton dan Inggris agar lebih mudah dipahami oleh calon peserta non-Indonesia.

Dukungan dari Berbagai Pihak

Gagasan pembentukan federasi ini mendapat sambutan positif dari sejumlah penggiat pencak silat di Hong Kong. Beberapa pelatih yang telah lama mengajar secara mandiri mengaku terbantu dengan adanya inisiatif tersebut. Mereka berharap federasi dapat mengatasi persoalan klasik seperti kurangnya fasilitas latihan dan minimnya akses terhadap kompetisi internasional.

Dari sisi PB IPSI, pembentukan federasi di luar negeri merupakan bagian dari program internasionalisasi pencak silat. Organisasi induk itu telah lama mendorong pengembangan pencak silat di berbagai negara melalui pembinaan pelatih, pengiriman instruktur, dan pengakuan terhadap perguruan silat lokal. Namun, PB IPSI juga menekankan pentingnya kemandirian federasi di negara atau wilayah setempat.

Sejumlah tokoh masyarakat Indonesia di Hong Kong menyatakan dukungan, dengan catatan agar federasi yang dibentuk nantinya bersifat inklusif dan tidak terafiliasi pada kepentingan politik tertentu. Mereka menilai pencak silat harus tetap menjadi warisan budaya yang netral dan terbuka bagi siapa saja.

Tantangan ke Depan

Meski semangatnya tinggi, jalan menuju terbentuknya federasi pencak silat di Hong Kong tidak tanpa hambatan. Beberapa tantangan yang diidentifikasi antara lain keterbatasan lahan untuk latihan rutin, biaya operasional, serta perbedaan aliran atau perguruan yang kerap memunculkan ego sektoral. Gus Nabil menyadari hal itu dan menekankan pentingnya pendekatan musyawarah.

"Kita harus belajar dari pengalaman di negara lain. Federasi bukan alat untuk mendominasi aliran tertentu, melainkan payung bersama. Semua aliran punya tempat," tegasnya.

Ia juga menyoroti pentingnya regenerasi. Menurutnya, federasi harus memberi ruang bagi anak muda untuk memimpin, bukan hanya menjadi peserta. Program pelatihan kepemimpinan, manajemen organisasi, dan komunikasi publik perlu dimasukkan ke dalam agenda pembentukan.

Harapan dan Langkah Selanjutnya

Gus Nabil berencana menggelar pertemuan lanjutan dengan berbagai komunitas pencak silat di Hong Kong dalam beberapa bulan mendatang. Pertemuan itu akan membahas draft anggaran dasar, struktur kepengurusan sementara, serta peta jalan pembinaan atlet jangka panjang. Ia juga akan mengundang perwakilan PB IPSI untuk memberikan masukan teknis.

Jika terealisasi, Hong Kong akan menjadi salah satu wilayah baru yang memiliki federasi pencak silat resmi di kawasan Asia Timur. Langkah ini diharapkan dapat memperkuat posisi pencak silat sebagai warisan budaya takbenda dunia yang diakui UNESCO, sekaligus membuka peluang kerja sama olahraga lintas negara.

Bagi Gus Nabil, pembentukan federasi bukan sekadar proyek organisasi. Ia memandangnya sebagai upaya memperkenalkan nilai-nilai luhur pencak silat, seperti disiplin, hormat, dan persaudaraan, kepada masyarakat luas. "Pencak silat mengajarkan kita untuk menang tanpa merendahkan lawan. Nilai itu universal dan relevan di mana pun," pungkasnya.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Tania Sari

Reporter Hukum. Meliput Mahkamah Konstitusi, judicial review, dan dinamika legislasi.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter