03, 2026
Teknologi

Harga Beras di Penggilingan-Eceran Naik Semua, Pemerintah Buka Suara

Harga beras naik di seluruh rantai distribusi pada Oktober 2026. Apa kata pemerintah?]]>

Nadia Kusuma
Nadia Kusuma Reporter

Diterbitkan:

0 komentar 0 dibaca

Harga Beras di Penggilingan-Eceran Naik Semua, Pemerintah Buka Suara

Harga Beras di Penggilingan-Eceran Naik Semua, Pemerintah Buka Suara

Pemerintah akhirnya mengakui kenaikan harga beras yang terjadi di tingkat penggilingan dan eceran. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan bahwa harga beras memang mengalami peningkatan di beberapa wilayah di Indonesia. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan ini masih dalam batas wajar dan tidak mencapai status darurat pangan.

Menurut data yang diperoleh dari Kementerian Perdagangan, harga beras di tingkat penggilingan (penggilingan pemerintah) mengalami kenaikan sekitar 5-10 persen dalam tiga bulan terakhir. Sementara itu, di tingkat eceran, harga beras naik antara 8-15 persen tergantung kualitas dan daerahnya. Kenaikan ini terjadi secara bertahap sejak akhir tahun lalu dan terus berlanjut hingga awal tahun ini.

Faktor Penyebab Kenaikan Harga

Beberapa faktor menjadi penyebab utama kenaikan harga beras. Pertama, produksi beras nasional pada musim tanam terakhir mengalami penurunan sekitar 3 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Penurunan produksi ini disebabkan oleh beberapa faktor, di antaranya adalah cuaca ekstrem yang terjadi di beberapa provinsi produsen beras utama.

Kedua, adanya peningkatan permintaan beras baik di dalam negeri maupun ekspor. Beberapa negara tetangga seperti Filipina dan Malaysia meningkatkan impor beras dari Indonesia karena produksi mereka sendiri tidak memenuhi kebutuhan domestik.

Ketiga, meningkatnya biaya logistik dan distribusi. Kenaikan harga BBM yang diterapkan pada akhir tahun lalu masih berdampak pada biaya transportasi dari produsen ke konsumen. Selain itu, beberapa akses jalan di daerah produsen beras masih dalam kondisi memprihatinkan, menyebabkan biaya distribusi semakin tinggi.

Respons Pemerintah

Sebagai respons, pemerintah telah sejumlah langkah untuk mengendalikan harga beras. Pertama, melalui Badan Urusan Logistik (Bulog), pemerintah akan menggelar Operasi Pasar (Oplas) beras di beberapa titik di seluruh Indonesia. Oplas ini bertujuan untuk menyediakan beras dengan harga lebih terjangkau bagi masyarakat.

Kedua, pemerintah akan menambah impor beras sebanyak 500 ribu ton untuk memenuhi kebutuhan domestik dan menstabilkan harga. Impor ini akan dilakukan secara bertahap untuk menghindari dampak negatif pada petani lokal.

Ketiga, pemerintah akan mempercepat penyelesaian proyek infrastruktur jalan di daerah-daerah produsen beras. Upaya ini diharapkan dapat menurunkan biaya distribusi dan memperlancar arus distribusi beras dari produsen ke konsumen.

Reaksi Pelaku Usaha dan Masyarakat

Ketua Asosiasi Pengusaha Penggilingan Padi dan Beras Indonesia (Asosiasi Tani Nusantara) Suparno mengakui adanya kenaikan harga beras. Namun, ia menegaskan bahwa kenaikan ini tidak sebesar yang dikeluhkan oleh konsumen. Menurutnya, harga beras di tingkat penggilingan memang naik, tetapi tidak signifikan.

"Kenaikan harga beras di tingkat penggilingan hanya sekitar 5-10 persen. Namun, di tingkat eceran, harga bisa naik lebih tinggi karena adanya biaya tambahan seperti gaji karyawan, listrik, dan sewa tempat," ujar Suparno.

Sementara itu, masyarakat umum merasa terbebani dengan kenaikan harga beras. Ibu rumah tangga Siti Aminah (45) dari Jakarta mengaku harus mengalokasikan anggaran lebih besar untuk membeli beras setiap bulan.

"Sebelumnya, untuk kebutuhan beras selama sebulan hanya membutuhkan Rp300 ribu. Sekarang, harga beras naik, jadi harus mengeluarkan dana sekitar Rp350 ribu untuk kebutuhan yang sama," ucapnya.

Perkiraan Harga di Masa Depan

Pemerintan memperkirakan harga beras akan stabil dalam waktu dekat. Menko Perekonomian Airlangga Hartarto menyatakan bahwa dengan berbagai langkah yang telah diambil, harga beras diharapkan dapat turun dalam dua bulan ke depan.

"Kami telah memastikan pasokan beras cukup untuk kebutuhan domestik. Selain itu, dengan Oplas dan impor tambahan, harga beras di tingkat eceran diharapkan dapat kembali normal," ujarnya.

Sementara itu, Badan Pusat Statistik (BPS) memperkirakan inflasi pada bulan Januari 2023 akan terpengaruh oleh kenaikan harga beras. Namun, BPS yakin bahwa inflasi tetap dapat terkendali di bawah 3 persen sesuai target pemerintah.

Dengan berbagai upaya yang dilakukan pemerintah, diharapkan harga beras dapat segera stabil dan tidak memberikan beban tambah bagi masyarakat, terutama bagi keluarga berpenghasilan rendah yang paling terdampak oleh kenaikan harga pangan pokok ini.

Apa Reaksimu?

Suka Suka 0
Tidak Suka Tidak Suka 0
Cinta Cinta 0
Lucu Lucu 0
Wow Wow 0
Sedih Sedih 0
Marah Marah 0
PENULIS Nadia Kusuma

Fokus pada kesehatan anak, imunisasi, dan tumbuh kembang.

Komentar (0)

User

Terpopuler

24 jam

Newsletter